Long Weekend Kenaikan Yesus, PAD Wisata Gunungkidul Tembus Rp1,7 M
Libur panjang Kenaikan Yesus Kristus mendongkrak kunjungan wisata Gunungkidul hingga 145 ribu orang dengan PAD mencapai Rp1,7 miliar.
Ilustrasi-Salah satu jenis alat mesin pertanian (alsintan)/JIBI
Harianjogja.com, SLEMAN—Pemkab Sleman mengalokasikan anggaran sekitar Rp19 miliar untuk bantuan alat mesin pertanian ke kelompok tani di 2024. Diharapkan program ini bisa meningkatkan produktivitas pertanian di Bumi Sembada.
Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman, Supramono mengatakan, kemarau Panjang yang terjadi di 2023 memberikan dampak terhadap produktivitas pertanian di Sleman. Oleh karenanya, upaya modernisasi alat-alat mesin (Alsintan) pertanian terus dilakukan.
“Kami komitmen untuk terus memberikan bantuan alsintan kepada petani di Sleman di setiap tahunnya,” kata Supramono kepada wartawan, Minggu (14/1/2024).
Dia menjelaskan, untuk tahun ini sudah mengalokasikan anggaran lebih dari Rp19 miliar guna membantu alsintas ke kelompok tani. Meski tidak menyebut secara rinci, ada banyak alat pertanian modern yang akan diberikan mulai dari hand tractor, treaser, mesin pemotong rumput, genset, mesin pompa, cultivator, kendaraan roda tiga dan lain sebagainya.
“Sudah masuk program dan kalau siap bisa segera diberikan ke kelompok tani yang masuk daftar penerima bantuan,” katanya.
Selain itu, juga ada bantuan pembangunan sumur hingga embung yang bisa dimanfaatkan oleh para petani. “Kalau ada pupuknya, tapi tidak ada airnya kan bisa jadi masalah. Untuk itu, ada bantuan pembuatan sumur ke kelompok,” katanya.
BACA JUGA: Bupati Sleman Kustini Canangkan Kawasan Pertanian Padi Sehat
BACA JUGA: 1.068,6 Hektare Lahan Pertanian di Sleman Terancam Gagal Panen
Diharapkan dengan program modernisasi pertanian ini maka bisa berdampak terhadap meningkatkan produktivitas. “Tentunya hasil yang semakin optimal, maka akan memperkuat ketahanan pangan di Masyarakat,” katanya.
Sebelumnya diberitakan, produktivitas pertanian di Sleman mengalami penurunan di 2023. Hal ini terjadi karena dampak dari kemarau Panjang. Minimnya sumber air disinyalir menjadi salah satu penyebab turunnya hasil milik petani.
Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman, Siti Rochayah mengatakan, secara akumulasi luas panen juga cenderung turun. Sebagai gambaran di 2022, luasan panen mencapai 42.353 hektare.
Adapun luas panen di 2023 sekitar 41.830 hektare. Turunnya luas panen juga berdampak terhadap produktivitas padi yang dihasilkan.
Tahun lalu gabah kering giling yang dihasilkan mencapai 251.250 ton. Jumlah ini mengalami penurunan dibandingkan dengan capaian panen di 2022 seberat 256.708 ton.
“Gabah kering giling yang dihasilkan ada penurunan sekitar 5.000 ton di 2023 karena dampak dari kemarau Panjang yang terjadi,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Libur panjang Kenaikan Yesus Kristus mendongkrak kunjungan wisata Gunungkidul hingga 145 ribu orang dengan PAD mencapai Rp1,7 miliar.
Pemerintah memastikan pemulangan sembilan WNI relawan Gaza usai dibebaskan dari penahanan Israel dan tiba di Turkiye.
Alex Marquez resmi absen di MotoGP Italia dan Hungaria 2026 usai mengalami cedera patah tulang selangka dan vertebra saat balapan di Catalunya.
Cristiano Ronaldo membawa Al Nassr juara Liga Arab Saudi usai mencetak dua gol saat menang 4-1 atas Damac.
Sultan HB X ingin RTH eks Parkir ABA Jogja jadi taman bunga nyaman, bukan hutan kota. Penataan dimulai dengan anggaran 2026.
Harga emas perhiasan hari ini 22 Mei 2026 naik, buyback tertinggi tembus Rp2,47 juta per gram.