Pilur Gunungkidul Digelar 26 September, Pemkab Minta Logistik Tuntas H-2
Pilur serentak di 31 kalurahan Gunungkidul digelar 26 September 2026. Pemkab meminta seluruh logistik, terutama surat suara, siap H-2.
Pelaksanaan ASPD di Kota Jogja, beberapa waktu lalu - Ilustrasi/Antara
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Pendidikan Gunungkidul menolak wacana penghapusan Asesmen Standarisasi Pendidikan Daerah (ASPD) seperti disampaikan Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi, Nadiem Makarim. Penolakan salah satunya karena tes ini untuk menjaga motivasi para siswa agar semangat belajar.
“ASPD tidak hanya untuk standarisasi mutu pendidikan, tapi juga jadi cemeti [cambuk] bagi para guru guna memotivasi anak-anak agar giat belajar,” kata Kepala Dinas Pendidikan Gunungkidul, Nunuk Setyowati kepada Harianjogja.com, Jumat (2/6/2023).
BACA JUGA : Gegara Sajam, Siswa SMP Jogja Ini Jalani ASPD dari Tempat
Menurut dia, ketiadaan Ujian Nasional dan penerimaan peserta didik baru yang menggunakan jalur zonasi sangat berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa. Oleh karenanya, saat UN dihapuskan diadakan ASPD.
“Ya kalau tidak ada ASPD, bagaimana mau motivasi belajar anak,” katanya.
Nunuk berpendapat apabila ada kekurangan dalam pelaksanaan ASPD, seharusnya bukan dihapus. “Namun bisa dilakukan perbaikan-perbaikan sehingga pelaksanaan bisa lebih baik lagi,” katanya.
Anggota Komisi D DPRD Gunungkidul, Ery Agustin S menyampaikan hal yang sama. Menurut dia, ASPD masih sangat relevan dilaksanakan karena tidak hanya menjadi standarisasi mutu pendidikan, tapi juga sebagai sarana menjaga motivasi belajar siswa.
“Sekarang kayak tidak ada beban karena penting masuk bisa lulus. Terus nyari sekolah juga dengan model zonasi sehingga dapat diterima di sekolah yang dekat rumah,” katanya.
Ery berpendapat, ASPD tidak harus diharus dihapus tapi bisa lebih disempurnakan. “Ya kalau tidak ada, terus bagaimana mau memotivasi siswa agar tetap belajar sehngga bisa meraih cita-cita yang diinginkan,” katanya.
BACA JUGA : PPDB 2022: Ribuan Pelajar dari Luar Derah Berebut Sekolah
Dia pun membandingkan pada saat dirinya masih sekolah. Siswa di tingkat akhir akan belajar lebih giat karena untuk penentuan kelulusan dan mencari sekolah baru di jenjang yang lebih tinggi.
Hal ini dikarenakan nilai diperoleh saat ujian akhir menjadi syarat mencari sekolah baru yang diinginkan. “Dulu hanya ada EBTA [evaluasi belajar tahap akhir] dan Ebtanas [evaluasi belajar tahap akhir nasional]. Jadi kalau nilainya kurang bagus, maka tidak bisa masuk ke sekolah favorit,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pilur serentak di 31 kalurahan Gunungkidul digelar 26 September 2026. Pemkab meminta seluruh logistik, terutama surat suara, siap H-2.
Bulog memastikan Beras Kita Premium dapat digunakan untuk kebutuhan MBG sesuai arahan pemerintah, sementara beras fortifikasi bukan pengganti beras premium.
Penempatan lintas daerah manajer KDKMP dilakukan untuk pemerataan SDM. Status tetap berlaku dan lokasi bisa disesuaikan dengan domisili.
Indonesia baru memiliki 66 dokter aritmia untuk sekitar 280 juta penduduk. Akses deteksi dini dan terapi gangguan irama jantung perlu diperluas.
Jadwal PSIM Jogja vs Persija pada 10 Oktober 2026 dimajukan ke pukul 15.30 WIB di Stadion Sultan Agung karena pertimbangan keamanan.
SPP-TDLN mulai memungut PPN transaksi digital luar negeri sejak 25 September 2026 dengan melibatkan perbankan dan fintech.