Pesona 8 Etnis Sumatra Utara Curi Perhatian Turis di Malioboro
Delapan etnis Sumatra Utara memukau wisatawan dalam Pesona Budaya Sumatra Utara di Malioboro dengan pawai budaya dan tari kolosal.
Wajah lima pelaku klitih atau kekarasan jalanan di Titik Nol Jogja diperlihatkan di Mapolresta Jogja, Jumat (10/2/2023)./Harian Jogja-Gigih M. Hanafi
Harianjogja.com, JOGJA—Insan pariwisata Jogja sambat soal insiden kekerasan jalanan atau yang lebih dikenal dengan fenomena klitih di kawasan Titik Nol Jogja beberapa waktu lalu. Peristiwa yang telah diungkap jajaran kepolisian itu dinilai mencoreng citra pariwisata Jogja.
"Klitih ini kan sangat identik dengan Jogja dan sepertinya hanya ada di Jogja padahal kalau kita ganti kata itu dengan kejahatan jalanan atau dengan yang lain, di wilayah lain juga ada," kata Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah DIY GKR Bendara dalam acara Media Night Out dilihat Jumat (10/2/2023).
Menurut Bendara, dampak yang dimunculkan dari insiden itu berimbas pada citra pariwisata di wilayahnya. Padahal belum lama ini Jogja menjadi tuan rumah Asean Tourism Forum (ATF) guna mengangkat potensi sektor itu setelah dihantam pandemi. Kekerasan jalanan membuat upaya mempromosikan wisata Jogja dan sekitarnya terhambat
Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia DIY Bobby Ardiyanto Setyo Aji mengapresiasi upaya kepolisian yang dalam waktu singkat mengungkap dan menangkap pelaku insiden itu. Tindakan ini menurutnya sesuai dengan konsep pariwisata Jogja yang kini mengusung road to Jogjakarta as responsibility tourism.
"Kami juga akan perkuat untuk kolaborasi dengan petugas keamanan, makanya tidak ada alasan lagi bagi kejahatan atau aksi kekerasan yang memberikan dampak bagi sektor pariwisata kita," ujar dia.
Bobby juga mengaku heran dengan upaya masyarakat yang seolah membiarkan insiden klitih terus berkembang. Dalam insiden cekcok yang terjadi di Titik Nol Jogja itu, suasana di lokasi kejadian menurutnya masih cukup ramai namun tak satu pun warga yang melaporkan ke aparat.
"Ini jadi otokritik saya bagi masyarakat Jogja. Karena mesin penggerak ekonomi Jogja itu hanya dua yakni pendidikan dan pariwisata. Kalau dari sisi keamanan ini tidak kita jaga maka mesin itu akan mati, orang tidak akan percaya kalau fenomena ini tidak bisa kita bendung," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Delapan etnis Sumatra Utara memukau wisatawan dalam Pesona Budaya Sumatra Utara di Malioboro dengan pawai budaya dan tari kolosal.
Tambahan dana transfer ke daerah telah dihitung pemerintah dan kini menunggu arahan Presiden Prabowo Subianto sebelum diumumkan.
Data pariwisata DIY dinilai belum utuh. Sensus Ekonomi 2026 diharapkan memperbaiki kualitas data untuk menyusun kebijakan yang lebih tepat sasaran.
Kodim 0706/Temanggung menyalurkan 5.000 liter air bersih bagi warga terdampak kekeringan di Temanggung saat debit sumber air mulai menurun.
Indonesia All Stars siap menghadapi Aston Villa di SUGBK pada 1 Agustus 2026. Brandon Scheunemann masuk skuad bersama Ezra Walian, Zé Valente, dan Hokky Caraka.
RUU Perampasan Aset disebut ditolak DPR ramai di media sosial. Pengamat menegaskan pembahasan masih berjalan dan mengingatkan publik agar tidak terjebak hoaks.