Pasar Sentul dan Terban Sepi, Dewan Minta Intervensi Pemkot Jogja
DPRD Kota Jogja meminta Pemkot segera menghidupkan Pasar Sentul dan Terban yang masih sepi melalui strategi pengelolaan dan penataan pasar.
Lalu lintas di Simpang Jembatan Kewek. - Harian Jogja/Gigih M Hanafi
Harianjogja.com, JOGJA—Warga menilai penutupan Jembatan Kewek belum disertai arahan memadai sehingga banyak pengendara salah rute sejak hari pertama penutupan.
Informasi yang diterima warga masih sebatas pemberitahuan penutupan tanpa penjelasan teknis rute alternatif. Akibatnya, sejumlah gang sempit di kawasan pemukiman terancam menjadi jalur baru menuju Malioboro.
Petugas Dishub dan kepolisian langsung menutup akses menggunakan water barrier, sementara pengendara seperti Yosi terpaksa memutar lebih jauh. Meski begitu, ia berharap hasil pembangunan nantinya membawa peningkatan kenyamanan bagi pengguna jalan.
Ketua RW 01, Ledok Tukangan, Adi Kusuma mengaku telah mendapatkan informasi dari sosial media dan Kelurahan Tegal Panggung terkait penutupan Jembatan Kewek beberapa waktu lalu. Namun, informasi yang diberikan hanya sebatas pemberitahuan penutupan jembatan tersebut, tidak ada informasi terinci mengenai rekayasa lalu lintas yang diterapkan di sana.
“Kalau dari kelurahan hanya informasi umum. Detailnya kami belum tahu,” ujarnya dalam penutupan Jembatan Kewek pada Rabu (10/12/2025).
Saat penutupan jembatan tersebut, tampak sejumlah warga yang turut menyaksikan petugas Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Jogja dan pihak kepolisian yang menutup akses jalan ke Jembatan Kewek dengan pembatas jalan (water barrier).
Dia mengaku penutupan jembatan tersebut menimbulkan kekhawatiran bagi warga setempat. Warga khawatir terjadi peningkatan lalu lintas kendaraan di Gang Hansip Karno Waluyo Tukangan.
Jalan tersebut diketahui berada di dekat Jembatan Kewek. Dia khawarit jalan tersebut menjadi jalan alternatif yang dilalui kendaraan yang akan menuju ke kawasan Malioboro.
“Baru dibuka satu jam saja sudah banyak yang salah masuk. Ini kemungkinan kampung kami akan jadi lebih ramai,” katanya.
Terkait pembangunan jembatan tersebut, piihaknya berharap warga setempat akan dilibatkan dalam proses pembangunan. “Kami berharap pemerintah atau Wali Kota bisa merangkul warga dalam menggarap Jembatan Kewek agar berjalan lancar,” katanya.
salah satu penggendara yang melintas di Jembatan Kleringan, Yosi yang merupakan warga Sosrowijayan, mengaku kebingungan dengan perubahan rute. Dia yang hendak menjemput anaknya dii SD Ungaran mengaku harus memutar lebih jauh.
“Tadi diarahkan muter lagi [tidak melintas di Jembatan Kleringan], saya pikir bisa lewat sini ternyata tidak bisa,” katanya.
Meski begitu, Yosi memilih mengikuti aturan yang ada. “Kalau harus muter nggak apa-apa. Asal nanti dibuat lebih bagus lagi. Saya dengar jembatan ini sudah 100 tahun lebih nggak diperbaiki. Ya semoga nanti lebih nyaman,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Kota Jogja meminta Pemkot segera menghidupkan Pasar Sentul dan Terban yang masih sepi melalui strategi pengelolaan dan penataan pasar.
Makam mertua Djaduk Ferianto di Kuncen Lama dirusak. Ahli waris menyoroti biaya perawatan, Pemkot Jogja berencana menata pengelolaannya.
Gelombang pasang menerjang Pantai Pandansimo, Bantul, membuat tiga rumah rusak berat. Warga diminta waspada gelombang tinggi.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan jalan tol harus membuka akses ke pusat ekonomi untuk mendorong investasi dan pertumbuhan.
Pemkab Gunungkidul merehabilitasi tiga pasar tradisional pada 2026. Perbaikan Pasar Wotgaleh, Karangijo, dan Ngrancah terkendala anggaran.
Donald Trump kembali mengancam Iran dengan operasi militer jika diplomasi nuklir gagal. Simak 4 ancaman terbaru Trump dan dampaknya bagi Selat Hormuz.