Lumbung Mataram Kalurahan Purwosari di Kulonprogo Mengoptimalkan Pertanian dan Peternakan Warga
Salah satu implementasi program Lumbung Mataram di Kulonprogo dilakukan Kalurahan Purwosari, Kapanewon Girimulyo
Nelayan sedang bekerja sama mendorong kapal ke pantai, di Pantai Bugel, Panjatan, Kulonprogo. - dok/Harian Jogja
Harianjogja.com, KULONPROGO—Para nelayan di Kulonprogo berhenti melaut selama terjadinya Siklon Tropis Anggrek beberapa hari terakhir hingga Senin (22/1/2023). Para nelayan ini berhenti melaut sejak Rabu (17/1/2023).
Pilihan berhenti melaut ini karena memprioritaskan keselamatan dan keamanan para nelayan. Prakiraan para nelayan, Badai Anggrek ini akan berhenti pada Rabu (24/1/2023) mendatang.
Salah satu nelayan di Pantai Trisik, Kapanewon Gaur, Nur Rifky menjelaskan dirinya memutuskan berhenti melaut lantaran imbauan BMKG DIY. "Kami selalu berkoordinasi dan memantau prakiraan cuaca BMKG DIY, pantuan hari ini tinggi gelombang mencapai tiga meter dengan kecepatan angin yang cukup kencang, jadi belum akan melaut dulu," tuturnya, Senin siang.
Rifky menjelaskan saat ini sedang musim tangkap ikan bawal dan layur yang harganya cukup tinggi. "Sekali melaut bisa menangkap 20 kilogram bawal, ikan layur juga sedang musim tangkap, itu kalau dihargakan bisa sampai Rp10 juta sekali melaut di musim ini," ungkapnya.
Meskipun potensi tangkapan besar, jelas Rifky, tak ada nelayan di wilayahnya yang melaut sejak Rabu kemarin. "Tidak ada yang berani juga, terpenting bagi kami keselamatan dan keamanan saja," terangnya.
Sekalipun tak melaut, lanjut Rifky, para nelayan di Pantai Trisik tetap memiliki aktivitas ekonomi lain yaitu bertani. "Sebagian besar kami bertani juga jadi tak masalah tak melaut," jelasnya.
Total ada sekitar 25 nelayan di Pantai Trisik. "Kebanyakan bertani cabai, melon, semangka, dan bawang. Hasilnya juga cukup lumayan, jadi masih aman-aman saja perekonomiannya," ujarnya.
Sementara itu Dinas Keluatan dan Perikanan (DKP) Kulonprogo memeastikan himbauan cuaca ekstrimnya sudah tersampaikan ke seluruh para nelayan di Bumi Binangun. "Semuanya sudah tahu, sampai sekarang belum ada yang melaut, tidak ada kejadian kecelakaan laut juga," kata Kepala Bidang Pemberdayaan Nelayan Kecil dan Pengelolaan Pelelangan Ikan DKP Kulonprogo, Wakhid Purwosubiantoro.
BACA JUGA: Siklon Tropis Anggrek, Nelayan Samas Susah Melaut, padahal Lagi Musim Ikan
Wakhid mengkonfirmasi musim tangkap saat ini memang ikan bawal dan layur. "Kalau sedang musim seperti sekarang bisa sampai Rp40 juta sekali melaut. Tapi yang terpenting kan keamanan dan keselamatan," imbaunya.
Terkait pasokan ikan di Bumi Biangun, jelas Wakhid, dengan tak adanya nelayan yang melaut tidak menimbulkan kelangkaan. "Pasokan ikan masih aman, pantuan kami banyak pedagang ikan mendatangkan ikan dari Cilacap, Jawa Tengah," ujarnya.
DKP Kulonprogo memprediksi kondisi laut akan normal, sambung Wakhid, pada Rabu (24/1/2023) berdasarkan koordinasi dengan BMKG DIY. "Nanti akan kami update lagi, jika sudah memungkinkan kami juga akan koordinasikan langsung ke para nelayan," ujar dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Salah satu implementasi program Lumbung Mataram di Kulonprogo dilakukan Kalurahan Purwosari, Kapanewon Girimulyo
BMKG memprakirakan cuaca DIY hari ini didominasi berawan dan udara kabur, sementara Sleman berpotensi diguyur hujan ringan.
Jadwal lengkap KA Prameks Jogja–Kutoarjo dan sebaliknya berdasarkan data resmi KAI Access.
Menteri PPPA menyebut paparan judi online terhadap 200 ribu anak menjadi ancaman serius bagi perlindungan dan tumbuh kembang anak.
Pemkab Bantul menargetkan 10 Koperasi Desa Merah Putih siap diresmikan Agustus 2026 dengan fokus usaha kebutuhan pokok dan produk lokal.
Kemenhub menyesuaikan fuel surcharge pesawat domestik mulai 13 Mei 2026 akibat kenaikan harga avtur demi menjaga operasional maskapai.