Kasus KDRT Masih Mendominasi Meski Kekerasan di Sleman Turun
Kasus kekerasan di Sleman turun menjadi 286 pada 2025, namun KDRT masih mendominasi. Pemkab memperkuat pencegahan melalui keluarga dan RBI.
Ilustrasi. /Harian Jogja-Nina Atmasari
Harianjogja.com, KULONPROGO—Direktur RSUD Wates, dr. Eko Budiarto memberikan tanggapan terkait warga Kulonprogo yang meninggal dunia diduga akibat miras oplosan.
“Senin malam [2/10/2023] RSUD Wates hanya menerima satu pasien keracunan alkohol dan akhirnya meninggal dunia,” kata Eko dihubungi, Rabu (4/10/2023).
Eko menjelaskan korban datang dengan kondisi penurunan kesadaran sekitar pukul 21.15 WIB dan dirawat di Intalasi Gawat Darurat (IGD). Dua setengah jam kemudian, korban mengalami henti nafas dan henti jantung.
BACA JUGA: Miras Oplosan Kembali Makan Korban, 2 Warga Kulonprogo Ini Meninggal Dunia
“[Korban] datang dengan penurunan kesadaran pukul 21.15 WIB dirawat di IGD, terjadi henti nafas dan henti jantung jam 23.30 WIB. Meninggal dunia,” katanya.
Sebelum korban meninggal dunia, Eko mengaku belum ada pengecekan kadar alkohol. Oleh sebab itu, dia tidak dapat memberikan pernyataan mengenai penyebab meninggalnya korban.
“Kalau riwayatnya bersama-sama minum [miras] oplosan itu. Tapi pengecekan kadar alkohol belum sempat dilakukan karena pasien sudah henti jantung dan henti nafas di IGD,” ucapnya.
Sebelumnya, Kasi Humas Polres Kulonprogo, Iptu Triatmi Noviartuti mengatakan bahwa personel unit reskrim Polsek Panjatan selesai melaksanakan pendalaman terkait adanya orang meninggal dunia yang diduga keracunan minuman alkohol pada Selasa (3/10/2023).
Dari pendalaman tersebut didapati bahwa terdapat empat warga Kulonprogo keracunan minuman beralkohol berinisial AA, KP, TAF, CA .
Dari empat tersebut dua di antaranya meninggal dunia yaitu AA,34 dan KP, 35. AA lah yang kemudian dibawa ke RSUD Wates setelah mengalami gejala pusing, gelisah, tidak dapat melihat, dan akhirnya pingsan pada Senin (2/10/2023).
BACA JUGA: 5 Warga Bantul Tewas Diduga Usai Tenggak Miras Oplosan
Sementara itu, KP yang merupakan warga Kalurahan Panjatan dibawa ke RSU Rizki Amalia Medika di Lendah. KP juga mengalami gejala pada mata seperti yang dialami AA yaitu penglihatan kurang. KP akhirnya meninggal pada Selasa (3/10/2023) malam.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus kekerasan di Sleman turun menjadi 286 pada 2025, namun KDRT masih mendominasi. Pemkab memperkuat pencegahan melalui keluarga dan RBI.
AS menjatuhkan sanksi kepada dua perusahaan Iran dan delapan kapal tanker terkait dugaan skema pemerasan kapal di Selat Hormuz.
Delegasi DUN Sabah mempelajari tata kelola Keistimewaan DIY dan Dana Keistimewaan sebagai rujukan kewenangan khusus pemerintahan daerah.
Panitia Jogja Halal Festival (JHF) #3 resmi meluncurkan Jogja Halal Festival #3 Tahun 2026 di Ruang Bangsal Mataram, Lantai 2, Kantor Perwakilan Bank Indonesia
DPRD Bantul meminta pengawasan potensi kebakaran lahan diperkuat hingga tingkat RT selama musim kemarau. Jumlah kasus kebakaran lahan di Bantul tercatat meningk
Sensus Ekonomi 2026 di DIY telah mencapai 69%. BPS DIY memastikan data pelaku usaha aman dan tidak berkaitan dengan perpajakan.