Geopark Gunungsewu Bersiap, Asesor UNESCO Kunjungi Gunungkidul
Asesor UNESCO mengunjungi Luweng Jomblang dan Hutan Wanagama untuk pra-revalidasi Geopark Gunungsewu menjelang penilaian ulang 2027.
Ilustrasi kawasan wisata Tlogoputri Kaliurang Sleman./Harian Jogja
Harianjogja.com, SLEMAN—Penyelenggaraan Pemilu dan Pilkada di 2024 diprediksi bakal berdampak negatif pada kunjungan wisata. Itulah sebabnya, untuk tahun ini, Pemkab Sleman memilih tidak menaikkan target kunjungan wisata. Untuk tahun ini, target yang mereka patok adalah sama dengan 2023, yakni sebanyak 7 juta pengunjung.
Kepala Bidang Pemasaran, Dinas Pariwisata Sleman, Kus Endarto mengatakan, penyelenggaraan wisata di 2023 berjalan dengan baik. Pasalnya, dari target kunjungan sebanyak tujuh juta orang, tercapai sekitar 7,7 juta.
Meski demikian, target kunjungan wisata di 2024 tidak mengalami perubahan karena target masih sama dengan di 2023. “Target kami tetap tujuh juta pengunjung yang datang di tahun ini,” kata Kus Endarto kepada wartawan, Jumat (5/1/2024).
Dia menjelaskan, ada beberapa faktor yang membuat target kunjungan tidak berubah dalam dua tahun terakhir. Faktor pertama adanya kegiatan pemilu dan pilkada diperkirakan akan memengaruhi Tingkat kunjungan pariwisata.
Di sisi lain, juga ada pembangunan jalan tol, status terkini Gunung Merapi yang masih fluktuatif juga akan berpengaruh. Adapun jumlah libur nasional dan cuti bersama tahun ini sebanyak 27 hari sudah diperhitungkan dengan seksama sehingga target kunjungan tidak berubah, sama seperti di 2023. “Kami optimistis target ini bisa terlampaui seperti yang terjadi tahun lalu,” ungkapnya.
Meski target kunjungan tidak naik, namun ia menyakini bisa memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian. Sebagai contoh, untuk perputaran uang diharapkan ada belanja di kisaran Rp1,4-1,6 juta bagi wisatawan Nusantara dan US$300-US$350 untuk turis asing. “Untuk lama tinggal, kami targetkan 1,75-1,90 hari bagi wisatawan Nusantara dan turis asing selama 2,1-2,25 hari,” katanya.
Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo berharap sektor wisata di Sleman bisa terus tumbuh. Ia menginginkan adanya upaya pemerataan sehingga kunjungat tidak terfokus di sisi timur seperti Prambanan dan Cangkringan.
BACA JUGA: Luar Biasa! Angka Kunjungan Wisatawan saat Libur Nataru di Sleman Tembus 165% dari Target
Oleh karena itu, dia mengakui terus mendorong pengembangan sektor wisata baru, khususnya di sektor barat. Menurut dia, keberadan wisata alternatif ini sangat penting karena bisa memberikan pengalaman baru.
Dia mencontohkan, destinasi wisata alternatif yang dikembangkan adalah Desa Wisata Cibuk Kidul di Kalurahan Margoluwih, Seyegan, Sleman. Menurut Kustini, di tempat ini sudah ada kelompok Masyarakat yang menggelolanya dengan keunggulan pemandangan alam pedesaan dan dilengkapi dengan wahana atraksi seperti kereta minim, kolam perikanan hingga laboratorium mina padi sebagai tembat wisata edukasi.
Menurut dia, pengembangan wisata berbasis Masyarakat dapat memberikan dampak yang positif, khususnya untuk upaya mendorong kesejahteraan. “Keberadaan destinasi ini juga untuk menghidupkan wisata di Sleman barat,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Asesor UNESCO mengunjungi Luweng Jomblang dan Hutan Wanagama untuk pra-revalidasi Geopark Gunungsewu menjelang penilaian ulang 2027.
Kemendag mendorong UMKM menjadi eksportir melalui perjanjian dagang, platform digital, dan dukungan logistik untuk memperluas pasar global.
Cek jadwal Samsat Sleman lengkap, mulai Samsat Induk, drive thru, Samsat Keliling, MPP hingga layanan sore dan malam beserta syaratnya.
Harga emas Antam, UBS, dan Galeri 24 di Pegadaian Rabu, 28 Oktober 2026, bervariasi. Simak daftar harga jual dan buyback setiap ukuran.
Borussia Dortmund menang 3-2 atas Werder Bremen, sedangkan FC Koln melibas Union Berlin 5-0 untuk lolos ke babak 16 besar DFB-Pokal.
Komisi D DPRD Kota Jogja mengawal anggaran DPK 2027, termasuk rencana gedung arsip, digitalisasi naskah kuno, diorama, dan angkringan literasi.