Tarif Air Curah DIY Bakal Naik, Pelanggan Bantul Waswas
PDAB Tirtatama DIY mengusulkan kenaikan tarif air curah Rp500 per meter kubik untuk menekan subsidi Pemda DIY yang membengkak.
Foto ilustrasi tepi sungai di kawasan Potrobayan./Twitter @Potrobayan
Harianjogja.com, BANTUL—Memasuki musim hujan potensi insiden kecelakaan (laka) air berpotensi teradi di sungai-sungai wilayah Bantul. Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan dengan tetap memperhatikan keselamatan terutama bagi anak-anak saat beraktivitas di perairan dan sungai berarus deras.
Kepala Seksi Operasi SAR DIY Distrik Bantul, Bondan Supriyanto, mengatakan wilayah Bantul memiliki karakteristik sungai yang kompleks, karena menerima aliran air dari wilayah utara, khususnya Sleman. Kondisi ini membuat debit air sungai di Bantul bisa meningkat drastis saat hujan deras, termasuk akibat banjir kiriman.
"Yang kami jaga itu, jangan sampai terjadi laka air akibat hujan atau banjir kiriman dari wilayah utara. Namun kalau memang terjadi, potensi SAR di Bantul sudah siap untuk melakukan evakuasi,” ujar Bondan, Senin (27/10/2025).
Ia menambahkan, Sungai Opak dan Oyo menjadi dua titik paling rawan kecelakaan air karena memiliki arus kuat serta struktur sungai yang kompleks. Sungai Opak, memiliki hulu di kawasan Merapi dan bermuara di pesisir selatan Bantul, membuat arusnya sulit diprediksi.
“Di sepanjang Sungai Opak itu banyak gua bawah tanah dan bantaran sungai kecil yang menyatu ke aliran utama. Begitu hujan deras, arus bisa tiba-tiba membesar,” katanya.
Berdasarkan catatan, sepanjang 2024 tercatat ada sembilan kasus laka sungai di Bantul yang tersebar di sejumlah titik. Hingga pertengahan 2025 sudah terjadi lima kejadian serupa. Curah hujan yang meningkat sejak akhir Oktober ini diprediksi membuat debit air di sejumlah sungai besar Bantul meningkat, sehingga butuh kewaspadaan ekstra.
Humas Basarnas Jogja, Pipit Eriyanto menyebut selain Sungai Progo dan Opak kawasan Srandakan di sisi timur Sungai Progo juga kerap menjadi lokasi insiden. Selain arus deras, dasar sungai di kawasan ini tidak stabil karena banyak bekas galian pasir.
“Yang Sungai Progo sisi timur, terutama Srandakan, itu juga sering terjadi laka air. Di bawahnya banyak bekas galian pasir, sehingga dasar sungainya tidak rata dan berbahaya,” ujarnya.
Pipit menambahkan kewaspadaan masyarakat menjadi kunci pencegahan insiden tersebut. Ia mengingatkan warga agar tidak bermain atau beraktivitas terlalu dekat dengan sungai ketika hujan deras atau saat debit air yang besar.
“Selain sungai, beberapa kasus laka air justru juga terjadi di aliran kecil atau parit tempat anak-anak bermain. Kami minta masyarakat lebih waspada,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PDAB Tirtatama DIY mengusulkan kenaikan tarif air curah Rp500 per meter kubik untuk menekan subsidi Pemda DIY yang membengkak.
Dinas Kesehatan Gunungkidul memastikan belum ada kasus hantavirus, namun warga diminta menjaga kebersihan dan waspada penularan.
DisperinkopUKM Kulonprogo mempercepat pendampingan sertifikasi halal gratis bagi UMKM sebelum kuota Sehati DIY ditutup akhir Mei 2026.
PBB mendesak investigasi independen atas dugaan penyiksaan dan kematian tahanan Palestina di pusat penahanan Israel.
Persib Bandung semakin dekat dengan gelar juara Super League 2025/2026 usai menang dramatis 2-1 atas PSM Makassar di Parepare.
Simak jadwal terbaru KRL Jogja-Solo Senin 18 Mei 2026 dari Stasiun Yogyakarta sampai Palur. Tarif tetap Rp8.000 sekali jalan.