Pemulihan SDN Kokap Pascalongsor Hampir Rampung, Siswa Ditargetkan Belajar Aman
Revitalisasi SDN Kokap di Kulonprogo pascalongsor mencapai 90 persen. Disdikpora menargetkan sekolah kembali aman dan nyaman untuk belajar.
TPA Banyuroto./Harian Jogja
Harianjogja.com, KULONPROGO - Pengembangan TPA Banyuroto, Kulonprogo yang direncanakan dilakukan penambahan alat baru di 2025 batal lantaran adanya pemangkasan dana keistimewaan (Danais) DIY. UPT Persampahan dan Pertamanan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kulonprogo akan mengoptimalkan fasilitas yang ada. Operasional tidak terdampak meskipun Danais DIY untuk TPA Banyuroto dipangkas.
Kepala UPT Persampahan dan Pertamanan DLH Kulonprogo, Budi Purwanta memastikan pengolahan sampah tetap seperti sedia kala tidak terkendala pendanaan. Menurutnya, Danais 2024 yang dimiliki turut dioptimalkan untuk operasional dan peningkatan fasilitas. "Kami mengoptimalkan yang sudah ada dulu saja," katanya, Rabu (13/8/2025).
Biaya operasional yang dibutuhkan mencapai sekitar Rp3-4 miliar dalam setahun. Anggaran sebanyak itu sudah termasuk untuk tenaga sumber daya manusia (SDM) termasuk untuk alat dan pemeliharaannya. "Refocusing Danais tidak mengganggu kegiatan operasional," imbuh Budi.
BACA JUGA: TNI AL Bantah Copot Bendera One Piece di Perahu Nelayan Pantai Congot Kulonprogo
TPA Banyuroto mengelola sampah 32-33 ton dalam sehari. Padahal, daya tampungnya mencapai 50 ton perhari sampah yang mampu dikelola. Keterbatasan SDM, alat, dan anggaran mengakibatkan kapasitas tidak dimaksimalkan.
"Untuk saat ini SDM tidak kurang tetapi ketika sampahnya semakin menumpuk dan menambah jumlah sampah serta metode pengolahannya berubah kurang SDM," ucap Budi. Menurutnya, TPA Banyuroto mengelola sampah dari seluruh wilayah di Kulonprogo. Budi menjelaskan, kebanyakan sampah rumah tangga yang dikelola di TPA Banyuroto.
Banyaknya sampah rumah tangga itu tidak selalu dari rumah-rumah warga melainkan dari pasar ataupun hotel dan sejenisnya. Warga Kulonprogo memang secara perorangan masih mengelola masing-masing di rumahnya. "Kalau yang organik warga Kulonprogo masih pakai jugangan," tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Revitalisasi SDN Kokap di Kulonprogo pascalongsor mencapai 90 persen. Disdikpora menargetkan sekolah kembali aman dan nyaman untuk belajar.
Polda Metro Jaya menangkap 27 orang dalam penggerebekan Kampung Bahari. Polisi menyita sabu, ganja, ekstasi, mesin cetak pil, dan senjata api.
Veda Ega Pratama finis kedua Moto3 Malaysia 2026 di Sepang. Pembalap asal Gunungkidul itu kini naik ke posisi tujuh klasemen.
Polresta Sleman menyita 833 botol miras ilegal selama Oktober 2026. Razia menyasar warung, tempat usaha hingga gudang penyimpanan.
Oase Malioboro hadir sebagai destinasi wisata baru di Jogja dengan pertunjukan seni, budaya Jawa, teknologi imersif, dan ruang hijau.
Simulasi UMP 2027 jika naik 9,5% menempatkan upah minimum Jogja sebesar Rp2,64 juta. Cek proyeksi 38 provinsi lainnya.