Tragedi di Parangtritis Istri Tikam Suami di Losmen
Istri diduga tikam suami di losmen Parangtritis, Bantul. Polisi amankan pelaku dan selidiki motif KDRT.
Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta, Alia Swastika dalam sesi jumpa pers Minggu (5/10) di Kampung Mataraman/ Harian Jogja- Kiki Luqman
Harianjogja.com, BANTUL—Biennale Jogja kembali hadir tahun ini dengan mengusung tajuk “Kawruh: Tanah Lelaku”.
Pembukaan resmi yang berlangsung Minggu (5/10/2025) di Kampoeng Mataraman, menandai dimulainya Babak II Biennale Jogja ke-18 yang akan digelar hingga 20 November 2025.
Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta, Alia Swastika, menjelaskan bahwa Biennale Jogja tetap konsisten menjadikan Global Selatan sebagai pijakan utama.
Ia melihat ada banyak kesamaan pengalaman antara masyarakat di Indonesia dengan komunitas di negara lain, terutama yang memiliki sejarah kolonialisme.
“Kita mencoba mencari benang merah praktik kesenian dan kebudayaan di berbagai tempat. Misalnya, tradisi masyarakat adat Taiwan ternyata sangat dekat dengan apa yang dimiliki desa-desa di Jawa. Pameran kali ini menghadirkan koneksi semacam itu,” ungkap Alia, Minggu.
Menurutnya, Biennale Jogja juga berusaha menjaga keberlanjutan kerja bersama komunitas, bukan sekadar proyek jangka pendek.
“Kami tetap bekerja dengan warga Panggungharjo dan Bangunjiwo, sama seperti dua tahun lalu. Penting menjaga hubungan jangka panjang, agar seni bukan hanya hadir saat Biennale, tapi juga menjadi bagian dari keseharian masyarakat,” tuturnya.
Alia menambahkan, misi utama Biennale Jogja adalah membangun narasi internasionalisme dengan perspektif Global Selatan, bukan sekadar berorientasi pada negara-negara besar.
“Kami ingin mengusung gagasan dari negara-negara Global Selatan yang punya banyak kesamaan sejarah, tradisi, dan pengalaman kolonialisme. Di situlah kekuatan Biennale Jogja,” tegasnya.
Sementara itu, kurator Biennale Jogja 18, Bob Edrian, menjelaskan bahwa tema “Kawruh” diambil dari bahasa Jawa yang berarti pengetahuan hasil akumulasi pengalaman. Konsep ini, menurutnya, merupakan kelanjutan dari edisi Biennale Jogja 17 yang banyak bekerja bersama warga desa.
“Biennale Jogja 18 tahun ini mengajukan tema Kawruh: Tanah Lelaku. Jadi kami di tim kuratorial ingin melanjutkan praktik yang sudah dilakukan dua tahun lalu, terutama keterlibatan dengan warga di desa Panggungharjo, Bangunjiwo, dan juga area di Kota Yogyakarta,” kata Bob.
Ia menekankan bahwa kawruh bukanlah pengetahuan yang abstrak, melainkan sesuatu yang hidup dalam keseharian dan tradisi masyarakat. Hal inilah yang kemudian dijadikan titik temu bagi para seniman dari berbagai negara.
“Seniman yang terlibat tidak hanya menangkap kawruh yang ada di Jawa atau Indonesia, tetapi juga membawa kawruh dari tempat asal mereka. Ada seniman dari Taiwan, Jepang, sampai Uni Emirat Arab. Mereka akan berdialog dengan apa yang ada di sini,” jelasnya.
Sekitar 60 seniman berpartisipasi dalam Biennale Jogja 18, terdiri atas 57 nama resmi serta sejumlah kolaborator. Bob menyebut mereka dibagi ke dalam beberapa pendekatan kuratorial, mulai dari yang merespons tema secara langsung, berkolaborasi lintas medium, hingga tinggal bersama warga untuk menghasilkan karya bersama.
“Kurasi kali ini menekankan pada kolaborasi dan lintas media. Jadi bukan hanya medium konvensional, tapi juga tradisi, kerajinan lokal, sampai media baru. Total ada sekitar 10 hingga 11 venue. Kami berharap masyarakat bisa berkeliling, tidak hanya ke satu lokasi, untuk benar-benar merasakan pengalaman Biennale,” ujarnya.
Biennale Jogja 18 Babak II berlangsung di tiga lokasi utama, yaitu di Kota Yogyakarta, Desa Panggungharjo, dan Desa Bangunjiwo. Gelaran ini menghadirkan karya lintas negara dan lintas lokalitas yang diharapkan dapat membangun imajinasi kolektif baru melalui seni.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Istri diduga tikam suami di losmen Parangtritis, Bantul. Polisi amankan pelaku dan selidiki motif KDRT.
Pembangunan aviary Purwosari Gunungkidul kembali dilanjutkan tahun ini dengan anggaran Rp5,6 miliar dari Dana Keistimewaan DIY.
Amerika Serikat disebut telah menghabiskan Rp507 triliun untuk operasi militer melawan Iran sejak konflik pecah Februari 2026.
Jadwal KRL Jogja-Solo Rabu 13 Mei 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur, tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.
Festival Dalang Cilik Kulonprogo menjadi ajang regenerasi dalang muda dan pelestarian budaya wayang di kalangan pelajar.
Jadwal KRL Solo-Jogja Rabu 13 Mei 2026 lengkap dari Palur hingga Yogyakarta dengan tarif Rp8.000 sekali perjalanan