Koperasi Merah Putih di DIY Tumbuh Sesuai Kebutuhan Warga
Koperasi Merah Putih di DIY berkembang sesuai kebutuhan warga, mulai dari distribusi pupuk hingga pemasok sembako dan UMKM.
Lurah Keparakan Yusup Ahbari memasang lubang resapan biopori di wilayah Kelurahan Keparakan beberapa waktu lalu. (Dok. Kelurahan Keparakan)
Harianjogja.com, JOGJA–Warga Kelurahan Keparakan, Kemantren Mergangsan, Kota Jogja, mengolah sampah organik dengan menggunakan lubang resapan biopori. Sampah yang diolah tersebut kini dapat dimanfaatkan warga untuk memupuk tanaman.
Lurah Keparakan, Yusup Ahbari menyampaikan pengelolaan sampah organik menggunakan lubang resapan biopori tersebut bermula dari keresahan warga setempat dengan adanya tumpukan sampah organik yang ada di Kota Jogja.
Menurutnya, sampah organik menjadi penyumbang sampah tertinggi di Kota Jogja lantaran hampir setiap rumah tangga memproduksi sampah organik. Karena itu, Yusup menilai, setiap rumah tangga perlu pengolah sampah organiknya masing-masing untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.
Dia menuturkan pengolahan sampah organik dengan menggunakan lubang resapan biopori telah dilakukan warga Keparakan sejak pertengahan tahun 2024. Saat itu pihaknya menggelar sosialisasi untuk mengajak masyarakat mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos dengan menggunakan lubang resapan biopori.
Saat itu, Kelurahan Keparakan menggelar 10 kali pelatihan pengolahan sampah organik dengan menggunakan lubang resapan biopori. Pelatihan pengolahan sampah tersebut digelar di 14 bank sampah yang ada di wilayah tersebut.
“Tujuan pelatihan ini untuk mengatasi permasalahan sampah yang dihadapi masyarakat Kota Jogja. Dengan metode ini diharapkan masyarakat Kota Jogja dapat berkontribusi mengurangi sampah organik dari skala rumah tangga,” ujarnya, Senin (9/6/2025).
Kelurahan Keparakan juga menggandeng pengurus bank sampah di setiap RW untuk menggencarkan gerakan tersebut. Menurut Yusup, pengurus bank sampah dapat menjadi penggerak untuk mengajak masyarakat merubah pola pengelolaan sampah yang sebelumnya hanya dibuang ke depo menjadi diolah secara mandiri pada setiap rumah tangga.
Menurut Yusup, pengelolaan sampah organik dengan menggunakan lubang resapan biopori dinilai berhasil. Hingga saat ini warga di setiap RW masih mengolah sampah organik menggunakan lubang resapan biopori. Saat ini, telah ada lebih dari 700 titik lubang resapan biopori yang digunakan untuk mengolah sampah organik secara rutin.
Yusup menilai minat warga Keparakan untuk mengolah sampah organik menggunakan metode tersebut lantaran pengelolaan sampah dengan metode tersebut dinilai mudah dilakukan dan memberikan banyak manfaat. Selama ini, pengolahan sampah dilakukan dengan menaruh sampah organik ke dalam lubang resapan biopori. Kemudian, beberapa minggu kemudian sampah organik tersebut akan berubah menjadi pupuk kompos. Warga dapat memanfaatkan pupuk kompos tersebut hanya dengan menyeroknya dari dalam lubang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Koperasi Merah Putih di DIY berkembang sesuai kebutuhan warga, mulai dari distribusi pupuk hingga pemasok sembako dan UMKM.
CEO OpenAI Sam Altman menyebut dunia telah memasuki era singularitas AI. Pernyataan itu memicu perdebatan baru tentang manfaat dan risiko kecerdasan buatan bagi
Satpol PP dan Dishub Bantul menemukan 11 pelanggaran penyelenggaraan parkir. Tiga kendaraan yang parkir di area terlarang depan IGD RSUD Panembahan Senopati jug
Penelitian mengungkap keterikatan emosional terhadap mantan pasangan bisa bertahan lama. Rata-rata seseorang membutuhkan sekitar empat tahun agar perasaan itu b
Piala Dunia 2030 terancam boikot negara-negara Eropa setelah UEFA mengecam rencana FIFA membentuk FIFA Forward Enterprise untuk mengelola hak komersial turnamen
Cuaca ekstrem dan musim bediding meningkatkan risiko penyakit ikan di Sleman. Penyuluh meminta pembudidaya menunda tebar benih gurame hingga September atau Okto