Jemaah Haji Gunungkidul Tiba di Makkah, Siap Jalani Puncak Ibadah
361 jemaah haji Gunungkidul dipastikan sehat dan siap menjalani puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina
Foto ilustrasi. /Antara Foto
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL -– Kapanewon Gedangsari tak hanya rawan tanah longsor saat musim hujan. Namun juga ada potensi gempa bumi karena di aliran Kali Ngalang ditemukan banyak sekali sesar yang masih aktif.
BACA JUGA : Situs Ngalang Gunungkidul untuk Wisata Edukasi
Koordinator Georesearch Plosodoyong Camp Field, Priharjo Sanyoto mengatakan, sudah ada kajian peta geologi di wilayah Gedangsari, khususnya di aliran Kali Ngalang sepanjang 15 kilometer. Pemetaan dilakukan sekitar 1992 dan hasilnya dikeluarkan pada 1995.
“Sudah ada peta geologinya dengan skala 1:100.000,” kata Priharjo, Minggu (13/11/2022).
Dia menjelaskan, didalam pemetaan ini ditemukan banyak sekali patahan-patahan atau sesar aktif di alur sungai. Saking banyaknya sesar ini, maka Kali Ngalang dikenal dalam istilah geologi sebagai wilayah sesar retak seribu.
“Mirip dengan istilah gunung seribu di Gunungkidul, karena memang di Kali Ngalang banyak sekali ditemukan sesar-sesar yang masih aktif,” katanya.
Menurutnya, karakteristik sesar ini bermacam-macam mulai dari geser, naik dan lain sebagainya. Ia menegaskan informasi tentang keberadaan sesar yang berpotensi menyebabkan gempa bumi bukan untuk menakut-nakuti, akan tetapi sebagai upaya mitigasi agar dampak dari bencana bisa ditekan sekecil mungkin.
“Sudah saya sampaikan ke perwakilan dari pemkab terkait dengan potensi kerwanan gempa bumi di wilayah Gunungkidul,” katanya.
Dia menambahkan, sebagai orang yang menggeluti bidang geologi, keberadaan sesar bisa dilihat secara kasat mata melalui terbentuknya aliran sungai. Pola aliran sungai menjadi penanda sekaligus bercerita tentang peristiwa geologi yang terjadi di bawahnya.
“Jadi kenapa alur sungai lurus, berbelok ke kanan kiri, meliuk-liuk semua ada ceritanya dan itu berkaitan dengan masalah geologi,” katanya.
Pri mengungkapkan tidak ada yang tahu persis kapan terjadi bencana, khususnya gempa bumi. Terlebih lagi adanya gempa bumi di suatu wilayah bisa memicu terjadinya reaksi sesar-sesar lainnya di kawasan tersebut.
“Jadi ada pengaruhnya. Tapi, tetap saja tidak ada yang tahu kapan akan terjadi gempa,” katanya.
Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana, BPBD Gunungkidul, Agus Wibawa Arifianto mengatakan, untuk mitigasi bencana, khususnya gempa bumi sudah dilakukan. Salah satunya dengan adanya pemasangan alat deteksi gempa di kantor BPBD Gunungkidul.
Alat ini, sambung dia, akan mencatat aktivitas kegempaan di Gunungkidul. Data yang terekam secara otomatis terkirim ke sistem yang dimiliki Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
“Kami juga terus berupaya memperluas jaringan kalurahan tangguh bencana di Gunungkidul yang didalamnya ada forum pengurangan risiko bencana,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
361 jemaah haji Gunungkidul dipastikan sehat dan siap menjalani puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina
Polda Jateng bongkar koperasi ilegal BLN. Dana Rp4,6 triliun, 41 ribu korban, dua tersangka ditetapkan.
JFF 2026 hadir di Jogja, padukan edukasi finansial, konser musik, dan lari amal untuk generasi muda.
Kasus TBC di Kulonprogo meningkat. Dinkes dan PDPI gelar cek kesehatan gratis untuk deteksi dini.
Polisi ungkap penyebab kecelakaan KRL di Bekasi. Sopir taksi dinilai lalai, 16 orang tewas.
Buruh harian di Sleman nekat mencuri TV dan water heater dari kos. Pelaku kabur usai tak bayar sewa.