PAD Wisata Gunungkidul Berpotensi Tembus Rp52 Miliar Tahun Ini
Pemkab Gunungkidul berencana menaikkan target PAD wisata menjadi Rp52 miliar setelah realisasi pendapatan melampaui target tahunan pada semester pertama 2026.
Gejala Antraks - ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul masih menunggu hasil pengentesan dua orang suspek antraks, warga Dusun Semuluh, Ngeposari.
Hasil penyelidikan diketahui keduanya sempat menyembelih dan mengkonsumsi daging kambing sebelum muncul gejala mirip penyakit antraks.
Kepala Dinkes Gunungkidul, Dewi Irawaty mengatakan, usai mendapatkan laporan terkait dugaan kasus antraks di Dusun Semuluh, pihaknya langsung melakukan pemeriksaan dan mengambil sampel untuk kepastian penyakit.
BACA JUGA: Viral Penyakit Antraks di Gunungkidul, Kenali Penyebab, Gejala dan Cara Mengobati
Adapun penangan juga berkoordinasi dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan untuk antisipasi adanya penyebaran antraks. “Pemeriksaan dilakukan karena keduanya mengalami luka di bagian kulit,” kata Dewi kepada wartawan, Minggu (16/7/2023).
Meski demikian, hingga sekarang ia mengakui hasil tes belum keluar. Dewi berharap kepada masyarakat untuk menjaga kesehatan dengan tetap menjalankan kehidupan bersih dan sehat serta rajin berolahraga.
“Pastikan makanan yang dikonsumsi benar-benar sehat dan tidak terkontaminasi penyakit,” katanya.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul, Retno Widiastuti mengatakan, usai mendapatkan laporan dari dinas kesehatan, langsung menerjunkan petugas guna pemeriksaan. Untuk memastikan, pihaknya sudah mengambil sampel tanah di sekitar lokasi kedua warga.
“Sampel tanah diambil pada Jumat [14/7/2023]. Hingga sekarang kami masih menunggu hasil dari pemeriksaan,” kata Retno.
Menurut dia, berdasarkan penelusuran yang dilakukan petugas, kedua warga yang menjadi suspek antraks, melakukan aktivitas penyembelihan kambing dan mengkonsumsi dagingnya. Retno memastikan kambing yang disembelih masih dalam keadaan hidup.
BACA JUGA: Soal Penetapan KLB Antraks Gunungkidul, Bupati dan DPRD Beda Pendapat
“Untuk kasus di Semuluh belum ada dan sekarang baru dugaan. Untuk kepastian masih menunggu hasil tes, hingga sekarang juga belum ada laporan ternak mati,” katanya.
Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Lurah Ngeposari, Ciptadi. Menurut dia, kedua warga yang menjadi suspek sempat menyembelih kambing sebelum meuncul luka mirip gejala antraks.
Meski demikian, ia belum mendapatkan laporan berkaitan dengan hasil pengetesan. Proses penelusuran alias surveilans di lokasi suspek juga masih terus berjalan.
“Kami sudah berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait dugaan antraks ini. Sambil menunggu hasil lap, kami juga telah menyiapkan beberapa langkah untuk pencegahan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Gunungkidul berencana menaikkan target PAD wisata menjadi Rp52 miliar setelah realisasi pendapatan melampaui target tahunan pada semester pertama 2026.
Gelombang panas ekstrem di Prancis tutup Menara Eiffel lebih awal dan pangkas etape Tour de France. Suhu di atas 35 derajat Celsius, siaga merah meluas.
Mario Aji terjatuh di lap 10 dan gagal finis di Moto2 Jerman 2026. Ivan Ortola juara setelah persaingan sengit di Sachsenring, David Alonso crash di lap 19.
Investor Jepang dan Tiongkok melirik KPI Semin di Gunungkidul. Namun hingga kini investasi baru masih sebatas penjajakan dan belum terealisasi.
Lionel Messi rekor 10 assist Piala Dunia, lewati Maradona. Bawa Argentina ke semifinal usai kalahkan Swiss 3-1. Kini siap hadapi Inggris.
Banjir di Guangxi membuat mobil listrik dimanfaatkan sebagai sumber listrik darurat. Fitur V2L membantu warga saat pemadaman listrik meluas.