Survei SPPG Bantul Dimulai Akhir September, MBG Dipantau Ketat
Pemkab Bantul menyiapkan survei berkala untuk mengevaluasi SPPG dan pelaksanaan MBG, termasuk jumlah, distribusi, kemasan, dan waktu konsumsi.
Wajah lima pelaku klitih atau kekarasan jalanan di Titik Nol Jogja diperlihatkan di Mapolresta Jogja, Jumat (10/2/2023)./Harian Jogja-Gigih M. Hanafi
Harianjogja.com, JOGJA—Insan pariwisata Jogja sambat soal insiden kekerasan jalanan atau yang lebih dikenal dengan fenomena klitih di kawasan Titik Nol Jogja beberapa waktu lalu. Peristiwa yang telah diungkap jajaran kepolisian itu dinilai mencoreng citra pariwisata Jogja.
"Klitih ini kan sangat identik dengan Jogja dan sepertinya hanya ada di Jogja padahal kalau kita ganti kata itu dengan kejahatan jalanan atau dengan yang lain, di wilayah lain juga ada," kata Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah DIY GKR Bendara dalam acara Media Night Out dilihat Jumat (10/2/2023).
Menurut Bendara, dampak yang dimunculkan dari insiden itu berimbas pada citra pariwisata di wilayahnya. Padahal belum lama ini Jogja menjadi tuan rumah Asean Tourism Forum (ATF) guna mengangkat potensi sektor itu setelah dihantam pandemi. Kekerasan jalanan membuat upaya mempromosikan wisata Jogja dan sekitarnya terhambat
Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia DIY Bobby Ardiyanto Setyo Aji mengapresiasi upaya kepolisian yang dalam waktu singkat mengungkap dan menangkap pelaku insiden itu. Tindakan ini menurutnya sesuai dengan konsep pariwisata Jogja yang kini mengusung road to Jogjakarta as responsibility tourism.
"Kami juga akan perkuat untuk kolaborasi dengan petugas keamanan, makanya tidak ada alasan lagi bagi kejahatan atau aksi kekerasan yang memberikan dampak bagi sektor pariwisata kita," ujar dia.
Bobby juga mengaku heran dengan upaya masyarakat yang seolah membiarkan insiden klitih terus berkembang. Dalam insiden cekcok yang terjadi di Titik Nol Jogja itu, suasana di lokasi kejadian menurutnya masih cukup ramai namun tak satu pun warga yang melaporkan ke aparat.
"Ini jadi otokritik saya bagi masyarakat Jogja. Karena mesin penggerak ekonomi Jogja itu hanya dua yakni pendidikan dan pariwisata. Kalau dari sisi keamanan ini tidak kita jaga maka mesin itu akan mati, orang tidak akan percaya kalau fenomena ini tidak bisa kita bendung," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Bantul menyiapkan survei berkala untuk mengevaluasi SPPG dan pelaksanaan MBG, termasuk jumlah, distribusi, kemasan, dan waktu konsumsi.
Komisi C DPRD DIY mengecek talud bronjong 74 meter di Kali Kuning Sleman sebagai antisipasi erosi dan longsor saat musim hujan.
Krisna Septiana lolos final kayak tunggal putra Asian Games Aichi-Nagoya 2026 meski finis peringkat 15 pada semifinal.
Polisi memperluas pemeriksaan kasus dugaan pungli food truck di Alkid Jogja. Hingga 30 September 2026, 14 orang telah dimintai keterangan.
Kemarau di Sleman diprediksi lebih panjang hingga Desember. DP3 meminta petani mengatur pola tanam dan mengantisipasi keterbatasan air.
Jalur pendakian Torean dan Senaru Gunung Rinjani masih ditutup sementara setelah kebakaran berdampak pada 1.098,75 hektare kawasan.