Tawon Jadi Fauna Khas Gunungkidul, Bukan Belalang Goreng
Tawon resmi menjadi fauna khas Gunungkidul menggantikan anggapan belalang sebagai ikon daerah, sesuai Perda Nomor 3 Tahun 1999.
Pelaksanaan ASPD di Kota Jogja, beberapa waktu lalu - Ilustrasi/Antara
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Pendidikan Gunungkidul menolak wacana penghapusan Asesmen Standarisasi Pendidikan Daerah (ASPD) seperti disampaikan Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi, Nadiem Makarim. Penolakan salah satunya karena tes ini untuk menjaga motivasi para siswa agar semangat belajar.
“ASPD tidak hanya untuk standarisasi mutu pendidikan, tapi juga jadi cemeti [cambuk] bagi para guru guna memotivasi anak-anak agar giat belajar,” kata Kepala Dinas Pendidikan Gunungkidul, Nunuk Setyowati kepada Harianjogja.com, Jumat (2/6/2023).
BACA JUGA : Gegara Sajam, Siswa SMP Jogja Ini Jalani ASPD dari Tempat
Menurut dia, ketiadaan Ujian Nasional dan penerimaan peserta didik baru yang menggunakan jalur zonasi sangat berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa. Oleh karenanya, saat UN dihapuskan diadakan ASPD.
“Ya kalau tidak ada ASPD, bagaimana mau motivasi belajar anak,” katanya.
Nunuk berpendapat apabila ada kekurangan dalam pelaksanaan ASPD, seharusnya bukan dihapus. “Namun bisa dilakukan perbaikan-perbaikan sehingga pelaksanaan bisa lebih baik lagi,” katanya.
Anggota Komisi D DPRD Gunungkidul, Ery Agustin S menyampaikan hal yang sama. Menurut dia, ASPD masih sangat relevan dilaksanakan karena tidak hanya menjadi standarisasi mutu pendidikan, tapi juga sebagai sarana menjaga motivasi belajar siswa.
“Sekarang kayak tidak ada beban karena penting masuk bisa lulus. Terus nyari sekolah juga dengan model zonasi sehingga dapat diterima di sekolah yang dekat rumah,” katanya.
Ery berpendapat, ASPD tidak harus diharus dihapus tapi bisa lebih disempurnakan. “Ya kalau tidak ada, terus bagaimana mau memotivasi siswa agar tetap belajar sehngga bisa meraih cita-cita yang diinginkan,” katanya.
BACA JUGA : PPDB 2022: Ribuan Pelajar dari Luar Derah Berebut Sekolah
Dia pun membandingkan pada saat dirinya masih sekolah. Siswa di tingkat akhir akan belajar lebih giat karena untuk penentuan kelulusan dan mencari sekolah baru di jenjang yang lebih tinggi.
Hal ini dikarenakan nilai diperoleh saat ujian akhir menjadi syarat mencari sekolah baru yang diinginkan. “Dulu hanya ada EBTA [evaluasi belajar tahap akhir] dan Ebtanas [evaluasi belajar tahap akhir nasional]. Jadi kalau nilainya kurang bagus, maka tidak bisa masuk ke sekolah favorit,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tawon resmi menjadi fauna khas Gunungkidul menggantikan anggapan belalang sebagai ikon daerah, sesuai Perda Nomor 3 Tahun 1999.
Sebanyak 9.000 onthelis dan onthelista dari berbagai penjuru Indonesia memeriahkan rangkaian International Veteran Cycle Association (IVCA) Rally
Rupiah melemah ke Rp17.717 per dolar AS dipicu ekspektasi suku bunga The Fed tinggi lebih lama dan sentimen geopolitik global.
Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Perguruan Tinggi (PPKPT) UPN Veteran Yogyakarta mengungkapkan ada tujuh dosen yang diduga terlibat kasus kekerasan se
Turnamen padel internasional FIP Bronze di Jogja diserbu lebih dari 200 peserta dan dorong sport tourism DIY.
Jadwal bola malam ini 22–23 Mei 2026: Arema vs PSIM, final Jepang U-17 vs China, hingga laga Eropa.