Fakta Janggal Temuan 11 Bayi di Pakem Sleman, KPAI Buka Suara
KPAI soroti kejanggalan temuan 11 bayi di Sleman. Diduga ada praktik perdagangan bayi berkedok adopsi dan penitipan anak.
Salah satu sudut pengembangan kawasan wisata Gunung Api Purba Nglanggeran, Gunungkidul/JIBI-Harian Jogja
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL--Dinas Pariwisata (Dispar) Gunungkidul menyampaikan pariwisata berbasis masyarakat/ community based-tourism (CBT) menjadi daya tarik wisata/ objek wisata yang ditonjolkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dalam mewujudkan pariwisata berkualitas di Bumi Handayani.
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Dispar Gunungkidul, Supriyanta mengatakan CBT, selain menjadi objek wisata, menjadi sarana pemberdayaan masyarakat di bawah payung Desa Wisata (DW).
Salah satu DW paling menonjol di Bumi Handayani adalah DW Nglanggeran. Menurut dia, DW Nglanggeran menjadi contoh dan dapat dikembangkan di DW lain. Upaya ini akan Dispar arahkan ke pengembangan pariwisata berkualitas.
Konsep tersebut mendasarkan pada tiga pilar, yaitu keberlanjutan, pengalaman wisata yang unik, dan keseimbangan antara ekonomi, sosial, dan lingkungan. Hal ini didukung dengan potensi wisata Gunungkidul baik alam maupun budaya. Dari konsep tersebut, hasil yang Dispar harapkan adalah kepuasan wisatawan dan manfaat maksimal bagi masyarakat lokal.
Supriyanta memberi contoh kebijakan yang dapat diambil dari sisi pelestarian lingkungan seperti pengelolaan limbah, pembatasan jumlah pengunjung, dan penggunaan energi terbarukan. Adapun pengembangan budaya lokal dapat dilakukan dengan menyajikan kearifan lokal dalam atraksi wisata, festival, dan pengalaman/ interaksi langsung.
“Dalam mewujudkan pariwisata berkualitas itu, perlu ada sinergi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan pelaku industri pariwisata,” kata Supriyanta dihubungi, Jumat (20/12).
BACA JUGA: Pentas Lima Agama Akan Hadir di Malam Tahun Baru Alun-Alun Wonosari
Setidaknya ada dua hal utama yang perlu dilakukan guna mewujudkan pariwisata berkualitas, yaitu perencanaan strategis dan pengelolaan destinasi wisata.
Perencanaan strategis artinya ada pemetaan potensi dan kelemahan melalui identifikasi potensi wisata, risiko kerusakan lingkungan, dan tantangan pengelolaan. Adapuun pengelolaan destinasi wisata artinya pengembangan infrastruktur melalui perbaikan akses jalan, sanitasi, fasilitas umum, dan layanan informasi wisata.
Kepala Dispar Gunungkidul, Oneng Windu Wardana mengatakan perlu pelibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan sumber daya pariwisata, diversifikasi produk wisata seperti wisata budaya dan alam, serta pemasaran digital untuk promosi.
“Diversifikasi produk wisata, seperti ekowisata, agrowisata, dan wisata budaya, menjadi strategi untuk memperkaya pilihan destinasi,” kata Windu.
Windu menegaskan kunci utama dalam pembangunan kepariwisataan adalah kolaborasi antarpemangku kepentingan. Adanya kolaborasi dapat menciptakan situasi yang kondusif, sehingga Gunungkidul dapat mewujudkan pariwisata yang berkualitas dan memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan, masyarakat, dan perekonomian daerah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
KPAI soroti kejanggalan temuan 11 bayi di Sleman. Diduga ada praktik perdagangan bayi berkedok adopsi dan penitipan anak.
Jadwal KRL Jogja–Solo terbaru 2026 lengkap dari Tugu ke Palur. Tarif Rp8.000, perjalanan cepat, praktis, dan hemat.
DPRD Bantul dukung penataan guru honorer jadi PPPK. Pemkab setop rekrutmen honorer baru hingga 2026.
Jadwal KRL Solo–Jogja terbaru 2026 lengkap dari Palur ke Tugu. Tarif Rp8.000, perjalanan cepat dan efisien.
3 pelaku pembacokan pelajar di SMAN 3 Jogja ditangkap di Cilacap. Polisi masih memburu 3 pelaku lain terkait konflik geng.
Dua kakak beradik tewas dalam kecelakaan melibatkan dua truk di Ngawi. Polisi masih selidiki identitas kendaraan.