PSEL Belum Beroperasi, Sleman Kerahkan Pendamping Sampah
PSEL Regional DIY mundur hingga 2028, DLH Sleman bentuk pendamping pengelolaan sampah di 17 kapanewon dan 86 kalurahan.
Ilustrasi hujan deras disertai angin./Pixabay
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul menyampaikan hujan deras yang terjadi pada Kamis (4/7/2024) tidak terlalu berdampak pada sumber air atau akses air bersih masyarakat.
Kepala BPBD Gunungkidul, Purwono mengatakan hujan Kamis lalu merupakan anomali cuaca. Pasalnya, musim kemarau masih akan terjadi hingga September 2024. “Hujan kemarin relatif merata di seluruh wilayah Gunungkidul, tapi tidak signifikan terhadap ketersediaan air baku,” kata Purwono dihubungi, Jumat (5/7/2024).
Kata dia, BMKG juga sudah memprediksi adanya hujan ringan di sisi selatan, Gunungkidul sisi utara. Potensi hujan semakin ke utara semakin tinggi.
Adapun, status darurat kekeringan masih sampai Agustus 2024. Hingga saat ini, masih ada sembilan kalurahan yang meminta dropping air yaitu Giriharjo dan Girisuko di Kapanewon Panggang; Planjan di Kapanewon Saptosari; Giripanggung dan Tepus di Kapanewon Tepus. Semugih di Kapanewon Rongkop. Masih ada di Balong, Karangawen, dan Jepitu di Kapanewon Girisubo. “Total 160 tangki yang sudah kami distribusikan. Per tangki 5.000 liter,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PSEL Regional DIY mundur hingga 2028, DLH Sleman bentuk pendamping pengelolaan sampah di 17 kapanewon dan 86 kalurahan.
Pertamina memastikan isu larangan Pertalite untuk merek kendaraan tertentu mulai 1 Juni 2026 adalah hoaks dan tidak benar.
Kemenhub memperketat ramp check bus AKAP jelang libur Iduladha 2026 untuk memastikan keselamatan perjalanan masyarakat.
Ditjenpas memindahkan 80 napi high risk ke Nusakambangan selama Mei 2026 untuk memperkuat keamanan dan pembinaan lapas.
Kasus kekerasan seksual UPN Veteran Yogyakarta memasuki tahap sanksi. Lima dosen dinonaktifkan sementara oleh kampus.
BMKG memprediksi hujan lebat masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Jawa Tengah hingga akhir Mei 2026.