Empat Dapur MBG Sleman Disuspend, Ini Penjelasan Satgas
Empat SPPG MBG di Sleman berstatus suspend per 3 Agustus 2026. Tiga menjalani renovasi, satu terkendala administrasi.
Seorang anak sedang berdiri di tanggul Pantai Baron, Kalurahan Kemadang, Tanjungsari, Gunungkidul, Sabtu, (6/7/2024)./Harian Jogja-Andreas Yuda Pramono
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Gunungkidul menyampaikan sampah yang berada di lautan Gunungkidul juga berasal dari jaring nelayan dan rumpon bekas nelayan. Hanya saja, angka pasti jumlah sampah tersebut belum ada.
Kepala Bidang Perikanan Tangkap DKP Gunungkidul, Wahid Supriyadi mengatakan sampah-sampah itu menganggu ekosistem laut. Dampaknya pada produksi nelayan. “Kalau menurut penelitian, ada sekitar 640.000 hingga 1 juta alat tangkap di seluruh wilayah perairan di Indonesia,” kata Wahid dihubungi, Senin, (8/7/2024).
Kata dia, sarana tangkap semestinya dikelola di daratan dan diolah lebih ramah lingkungan. Sebab itu, perlu ada kesadaran dari nelayan dalam menjaga kelestarian perairan di wilayah masing-masing.
Persoalan semakin sulit tatkala sampah plastik tidak dapat diurai dan berubah menjadi mikroplastik lalu dimakan ikan. Mikroplastik mengendap di tubuh ikan. Padahal, produksi ikan terdistribusikan di masyarakat.
“Studi menemukan bahwa masyarakat Indonesia mengonsumsi sekitar 15 gram mikroplastik per bulan. Sebagian besar partikel ini berasal dari sumber air,” katanya.
Sampah plastik, kata dia menjadi permasalahan khusus di mana penanganannya harus dilakukan terpadu dari hulu hingga hilir mulai dari sumber timbulan sampah hingga pengolahan sampahnya. Paling tidak, nelayan perlu menjaga lingkungan perairan di wilayahnya masing-masing.
BACA JUGA: Gegara Sampah Plastik, Produksi Perikanan Tangkap di Gunungkidul Turun hingga 80 Persen
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Gunungkidul, Rujimanto mengatakan jaring-jaring nelayan sering memuat sampah-sampah di lautan. Nelayan terpaksa memutus jaring ini agar mereka tetap dapat melaut. “Nelayan tidak kuat membawa sampah. Daripada kapal kami tenggelam,” kata Rujimanto.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul, Antonius Hary Sukmono mengatakan sampah plastik di lautan Gunungkidul berasal dari banyak tempat. Penanganannya pun juga menjadi kewenangan Pemda DIY.
“Tetapi begini, kami ada program Pantai dan Laut Lestari. Ini bagian dari pembersihan di pantai. Kami sudah melakukan. Kalau di tengah laut, SDM [sumber daya manusia] dan sarana kami tidak punya,” kata Hary.
Adapun sampah yang berasal dari pelaku wisata juga dikelola oleh pemilik sampah. DLH juga telah membangun TPS3R di Kalurahan Kemadang. TPS3R ini mengakomodasi sampah dari kawasan pantai.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Empat SPPG MBG di Sleman berstatus suspend per 3 Agustus 2026. Tiga menjalani renovasi, satu terkendala administrasi.
Jadwal KRL Jogja-Solo Senin 10 Agustus 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jam keberangkatan, stasiun tujuan, dan tarif Rp8.000.
Temuan beras fortifikasi tak sesuai standar mendorong Bapanas memperluas pengawasan terhadap 40 merek di 11 provinsi.
Simak harga dan spesifikasi Samsung Galaxy Z Fold8, Z Flip8, dan Z Fold8 Ultra, termasuk layar, kamera, chipset, baterai, dan memori.
Kapolri Listyo Sigit Prabowo mengapresiasi 35.936 peserta E-Sports Kapolri Cup 2026 dan menargetkan kenaikan 10 kali lipat.
Kota Magelang dinilai punya potensi menjadi contoh toleransi beragama melalui keberagaman, dialog lintas iman, dan gotong royong.