215.845 Warga Bantul Sudah Aktifkan IKD, Target 30 Persen Dikejar
Sebanyak 215.845 warga Bantul sudah mengaktifkan IKD. Disdukcapil memperluas jemput bola hingga kalurahan untuk mengejar target 30%.
Ilustrasi tawuran./Antara
Harianjogja.com, JOGJA—SMK Muhammadiyah 3 membeberkan kronologi lengkap insiden kerusuhan yang pecah di sejumlah tempat pada saat perayaan kelulusan sejumlah sekolah di Jogja beberapa waktu lalu. Sekolah ini mengklaim menjadi korban dalam peristiwa itu dan merasa dirugikan.
Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMK Muhammadiyah 3 Muhammad Al Rifqi menjelaskan, insiden kericuhan itu terjadi Senin (13/5/2024) sebanyak dua kali yakni pukul 10.47 WIB dan pukul 12.40 WIB. Yang pertama ada sekitar 5-10 motor dari arah selatan ke utara yang memprovokasi murid saat lewat di depan sekolah itu.
"Kejadian kedua pukul 12.40 WIB ada kurang lebih 50 motor berboncengan dari arah selatan memakai seragam putih abu dan sudah dicoret. Mereka sempat berhenti depan sekolah kami dan merusak gerbang serta masuk ke lingkungan sekolah," jelasnya, Rabu (15/5/2024).
BACA JUGA: Viral Pelajar di Kota Jogja Tercebur Selokan Saat Serang Sekolah Lain, Begini Penjelasan Polisi
Rombongan itu kemudian dihalau oleh satpam dan guru yang ada di lapangan agar tidak masuk ke area sekolah dan merusak fasilitas yang lain. Mereka lantas lari ke jalan dan satu orang tertinggal kemudian masuk ke dalam selokan seperti yang viral di sosial media. Satu orang itu langsung dibawa oleh polisi ke Polresta Jogja.
"Mungkin ada sekitar enam sekolah yang jadi korban; SMA Muhammadiyah 7, SMA Muhammadiyah 3, SMK Muhammadiyah 3, SMKN 5, SMK Piri dan SMA Bopkri 2," kata Rifqi.
Dia mengklaim bahwa selama ini tidak pernah ada insiden bentrok antar sekolah, apalagi yang melibatkan SMK Muhammadiyah 3. Bahkan polisi sudah datang ke sekolah sebelum hari kelulusan untuk mengimbau murid agar tidak melakukan konvoi saat hari kelulusan.
"Sebenarnya bukan bentrok, itu kami cuma menghalau saja supaya rombongan itu tidak masuk sekolah dan merusak yang lain. Pada saat menghalau itu yang direkam kayak tawuran. Padahal itu hanya menghalau, bukan tawuran," katanya.
BACA JUGA: Tegas! Study Tour dan Outing Class Sekolah di Sleman Harus Seizin Pemkab
Menurut Rifqi, pihak sekolah selalu berkoordinasi dengan orang tua murid untuk memperhatikan waktu anak saat keluar di malam hari. Wali kelas juga diminta rutin menjalin komunikasi dengan orang tua murid untuk mencegah timbulnya insiden yang negatif dan melibatkan murid setempat.
"Antisipasi kami masih ada sampai sekarang, di sini ada tim ketertiban tugasnya mengawasi selama di sekolah sampai pulang ke rumah. Selama di sekolah lewat wali kelas untuk komunikasi dengan orang tua," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 215.845 warga Bantul sudah mengaktifkan IKD. Disdukcapil memperluas jemput bola hingga kalurahan untuk mengejar target 30%.
Changan mulai menyerahkan Nevo Q05 kepada konsumen Indonesia. SUV listrik ini mencatat lebih dari 1.000 SPK dan dibanderol mulai Rp349 juta.
Cleberson menyebut dukungan suporter menjadi kekuatan PSS Sleman saat menghadapi Dewa United di Banten International Stadium.
Kemenkeu mengungkap perkembangan pengalihan saham PSBI dan pembayaran utang Whoosh yang kini memasuki tahap finalisasi.
MTQ Nasional XXXI 2026 di Jawa Tengah berakhir dengan Jateng meraih peringkat kedua. Taj Yasin mendorong pembinaan Al-Qur’an berkelanjutan.
Aduan sampah di Sleman naik sekitar 40% pada 2026. Pembakaran sampah menjadi salah satu laporan yang paling banyak ditangani Satpol PP.