Skema Droping Air di Gunungkidul Berubah, Kapanewon Jadi Prioritas
BPBD Gunungkidul mengubah skema droping air bersih dengan memprioritaskan anggaran kapanewon menghadapi kemarau panjang 2026.
Pengisian air bersih ke bak penampungan warga di Dusun Tungu, Girimulyo, Panggang, Rabu (13/7/2023)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Warga Dusun Tungu, Kalurahan Girimulyo terpaksa membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Harga per tangki dengan kapasitas 5.000 liter di kisaran Rp150.000 hingga Rp200.000.
Ketua RT01/RW01, Dusun Tungu, Girimulyo, Rahmadi mengatakan, saat kemarau warga biasa membeli air bersih. Ketiadaan sumber air menjadi penyebab wilayahnya kekurangan air.
“Kalau musim hujan ada air hujan yang bisa ditampung untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, tapi kalau kemarau kami terpaksa membelinya,” kata Rahmadi kepada wartawan, Kamis (13/7/2023).
Menurut dia, upaya mencari sumber air sudah dilakukan dengan melibatkan tim ahli. Kendati demikian, proses tersebut tidak membuahkan hasil karena di sekitar permukiman tidak ditemukan sumber air.
“Ada satu sumber air, tapi lokasinya dekat laut. Jaraknya sekitar enam kilometer dari rumah warga sehingga tidak bisa dimanfaatkan. Butuh biaya besar untuk mengangkatnya,” katanya.
Rahmadi mengungkapkan aliran air PDAM sudah masuk di wilayah tersebut. Namun, pelayanan belum optimal karena satu RT hanya terdapat dua atau tiga instalasi. “Instalasi ini digunakan secara bergantian oleh warga. Tetapi, alirannya juga tidak lancar,” katanya.
Menurut dia, warga terpaksa membeli air bersih saat kemarau. Harganya bervariasi dan sangat bergantung dengan jarak rumah dengan jalan.
Warga yang rumahnya dekat jalan hanya perlu membayar Rp150.000 per tangki berkapasitas 5.000 liter. Namun, apabila jarak rumah mereka jauh, harga air lebih mahal hingga mencapai Rp200.000 per tangkinya.
BACA JUGA: Penggeledahan Rumah Kepala Dispertaru DIY di Kasus Tanah Kas Desa, Sultan: Saya yang Minta
“Mau bagaimana lagi? Kami harus membeli karena memang instalasi PDAM belum bisa diandalkan. Sedangkan bantuan air bersih yang masuk juga tidak banyak,” katanya.
Rahmadi menambahkan, satu tangki biasanya dipergunakan hingga dua minggu sehingga dalam waktu satu bulan warga membeli dua kali. “Ini sudah termasuk untuk memenuhi kebutuhan ternak dan segala kebutuhan lainnya,” katanya.
Dia berharap layanan PDAM bisa dioptimalkan sehingga kebutuhan air bersih masyarakat bisa tercukupi. "Layanan PDAM belum bisa optimal. Seringkali macet dan pemanfaatan harus bergantian dengan warga lainnya,” katanya.
Direktur Utama PDAM Tirta Handayani, Toto Sugiharto, mengatakan layanan PDAM masih butuh dioptimalkan. Ia mengaku sudah membuat perencanaan dengan memanfaatkan potensi sumber sungai bawah tanah di Gunungkidul.
PDAM akan meningkatkan kapasitas produksi di sumber Ngobaran di Kalurahan Kanigoro, Saptosari. Ia menyakini dengan peningkatan tersebut, layanan di wilayah seperti Pangang, Purwosari, Paliyan dan Saptosari bisa lebih optimal lagi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul mengubah skema droping air bersih dengan memprioritaskan anggaran kapanewon menghadapi kemarau panjang 2026.
UMKM di RTP Bulak Tabak Kulonprogo mengeluh sepi pembeli saat musim haji 2026, dampak ekonomi dari embarkasi belum terasa.
Polda DIY lakukan asistensi kasus Shinta Komala di Sleman. Dua perkara diusut, polisi pastikan penanganan sesuai SOP.
DPRD DIY memastikan tidak ada pemberhentian guru non-ASN. Penugasan diperpanjang hingga 2026, kesejahteraan tetap dijaga.
Jumlah menara telekomunikasi di Bantul capai 300 unit. Diskominfo sebut minat investasi mulai menurun seiring kebutuhan yang tercukupi.
X batasi unggahan hanya 50 per hari untuk akun gratis. Kebijakan ini dorong pengguna beralih ke layanan berbayar.