Skema Droping Air di Gunungkidul Berubah, Kapanewon Jadi Prioritas
BPBD Gunungkidul mengubah skema droping air bersih dengan memprioritaskan anggaran kapanewon menghadapi kemarau panjang 2026.
Ilustrasi investasi - Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Arus investasi di Gunungkidul sepanjang 2025 melampaui target seusai realisasi penanaman modal mencapai Rp851,7 miliar yang tersebar dalam 8.127 proyek di 18 kapanewon, menandai geliat ekonomi daerah yang kian produktif.
Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Gunungkidul mencatat capaian ini melampaui target awal tahun yang dipatok Rp831,4 miliar. Lonjakan realisasi tersebut menunjukkan minat investor terhadap Gunungkidul terus menguat.
Kepala DPMPTSP Gunungkidul, Mohammad Arif Aldian, mengatakan tren investasi di wilayahnya tumbuh konsisten.
“Targetnya Rp831.433.160.822, tapi realisasinya bisa melebihi angka yang dibebankan di awal 2025,” kata Aldian, Kamis (29/1/2026).
Dari sisi sektor, investasi terbesar masih didominasi pertanian dan peternakan dengan nilai Rp174 miliar. Di bawahnya menyusul pariwisata Rp170 miliar, perdagangan Rp159 miliar, kesehatan Rp137 miliar, serta perindustrian Rp115 miliar.
Sebaran proyek investasi mencakup 8.127 titik di 18 kapanewon. Kapanewon Wonosari menjadi lokasi dengan jumlah proyek terbanyak, yakni 1.660 titik.
Berikutnya Playen dengan 1.049 proyek, Semanu 568 proyek, dan Ponjong 530 proyek.
“Sisanya sebanyak 4.320 proyek tersebar di 13 kapanewon lain di Kabupaten Gunungkidul,” kata Aldian.
Ia menilai capaian ini menjadi indikator bahwa aktivitas ekonomi di Gunungkidul semakin produktif dan berperan langsung dalam pembangunan daerah.
“Dampaknya sangat luas mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga laju pertumbuhan ekonomi yang semakin baik,” katanya.
Penata Perizinan Ahli Madya DPMPTSP Gunungkidul, Mugiyanto, menambahkan struktur investasi di Bumi Handayani masih didominasi modal dalam negeri. Dari total Rp851,7 miliar, sekitar Rp779 miliar berasal dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).
“Untuk Penanaman Modal Asing [PMA] besarannya baru di kisaran Rp72 miliar,” katanya.
Menurut Mugiyanto, sektor pertanian dan peternakan menjadi yang paling diminati investor, terutama pada usaha ternak ayam petelur, ayam pedaging, dan pembibitan.
“Mudah-mudahan iklim investasi di Gunungkidul bisa terus tumbuh dengan baik,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul mengubah skema droping air bersih dengan memprioritaskan anggaran kapanewon menghadapi kemarau panjang 2026.
Kementerian HAM mendukung potongan aplikator ojol maksimal 8 persen demi perlindungan pekerja digital dan keadilan ekonomi platform.
Selamat pagi pembaca setia Harianjogja.com. Semoga aktivitas Anda hari ini berjalan lancar dan penuh energi positif. Dari tlatah Ngayogyakarta Hadiningrat.
Permintaan pisau kurban dan kapak sembelih di Kulonprogo melonjak hingga 100 persen menjelang Iduladha 2026.
9 WNI peserta flotilla Gaza ditangkap Israel. Kemlu RI bergerak cepat menempuh jalur diplomatik dan perlindungan kekonsuleran.
BPKAD Kota Jogja mengimbau warga membayar pajak daerah lewat virtual account agar lebih aman dan terhindar dari modus penipuan.