Bayi Gunungkidul Dijual Rp21 Juta, Panewu Patuk: Bukan karena Masalah Ekonomi

David Kurniawan
David Kurniawan Minggu, 15 Januari 2023 21:47 WIB
Bayi Gunungkidul Dijual Rp21 Juta, Panewu Patuk: Bukan karena Masalah Ekonomi

Ilustrasi. /Everypixel

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Bayi yang baru berumur satu hari yang lahir di sebuah rumah sakit di Jogja dijual Rp21 juta di Klaten. Si penjual bayi menyerahkan uang Rp5 juta kepada orang tua bayi dan surat pernyataan adopsi.

Bayi tersebut lahir di sebuah rumah sakit di Jogja dari orang tua yang tinggal di Gunungkidul. Seorang ibu muda asal Klaten menjual bayi dari orang tua yang tinggal di Gunungkidul seharga Rp21 juta.

Panewu Patuk Martono, Imam Santoso memastikan kasus jual beli bayi yang melibatkan seorang warga di Patuk bukan karena masalah ekonomi. Dia meminta kasus ini menjadi pelajaran sehingga kejadian yang sama tidak terulang.

“Orang tuanya merasa kasihan karena ada yang belum memiliki anak selama belasan tahun. Tetapi, ternyata itu hanya sebagai dalih saja,” kata Martono, Minggu (15/1/2023).

BACA JUGA: Bayi Lahir 1 Hari di Jogja Dijual Rp21 Juta dengan Kedok Adopsi, Ini Proses Adopsi yang Benar

Dia pun menyarankan apabila benar ingin menyerahkan anaknya untuk diadopsi, agar diserahkan kepada lingkungan sekitar. Selain itu, juga harus melalui proses yang resmi. “Ya kalau orang dekat akan ketahuan dirawat dengan benar. Beda dengan orang jauh karena malah bisa terjadi hal yang lain,” katanya.

Kepada wartawan, SB mengaku tertipu karena sejak awal tidak ingin memperjualbelikan bayinya. Perihal menyerahkan bayinya dikarenakan niat tulus ingin membantu karena ada orang yang mengaku belum dikaruniai anak setelah sebelas tahun menikah. “Pak Lurah, Pak Panewu saya mohon maaf. Saya tidak ada niat untuk memperjualebelikannya dan tidak ada transaksinya,” katanya.

Menurut dia, baru pertama kali bertemu dengan tersangka yang memperjualbelikan bayinya. Adapun pertemuan berlangsung pada Selasa (10/1/2023) pada saat akan mengambil bayinya.

“Awalnya komunikasi via medsos, tapi saling bertukar nomor telepon. Pada saat lahiran, saya hubungi dan diminta membagikan lokasi keberadaan rumah sakit di tempat melahirkan,” katanya.

Dia pun merasa tertipu karena setelah itu dipanggil oleh tim dari Polres Klaten atas dugaan jual beli anak. “Saya diperiksa dari Selasa malam hingga Rabu. Keterangan yang saya berikan sama, saya tidak berniat menjual karena murni ingin memberikan karena ada yang meminta dengan dalih belum punya anak,” katanya.

SB menambahkan, pada saat bertemu dengan tersangka diminta untuk membuat surat pernyataan tidak meminta anaknya lagi. Ia juga sempat mempertanyakan cara untuk bertemu pada saat ingin melihat perkembangan si bayi.

Namun sambung, dia, oleh pelaku permintaan terebut akan dikonsultasikan kepada suaminya terlebih dahulu. “Setelah serah terima, malah berurusan dengan polisi. Tapi, saya tegaskan tidak ada niat untuk menjualnya,” ujarnya.

Disinggung mengenai kelanjutan bayinya, ia belum bisa memikirkannya. SB berdalih dengan si ibu bayi belum terikat hubungan perkawinan. “Saya belum bisa memikirkannya. Yang jelas, sekarang si bayi bersama ibunya di Jogja,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Arief Junianto
Arief Junianto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online