43 Warga Binaan Lapas Kelas IIB Wonosari Ikut Wisuda Khotmil Quran

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Kamis, 05 Desember 2024 07:37 WIB
43 Warga Binaan Lapas Kelas IIB Wonosari Ikut Wisuda Khotmil Quran

Warga Binaan Pemasyarakatan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Wonosari sedang mengikuti Wisuda Santri di Lapas, Wonosari, Gunungkidul, Rabu (4/12/2024)./ Harian Jogja - Andreas Yuda Pramono

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Sebanyak 43 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Wonosari mengikuti wisuda santri pada Rabu (4/12/2024). Wisuda santri yang digelar kali ketiga ini merupakan tahap akhir WBP untuk Khotmil Quran dan Khatam Iqro.

Mentor Santri, Gunarto mengatakan tidak ada kendala yang menghambat dia dalam memandu WBP Khotmil Quran dan Khatam Iqro.

“Kalau lama prosesnya itu soalnya ada yang dari awal tidak mengenal huruf Alquran. Dari tidak pernah memegang Alquran, sekarang sudah khatam. Kalau target khatam Alquran ya sembilan bulan. Kalau Iqro kami target enam bulan,” kata Gunarto yang juga seorang WBP, Rabu.

Dalam mementori, Gunarto menerangkan dia memulai dengan membaca Iqro per jilid. Setelah itu, WBP akan masuk ke membaca Alquran. Dia berharap WBP yang telah mengikuti wisuda dapat mengamalkan bacaan di kehidupan bermasyarakat dan bernegara selesai menjalani masa pidana.

BACA JUGA: Keluarga Mary Jane Diperkirakan Berkunjung ke Gunungkidul Sebelum Hari Raya Natal 2024

Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kementerian Hukum dan HAM DIY, Muhammad Ali Syeh Banna mengatakan program pembinaan kepribadian kepada WBP dapat menjadi ilmu yang bermanfaat setelah WBP selesai menjalani masa pidana. Dia berharap pembinaan itu berjalan terus setiap tahun.

Menurut Ali, WBP bahkan dapat mengajarkan ilmu yang mereka dapat kepada masyarakat atau keluarga. WBP bahkan dapat menjadi guru mengaji.

Kepala Kantor Kementerian Agama Gunungkidul, Mukotip mengatakan program Khotmil Quran dan Khatam Iqro dilakukan dengan mendasarkan pada visi-misi Kemenag RI, meningkatkan keimanan dan ketakwaan.

Mukotip menambahkan program tersebut dapat membantu WBP dalam menyeimbangkan kehidupan dari sisi spiritual. Kehidupan yang seimbang antara hal-hal yang sifatnya duniawi dan rohani dapat membawa seseorang ke kondisi tenteram.

“Kelulusan ini artinya WBP sudah fasih dan bisa jadi ustad. Bisa jadi khotib juga,” kata Mukotip.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online