Tiket Ludes 15 Menit, MJM 2026 Siap Dongkrak Wisata Jogja
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
Ilustrasi Gunung Merapi./Ist BPPTKG
Harianjogja.com, SLEMAN—Guguran awan panas yang terjadi dalam beberapa hari terakhir mengubah morfologi kubah lava Gunung Merapi. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) memastikan perubahan ini tidak memengaruhi rekomendasi bahaya.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso menjelaskan selama pekan ini terjadi satu kali awan panas guguran pada Rabu (5/7/2023) pukul 20.26 WIB ke arah barat daya atau hulu Kali Bebeng dengan jarak luncur 2.700 meter, yang menyebabkan hujan abu tipis di lereng utara.
Selain itu, guguran lava teramati sebanyak 117 kali ke arah barat daya atau hulu Kali Bebeng dengan jarak luncur maksimal 2.000 meter dan suara guguran terdengar 27 kali dari pos Babadan dengan intensitas kecil hingga sedang.
Aktivitas ini membuat morfologi kubah barat daya mengalami sedikit perubahan, sedangkan untuk kubah tengah tidak teramati perubahan yang signifikan. Berdasarkan foto udara tanggal 24 Juni 2023, volume kubah barat daya terukur sebesar 2.465.900 meter kubik dan kubah tengah sebesar 2.346.500 meter kubik.
BACA JUGA: Morfologi Kubah Barat Daya Gunung Merapi Berubah, Ini Penjelasan BPPTKG
Meski demikian, dia mengatakan aktivitas guguran tersebut hanya berdampak pada perubahan morfologi kubah lava dan volumenya. Sedangkan pada rekomendasi bahaya tidak berubah. “Wilayah bahaya tidak berubah,” ujarnya, Minggu (9/7/2023).
Wilayah bahaya dan rekomendasi bahaya tidak mengalami perubahan. Dalam rilis terbarunya pada Minggu (9/7/2023), BPPTKG menjelaskan rekomendasi bahaya Gunung Merapi yakni ktivitas vulkanik Gunung Merapi masih cukup tinggi berupa aktivitas erupsi efusif. Status aktivitas ditetapkan dalam tingkat Siaga. Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas.
Adapun wilayah bahaya terdiri dari sektor selatan–barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 km. Sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km.
Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak. Pemerintah Kabupaten Sleman, Magelang, Boyolali dan Klaten agar melakukan upaya–upaya mitigasi dalam menghadapi ancaman bahaya erupsi Gunung Merapi yang terjadi saat ini.
Masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya. Masyarakat agar mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Merapi serta mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
Jadwal lengkap KRL Solo–Jogja 29 Agustus 2026 dari Palur hingga Tugu. Simak jam keberangkatan terbaru dan imbauan KAI.
Timnas basket Indonesia mengalahkan Singapura 80-54 di Pra-Kualifikasi FIBA Asia Cup 2029. Indonesia langsung memimpin Grup C.
BPN DIY memantau kasus dugaan mafia tanah yang menimpa keluarga almarhum Komaridin di Sleman dan telah menyerahkan warkah tanah kepada Polda DIY.
The Jakmania memboikot laga Persija vs Brisbane Roar karena kenaikan harga tiket. Persija mengalihkan tiket jatah suporter ke penjualan umum.
Program Makan Bergizi Gratis atau MBG di DIY diperkuat edukasi gizi. Budi Waljiman mendorong SPPG tak hanya membagikan makanan, tetapi...