Parkir Berbayar Lapangan Beran Dikritik, DPRD Sleman Minta Kajian
Komisi D DPRD Sleman meminta rencana tarif parkir Lapangan Beran dikaji ulang karena dikhawatirkan mengurangi akses masyarakat.
Seorang anak sedang berdiri di tanggul Pantai Baron, Kalurahan Kemadang, Tanjungsari, Gunungkidul, Sabtu, (6/7/2024)./Harian Jogja-Andreas Yuda Pramono
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Gunungkidul menyampaikan sampah yang berada di lautan Gunungkidul juga berasal dari jaring nelayan dan rumpon bekas nelayan. Hanya saja, angka pasti jumlah sampah tersebut belum ada.
Kepala Bidang Perikanan Tangkap DKP Gunungkidul, Wahid Supriyadi mengatakan sampah-sampah itu menganggu ekosistem laut. Dampaknya pada produksi nelayan. “Kalau menurut penelitian, ada sekitar 640.000 hingga 1 juta alat tangkap di seluruh wilayah perairan di Indonesia,” kata Wahid dihubungi, Senin, (8/7/2024).
Kata dia, sarana tangkap semestinya dikelola di daratan dan diolah lebih ramah lingkungan. Sebab itu, perlu ada kesadaran dari nelayan dalam menjaga kelestarian perairan di wilayah masing-masing.
Persoalan semakin sulit tatkala sampah plastik tidak dapat diurai dan berubah menjadi mikroplastik lalu dimakan ikan. Mikroplastik mengendap di tubuh ikan. Padahal, produksi ikan terdistribusikan di masyarakat.
“Studi menemukan bahwa masyarakat Indonesia mengonsumsi sekitar 15 gram mikroplastik per bulan. Sebagian besar partikel ini berasal dari sumber air,” katanya.
Sampah plastik, kata dia menjadi permasalahan khusus di mana penanganannya harus dilakukan terpadu dari hulu hingga hilir mulai dari sumber timbulan sampah hingga pengolahan sampahnya. Paling tidak, nelayan perlu menjaga lingkungan perairan di wilayahnya masing-masing.
BACA JUGA: Gegara Sampah Plastik, Produksi Perikanan Tangkap di Gunungkidul Turun hingga 80 Persen
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Gunungkidul, Rujimanto mengatakan jaring-jaring nelayan sering memuat sampah-sampah di lautan. Nelayan terpaksa memutus jaring ini agar mereka tetap dapat melaut. “Nelayan tidak kuat membawa sampah. Daripada kapal kami tenggelam,” kata Rujimanto.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul, Antonius Hary Sukmono mengatakan sampah plastik di lautan Gunungkidul berasal dari banyak tempat. Penanganannya pun juga menjadi kewenangan Pemda DIY.
“Tetapi begini, kami ada program Pantai dan Laut Lestari. Ini bagian dari pembersihan di pantai. Kami sudah melakukan. Kalau di tengah laut, SDM [sumber daya manusia] dan sarana kami tidak punya,” kata Hary.
Adapun sampah yang berasal dari pelaku wisata juga dikelola oleh pemilik sampah. DLH juga telah membangun TPS3R di Kalurahan Kemadang. TPS3R ini mengakomodasi sampah dari kawasan pantai.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Komisi D DPRD Sleman meminta rencana tarif parkir Lapangan Beran dikaji ulang karena dikhawatirkan mengurangi akses masyarakat.
Koperasi Semesta belum bisa memasok susu untuk MBG karena produksi terserap industri dan UMKM. Populasi sapi akan ditambah 200 ekor.
BPS mencatat inflasi September 2026 mencapai 3,28% secara tahunan. Program MBG turut mendorong kenaikan harga daging ayam ras.
KDMP Sendangmulyo Sleman belum diserahterimakan, tetapi ditemukan kerusakan pada drainase dan talang dalam evaluasi fisik.
BGN siap menjadi offtaker hasil perikanan untuk memenuhi kebutuhan ikan sebagai sumber protein dalam menu Makan Bergizi Gratis.
Prabowo melantik Letjen TNI Muhammad Saleh Mustofa sebagai Wamentan dalam reshuffle Kabinet Merah Putih di Istana Negara.