Cuaca Ekstrem Serang Kolam Gurame Sleman, Tebar Benih Diminta Ditunda
Cuaca ekstrem dan musim bediding meningkatkan risiko penyakit ikan di Sleman. Penyuluh meminta pembudidaya menunda tebar benih gurame hingga September atau Okto
Personel gabungan memadamkan api yang membakar lahan di Perbukitan Menoreh, Hargorejo, Kokap pada Minggu (15/10/2023).(IST/Polres Kulonprogo)
Harianjogja.com, KULONPROGO—Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) DIY beberapa bulan yang lalu telah memprediksi kemarau 2023 akan lebih kering dan panas. Situasi tersebut mengakibatkan tidak hanya krisis air tetapi juga kebakaran di sejumlah wilayah. Kerugian pun ditaksir mencapai miliaran rupiah.
Di Kabupaten Kulonprogo selama tiga bulan terakhir terjadi 44 peristiwa kebakaran. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menegaskan kebakaran terjadi utamanya karena warga membakar sampah. Padahal, banyak terdapat lahan kering dan jauh dari sumber air. Api menjadi mudah menjalar apabila tertiup angin.
Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kulonprogo, Budi Prastawa, mengatakan dari 44 peristiwa yang terjadi, 21 di antaranya akibat pembakaran sampah.
“Dari bulan Agustus kemarin ada 44 peristiwa kebakaran. Dari itu, 21 peristiwa akibat warga membakar sampah,” kata Budi dihubungi, Selasa (17/10/2023).
Baca Juga: 20 Hektare Lahan di Perbukitan Menoreh Kulonprogo Terbakar
Pada Agustus terdapat 11 peristiwa kebakaran dengan empat di antaranya karena warga membakar sampah. Perkiraan nilai kerugian mencapai Rp243 juta. Lalu pada September terdapat 23 peristiwa kebakaran dengan 12 di antaranya karena warga membakar sampah. Dari itu, perkiraan nilai kerugian mencapai Rp61 juta.
Terakhir, dari awal Oktober sampai Senin (16/10/2023) terdapat sepuluh peristiwa kebakaran. Lima di antaranya terjadi karena warga membakar sampah. Total perkiraan nilai kerugian mencapai Rp1,064 miliar.
Baca Juga: BMKG Deteksi 111 Titik Panas yang Diduga Kebakaran Hutan
Peristiwa kebakaran terakhir terjadi pada Sabtu-Senin (14-16/10/2023) di Perbukitan Menoreh, tepatnya di Kalurahan Hargorejo, Kokap, Kulonprogo. Kebakaran paling besar terjadi di hutan milik Balai Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Jogja dengan luasan sekitar 16 hektare, menurut data BPBD.
Kebakaran tersebut disebabkan oleh warga yang membakar sampah dan merembet ke hutan milik KPH Jogja. Pemadaman tergolong sulit dilakukan karena jarak mobil dengan hutan sejauh 1 kilometer.
“Kebakaran di Padukuhan Selo Timur memang sangat luas sampai masuk di beberapa padukuhan di sekitarnya,” kata Purwoko, salah satu pemadam kebakaran.
Dengan intensitas peristiwa kebakaran yang tinggi, BPBD menegaskan selalu mengupayakan kehadiran para pemangku wilayah lokal sebagai bentuk koordinasi antara kabupaten dan pemerintahan kalurahan setempat.
“Hal itu juga untuk sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat tentang risiko pemanfaatan api pada musim kemarau panjang seperti pada saat ini,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Cuaca ekstrem dan musim bediding meningkatkan risiko penyakit ikan di Sleman. Penyuluh meminta pembudidaya menunda tebar benih gurame hingga September atau Okto
Dua pendaki yang viral karena menaiki Tugu Triangulasi Gunung Merbabu diberi sanksi pembinaan oleh BTNGMb dan diwajibkan membuat video permintaan maaf.
Kemendag menargetkan Indonesia Shopping Festival 2026 mencatat transaksi Rp38 triliun dengan 407 pusat belanja dan diskon hingga 80 persen.
Pembangunan Jembatan Garuda di Gunungkidul bertambah menjadi sembilan titik. Program ini ditargetkan mencapai 11 jembatan pada 2026.
Pemkab Sleman bersama Satgas Pangan Polresta Sleman memperkuat pengawasan stok dan harga bahan pokok guna menjaga stabilitas pasokan pangan di wilayah Sleman.
Penyaluran Dana Penguatan Modal Sleman 2026 mencapai Rp6,3402 miliar atau 32,31% dari total plafon Rp19,625 miliar.