Hujan Mulai Turun, Kekeringan di Gunungkidul Belum Teratasi
Hujan ringan mulai terpantau di Gunungkidul, tetapi kekeringan masih berlangsung. BPBD menyiapkan anggaran Rp2,359 miliar untuk distribusi air bersih.
Cuaca ekstrem - ilustrasi/freepik
Harianjogja.com, JOGJA - Wilayah DIY dan sekitarnya masih akan diguyur hujan dengan intensitas tinggi dalam beberapa waktu ke depan. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Jogja, Warjono, dalam acara menghadapi cuaca ekstrem di DPRD DIY, Rabu (18/12/2024).
Warjono menjelaskan bahwa fenomena El Nino-Southern Oscillation (ENSO) atau La Nina menjadi salah satu faktor utama penyebab tingginya curah hujan di wilayah ini. Kondisi ENSO yang saat ini aktif membuat wilayah Indonesia, termasuk Jogja, menjadi lebih basah. Selain itu, indeks Indian Ocean Dipole (IOD) juga turut berkontribusi, ditambah dengan pembentukan awan-awan tebal yang semakin meningkatkan potensi hujan.
"Prakiraan untuk dasarian II Desember ini, kita masih akan mengalami kondisi yang cukup basah dengan curah hujan yang tinggi. Namun, memasuki dasarian III Desember, intensitas hujan diprediksi mulai berkurang. Menjelang tahun baru, cuaca diperkirakan sudah tidak terlalu ekstrem," ungkap Warjono.
Meskipun demikian, BMKG tetap mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, terutama bagi warga yang tinggal di daerah rawan bencana. Peta peringatan dini yang dikeluarkan BMKG menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Gunungkidul masih berstatus siaga dengan potensi curah hujan mencapai 200-300 mm per dasarian.
"Masyarakat diimbau untuk selalu memantau informasi cuaca terkini dari BMKG. Persiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk menghadapi cuaca ekstrem, seperti membersihkan saluran air, mengecek kondisi rumah, dan menyiapkan perlengkapan darurat," kata Warjono.
Kepala Pelaksana BPBD DIY, Noviar Rahmad mengungkapkan ada potensi bencana yang mengintai di tengah keramaian wisatawan selama libur Nataru. Diperkirakan sekitar 9,4 juta pengunjung akan memadati DIY selama periode tersebut. "Jumlah pengunjung yang sangat signifikan ini meningkatkan risiko terjadinya korban jika terjadi bencana," katanya.
BPBD DIY mendorong pendirian posko Nataru yang melibatkan berbagai pihak terkait. Posko ini diharapkan dapat berfungsi sebagai pusat koordinasi, informasi, dan evakuasi jika terjadi bencana. "Posko Nataru akan menjadi garda terdepan dalam upaya melindungi masyarakat," ujar Noviar.
Selain pendirian posko, masyarakat juga diimbau untuk meningkatkan kesiapsiagaan dengan selalu mengikuti perkembangan informasi cuaca dan menyiapkan perlengkapan darurat. "Masyarakat harus selalu waspada dan siap menghadapi segala kemungkinan," pungkas Noviar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Hujan ringan mulai terpantau di Gunungkidul, tetapi kekeringan masih berlangsung. BPBD menyiapkan anggaran Rp2,359 miliar untuk distribusi air bersih.
Jadwal KRL Jogja-Solo 27 Oktober 2026 tersedia dalam 15 perjalanan. Simak jadwal tiap stasiun dan tarif tiket Rp8.000.
Eatsambel memperluas distribusi ke 41 jaringan ritel modern di Jabodetabek dan menargetkan pertumbuhan bisnis 200% pada 2027.
Dinkominfo Kabupaten Pekalongan studi banding ke Bantul untuk mempelajari Satu Data Indonesia, statistik sektoral, geospasial, dan keamanan informasi.
Operasi Patuh Progo 2026 di Gunungkidul berlangsung 26 Oktober–8 November. Simak delapan sasaran penindakan dan pembagian sanksi pelanggaran.
DPRD Kulonprogo menilai retribusi digital Pantai Glagah masih berpotensi bocor. CCTV dan pengawasan pengunjung dinilai perlu diperkuat.