Festival Jeron Beteng Jogja, Ada Layang-Layang hingga Pawai Ogoh-Ogoh
Event ini merupakan upaya Dispar dalam rangka memperkenalkan destinasi Njeron Benteng sekaligus destinasi wisata Jogja sisi selatan.
Pelaksanaan pesantren dhuafa yang diinisiasi oleh Baznas Kota Jogja pada Ramadan tahun lalu – Dokumentasi Baznas Kota Jogja
Harianjogja.com, JOGJA – Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Jogja menggelar berbagai rangkaian acara selama bulan Ramadan 1446 Hijriah. Salah satunya adalah pesantren dhuafa.
Ketua Baznas Kota Jogja Syamsul Azhari menuturkan pesantren dhuafa rutin digelar setiap tahun pada bulan Ramadan. Pesantren Dhuafa tak hanya menyasar pada kaum dhuafa. Namun, juga para pekerja informal seperti tukang becak, tukang kayu, hingga tukang bangunan yang ada di Kota Jogja.
Pesantren dhuafa diadakan untuk mengajak para dhuafa hingga pekerja informal lebih fokus dalam beribadah selama Ramadan. Recanannya akan ada 50 dhuafa dan pekerja informal yang akan disasar. Seluruhnya dipilih berdasarkan rekomendasi takmir masjid di masing-masing wilayah.
“Beliau-beliau (peserta) itu juga minimal ya pernah ke masjid lah. Karena memang di salah satu syarat itu nanti ada keterangan dari takmir kalau beliaunya itu jamaah. Termasuk yang tukang becak itu kan banyak salat di masjid,” ujar Syamsul.
BACA JUGA: Pemda DIY Pastikan Layanan Publik Selama Ramadan Berjalan Normal
Dia menambahkan nantinya para peserta pesantren dhuafa akan benar-benar fokus beribadah mulai pukul 15.00 WIB, atau pada saat waktu ashar. Pelaksanaan ibadah akan dilakukan di Masjid Diponegoro Balai Kota Jogja. Mereka akan mengikuti rangkaian kegiatan seperti pengajian menjelang buka puasa, berbuka puasa bersama, salat magrib dan isya berjamaah, hingga pelaksanaan ibadah salat tarawih. Di sisi lain mereka juga akan mengikuti kajian tarawih dan tadarus Al-quran hingga pukul 22.00 WIB.
“Selebihnya mereka bisa pulang atau bisa tetap di masjid,” imbuhnya.
Syamsul mengatakan targetnya masing-masing peserta setidaknya bisa menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh. Lalu, bisa salat berjamaah di masjid dan bisa membaca al-quran hingga khatam minimal satu kali. Selain bisa fokus beribadah, masing-masing peserta juga akan mendapatkan uang saku sebesar Rp 1.000.000. Ini sesuai dengan semangat yang diusung, yakni “Golek Ganjaran, Entuk Bayaran”.
“Termasuk kita beri bahan makan sehingga kalau memang terpaksanya mereka yang ngayuh becak tadi itu ya karena kondisi ingin istirahat, nanti tetap mereka masih mendapatkan penghasilan. Karena di akhir Ramadan itu nanti mereka mendapatkan bisyaroh (tanda terima kasih) dari kita,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Event ini merupakan upaya Dispar dalam rangka memperkenalkan destinasi Njeron Benteng sekaligus destinasi wisata Jogja sisi selatan.
Lima WNI dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0 dilaporkan ditahan Israel di perairan Siprus.
Jemaah haji asal Solo menjalani amputasi jempol kaki di Makkah akibat komplikasi diabetes saat ibadah haji 2026.
Harga minyak mentah Indonesia April 2026 melonjak menjadi 117,31 dolar AS per barel akibat konflik Timur Tengah dan Selat Hormuz.
Dewan Pers mendesak pemerintah Indonesia menempuh jalur diplomatik untuk membebaskan tiga jurnalis yang ditahan Israel.
Sri Wagiyati, pedagang asongan stadion di Jogja, menemukan keluarga baru lewat kedekatannya dengan suporter BCS, Brajamusti, dan Slemania.