Waspada Hantavirus di Bantul dari Tikus Rumah Bisa Picu Infeksi Serius
Dinkes Bantul ingatkan bahaya hantavirus dari tikus, warga diminta waspada dan jaga kebersihan lingkungan.
Pemasangan EWS longsor di Bukit Gunung Empyak, Dlingo, Bantul, Rabu (2/1/2019). - Harian Jogja/Desi Suryanto
Harianjogja.com, BANTUL-Bantul membutuhkan 12 EWS untuk mengantisipasi potensi bencana banjir. Oleh karena itu, BPBD Bantul berencana menambah 11 unit baru yang akan dipasang di beberapa titik sungai.
Hingga saat ini Kabupaten Bantul baru memiliki satu unit early warning system (EWS) banjir yang dipasang di Sungai Celeng sejak 2023. Menurut pengalaman pada 2017, kawasan tersebut sering dilanda banjir sehingga dijadikan prioritas pemasangan awal.
BACA JUGA: Bantul Baru Punya EWS Tsunami 29 Titik
“Sungai Celeng dipilih karena menurut pengalaman 2017 sering terjadi banjir,” jelas Staf Pengolah Data dan Informasi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Bantul, Budianta, Minggu (14/9/2025).
“Masing-masing dua unit di Sungai Winongo, dua unit di Sungai Bedhog, dua unit di Sungai Gajah Wong, dua unit di Sungai Opak, satu unit di Sungai Celeng, dan dua unit di Sungai Code,” paparnya.
Namun, dari total rencana tersebut, baru lima titik yang diajukan sebagai prioritas.
“Lima titik prioritas itu berada di Sungai Bedhog, Sungai Celeng, Sungai Winongo, dan dua unit di Sungai Opak. Diprioritaskan titik itu karena lebih sering banjir,” tuturnya.
Budi mengungkapkan, pengajuan penambahan EWS sebenarnya sudah dilakukan sejak 2024. Hanya saja, karena pengajuan danais berlaku dua tahun sebelumnya, permohonan tersebut baru bisa dipertimbangkan untuk tahun 2026.
“Ternyata belum lolos, maka harapannya 2027 bisa direalisasikan,” katanya.
Kepala Pelaksana BPBD Bantul, Agus Yuli Herwanta, menegaskan Sungai Celeng memang termasuk kawasan dengan potensi banjir tinggi. Kondisi tersebut dipengaruhi pendangkalan dan penyempitan aliran sungai.
“Pendangkalan juga akibat mungkin banyak tanaman pohon pisang, rumput, rumpun bambu, dan sebagainya,” jelasnya.
Menurut Agus, risiko banjir di Sungai Celeng akan meningkat signifikan jika hujan turun selama lima hingga enam jam berturut-turut. Untuk mengantisipasi hal itu, BPBD Bantul telah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO).
“Pelaksanaannya seperti apa itu memang menjadi kewenangan BBWSSO,” lanjutnya.
Selain dengan BBWSSO, BPBD Bantul juga telah menggelar rapat bersama Sekretaris Daerah (Sekda) Bantul untuk mengusulkan normalisasi Kali Celeng. Yuli pun mengimbau masyarakat agar ikut menjaga lingkungan sungai.
“Salah satunya dengan tidak membuang sampah sembarangan. Jika memungkinkan, warga diharapkan melakukan kerja bakti untuk membantu menormalisasi Sungai Celeng. Selain itu juga bisa memperdalam maupun memperluas sungai sesuai kondisi awal,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dinkes Bantul ingatkan bahaya hantavirus dari tikus, warga diminta waspada dan jaga kebersihan lingkungan.
Polresta Sleman bentuk tim khusus untuk selidiki kasus 11 bayi di Pakem, termasuk dugaan adopsi ilegal dan TPPO.
Grand Rohan Jogja kembali menghadirkan ruang apresiasi seni melalui pameran seni lukis bertajuk “The Beauty of Color”. Pameran ini resmi dibuka Senin (18/5)
Dua wakil Indonesia lolos ke babak utama Malaysia Masters 2026, drama kualifikasi warnai hasil di Axiata Arena Kuala Lumpur.
Samsung Messages resmi dihentikan Juli 2026. Pengguna Galaxy wajib pindah ke Google Messages. Simak cara backup data dan jadwalnya.
Gerbang Tol Trihanggo Sleman usung siluet Ratu Boko dan aksara Jawa, jadi ikon budaya baru di Tol Jogja–Solo.