Proyek Jembatan Kewek Dimulai, Target Rampung Akhir 2026
PJN DIY resmi mulai penggantian Jembatan Kewek Jogja senilai Rp19 miliar. Cek spesifikasi struktur girder baru dan target rampung Desember 2026.
Petugas membersihkan mesin penghancur sampah organik untuk diolah menjadi kompos di TPS3R Nitikan, Jogja, belum lama ini. - ist/Pemkot Jogja
Harianjogja.com, JOGJA—Produksi sampah organik di Kota Jogja cukup besar, yakni sekitar 160 ton atau 52% dari total produksi sampah di Kota Jogja. Besarnya presentase sampah organik ini membuat Pemkot Jogja menggencarkan pengolahan sampah organik di wilayah.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja, Sugeng Darmanto, menjelaskan pada 2023, Pemkot Jogja sudah mencanangkan program Mengolah Limbah dan Sampah dengan Biopori (Mbah Dirjo), yang diklaim mampu mengolah sekitar 50 ton sampah organik setiap hari.
BACA JUGA : Olah Sampah Anorganik Jadi APE PAUD hingga Sampul Buku
Kemudian pada tahun ini, pengolahan sampah organik dilanjutkan. Dengan guyuran dana keistimewaan (danais) Rp100 juta per kelurahan, diharapkan dapat meningkatkan pengolahan sampah organik di masing-masing wilayah. “Sehingga ayo dimanfaatkan dalam rangka pengurangan sampah organiknya,” ujarnya, Jumat (23/2/2024).
Melalui program ini, setiap kelurahan diminta untuk menggelar pelatihan pengolahan sampah organik, dengan jumlah pertemuan 12 kali. Dalam pelatihan tersebut, para peserta juga difasilitasi alat pengolah sampah organik seperti biopori.
“Satu pelatihan paling ga 25 orang, yang setiap peserta akan memperoleh masing-masing dua biopori. Kita juga sudah ada biopori dari BI [Bank Indonesia], BPD [Bank Pembangunan Daerah] dan APBD [Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah],” katanya.
Dari program ini, diharapkan kepemilikan biopori di masyarakat dapat meningkat menjadi sebanyak 50.000 KK. Meski demikian, kelurahan bisa juga mengganti biopori dengan alat pengolah sampah organik lainnya sesuai dengan kebutuhan.
“Kalau kelurahan ada pilihan lain misalnya wilayahnya tidak bisa digali untuk biopori, lalu pakai ember tumpuk, nanti ada perubahan di danaisnya. Tapi peruntukanya pelatihan berbasis masyarakat penguatan pengelolaan sampah organik,” ungkapnya.
Adapun saat ini Kota Jogja tetap memanfaatkan TPA Piyungan untuk pembunangan sampah walau dengan volume yang lebih kecil. Jika pada 2022, volume sampah yang diangkut ke TPA Piyungan sebesar 300 ton per hari, sekarang hanya 150 ton.
TPA Piyungan rencananya akan ditutup pada April 2024 mendatang, karena telah over capacity. Maka dengan penguatan pengolahan sampah organik ini diharapkan mampu menyelesaikan masalah pengelolaan sampah di masyarakat, disamping upaya Pemkot Jogja yang akan membangun sejumlah Tempat Pengolahan Sampah Resycle, Reduse, Reuse (TPS3R).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PJN DIY resmi mulai penggantian Jembatan Kewek Jogja senilai Rp19 miliar. Cek spesifikasi struktur girder baru dan target rampung Desember 2026.
Panjat tebing Indonesia gagal menambah medali dari nomor lead putra dan putri di Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Eskalator Stasiun Duri mengalami gangguan dan bergerak mundur. Sebanyak 12 penumpang luka ringan dan mendapat penanganan medis.
Lisman Puja Kesuma, Ketua Fraksi Gerindra DPRD DIY dan Bendahara DPD Gerindra DIY meninggal pada Sabtu (3/10/2026).
Jarak pandang 600 meter membuat delapan penerbangan di Bandara SMB II Palembang tertunda, terdiri atas empat kedatangan dan empat keberangkatan.
Pemkab Gunungkidul mulai memverifikasi 30 gerai KDMP yang telah dibangun. Operasional masih menunggu proses verifikasi dan validasi.