Musim Ubur-Ubur Tiba Wisatawan Pantai Glagah Perlu Waspada
Dua anak tersengat ubur-ubur api di Pantai Glagah. Wisatawan diminta waspada karena musim kemunculan rawe masih berlangsung hingga Agustus.
Kondisi Jembatan Apung yang berada di sisi timur Kali Progo. Ini merupakan lokasi yang sebelumnya terdapat Jembatan Apung sebelum akhirnya jebol karena debit air yang meningkat./ Harian Jogja-Khairul Ma'arif
KULONPROGO—Jembatan apung yang menghubungkan Kabupaten Kulonprogo dan Kabupaten Bantul di atas Kali Progo mengalami kerusakan. Diduga, penyebab rusaknya jembatan tersebut karena debit air yang meningkat pascahujan, membuat Kali Progo banjir sehingga jembatan tidak kuat menahan arus deras.
Lokasi jembatan dari sisi barat berada di Kalurahan Ngentakrejo, Kapanewon Lendah, Kulonprogo. Sementara sisi timurnya terletak di Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Panjatan, Kabupaten Bantul.
Lurah Ngentakrejo, Sumardi, saat dikonfirmasi membenarkan rusaknya jembatan apung yang dibangun secara mandiri oleh warganya itu. Menurutnya, jembatan tersebut jebol setelah hujan seharian mengguyur wilayahnya pada Selasa (21/10/2025) malam.
"Sudah jebol jembatannya, tidak tersambung lagi, sudah tidak beroperasi, hanyut ke sisi timur kali," katanya saat dihubungi, Kamis (23/10/2025).
Kondisi tersebut membuat jembatan apung itu sudah tidak bisa diseberangi oleh pengendara roda dua maupun roda empat. Sumardi membenarkan hujan deras dan banjir menyebabkan jembatan yang melintang di sungai itu jebol. Menurutnya, saat detik-detik jebol, tidak ada yang melintasi jembatan apung tersebut.
"Tidak ada yang melintas karena sudah ada air yang deras sehingga tidak boleh lewat, kan ada yang jaga," tambahnya.
Jembatan apung tersebut dibangun secara swadaya dengan pendanaan dari tiga pengusaha tahu di Padukuhan Temben, yaitu Sudiman dan dua orang lainnya yang sama-sama bernama Sukidi. Dalam proses pembuatannya, jembatan apung itu menghabiskan dana mencapai Rp150 juta dari kocek ketiga pengusaha tahu tersebut.
Salah satu penyokong dana, Sukidi, mengaku jembatan apung itu sudah beroperasi selama 2,5 bulan. Setiap pengendara yang melintas diharapkan memberikan uang seikhlasnya untuk perawatan jembatan.
"Dari 2,5 bulan berjalan ini, walaupun ada yang bayar, belum balik modal Rp150 juta, boro-boro seluruhnya. Balik modal seperempatnya saja belum sampai," ungkapnya.
Sebaliknya, dia menceritakan bahwa sebelum jebol sudah mengeluarkan kocek lagi untuk perawatan dan perbaikan jembatan apung.
Sukidi menjelaskan, debit air yang meningkat di Kali Progo pada Selasa (21/10/2025) malam membuat tiang seling jembatan apung di sisi barat tidak kuat menahannya. Ditambah kondisi tiangnya yang tidak baik atau disebutnya cacat.
"Sehingga tiang seling yang sebelah barat untuk menarik jembatan patah," bebernya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dua anak tersengat ubur-ubur api di Pantai Glagah. Wisatawan diminta waspada karena musim kemunculan rawe masih berlangsung hingga Agustus.
Geopark Ijen akan menjalani revalidasi UNESCO pada 3-7 Agustus 2026 untuk mempertahankan status green card yang diraih sejak 2023.
PDI Perjuangan Kota Jogja menggelar pemeriksaan kesehatan gratis bagi lansia sekaligus mendorong kenaikan anggaran JSLU dan memperingati Kudatuli 1996.
DPRD Gunungkidul memprioritaskan Raperda Perlindungan dan Pemberdayaan Petani untuk meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas petani.
Delapan etnis Sumatra Utara memukau wisatawan dalam Pesona Budaya Sumatra Utara di Malioboro dengan pawai budaya dan tari kolosal.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan duka cita atas wafatnya Ali Khamenei dan pesan perdamaian dari Presiden Prabowo untuk Iran.