Skema Droping Air di Gunungkidul Berubah, Kapanewon Jadi Prioritas
BPBD Gunungkidul mengubah skema droping air bersih dengan memprioritaskan anggaran kapanewon menghadapi kemarau panjang 2026.
Pohon tumbang akibat angin kencang di wilayah Tempel, Sleman, beberapa waktu lalu. - Antara
Harianjogja.com, SLEMAN—BPBD Sleman menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi hingga akhir Februari 2024. Peningkatan kewaspadaan ini sebagai upaya mengurangi dampak pada saat terjadi bencana.
Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Makwan mengatakan, upaya kesiapsiagaan untuk menghadapi dampak dari cuaca ekstrem terus dilakukan. Salah satunya dengan meningkatkan status kebencanaan menjadi siaga darurat bencana hidrometeorologi, baik kering maupun basah.
Menurut dia, penetapan sudah berlaku sejak 1 Desember 2023 lau dan berlangsung hingga 29 Februari 2024. “Siaga darurat bencana berlaku selama tiga bulan dan bisa diperpanjang sesuai dengan kondisi terkini di lapangan,” kata Makwan kepada wartawan, Senin (8/1/2024).
BACA JUGA : BPBD Bantul Imbau Masyarakat Waspadai Bencana Hidrometeorologi
Menurut dia, status siaga darurat bencana ditetapkan sebagai antisipasi untuk menghadapi potensi bencana sehingga dampaknya dapat ditekan sekecil mungkin. Makwan memastikan seluruh personel yang dimiliki bersama dengan para relawan terus siaga dan siap diterjunkan pada saat terjadi peristiwa.
“Semua kami siagakan untuk menghadapi ancaman dari bencana hidrometeorologi,” ungkapnya.
Makwan mengatakan, di awal tahun ini sudah ada beberapa kejadian mulai dari longsor, pohon tumbang hingga rumah rusak yang diakibatkan karena cuaca ekstrem. Berdasarkan data yang dihimpun total ada 229 persitiwa yang disebabkan karena angin kencang dan dua longsor.
Diperkirakan kerugian akibat kejadian ini mencapai Rp282.810.000. “Warga terdampak sudah diberikan bantuan, namun kami berharap Masyarakat tetap mewaspadai adanya potensi bencana,” katanya.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, BPBD Sleman, Bambang Kuntoro menambahkan, penetapan status kebencanaan sangat bergantung dengan kondisi kewilayahan terkini. Ia tidak menampik sempat ada sejumlah kejadian dikarenakan dampak dari cuaca ekstrem di awal 2024.
Meski demikian, hal tersebut tidak mengubah status bencana di Kabupaten Sleman. “Tidak ada peningkatan status dan masih siaga darurat bencana. Untuk tanggap darurat belum kami tetapkan hingga saat ini,” katanya.
BACA JUGA : Dampak Bencana Hidrometeorologi DIY Terjadi di Ratusan Titik, Ini Daftarnya
Meksi demikian, ia memastikan upaya kesiapsiagaan tetap dilakukan untuk mengurangi risiko pada saat terjadi bencana. “Kami berharap Masyarakat juga ikut berpartisipasi. Sebagai contoh untuk mengurangi risiko dampak dari pohon tumbang, bisa memangkas dahan dan ranting pohon di sekitaran rumah yang telah rimbun,” katanya.
Hal sama juga berlaku untuk potensi banjir dapat dilakukan dengan memastikan saluran irigasi di sekitaran rumah tidak mampet. “Kalau mampet harus dibersihkan agar aliran tidak terhambat,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul mengubah skema droping air bersih dengan memprioritaskan anggaran kapanewon menghadapi kemarau panjang 2026.
Timnas Kongo batalkan TC di Kinshasa jelang Piala Dunia 2026 akibat wabah virus Ebola jenis Bundibugyo. Skuad Desabre langsung dialihkan ke Eropa.
Sebanyak 63 mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bersama tiga dosen pendamping mengunjungi kantor Harian Jogja di Jalan AM Sangaji, Jogja, Kamis (21/5)
Tiga proyektor SD Negeri 1 Kemadang, Tanjungsari, Gunungkidul hilang dicuri. Polisi masih selidiki kasus dengan kerugian mencapai Rp10 juta.
petugas mengamankan seorang pria berinisial MAR, warga Magelang, yang diduga berperan sebagai pengedar narkotika.
Niat mulia masyarakat untuk mengangkat anak perlu dibarengi dengan pemahaman terhadap prosedur dan ketentuan yang berlaku agar hak-hak anak tetap terlindungi se