Jembatan Tua Kewek Dibongkar Mei, Diganti Struktur Baru
Jembatan Kewek Jogja steril kendaraan, bongkar total Rp19 miliar APBN mulai April 2026. Struktur girder baru 30m, warga alih jalur Abu Bakar Ali untung pedagang
Peserta mengikuti pelatihan pengolahan sampah anorganik, di Kelurahan Rejowinangun, Rabu (11/2/2026)./ist Rejowinangun
Harianjogja.com, JOGJA—Kelurahan Rejowinangun terus memperkuat pengolahan sampah anorganik melalui pelatihan daur ulang menjadi produk kerajinan bernilai guna bagi warga. Hal ini ditegaskan sebagai upaya mendukung pengurangan volume sampah sekaligus meningkatkan kreativitas masyarakat sejalan program pengelolaan sampah Kota Jogja.
Pelatihan pengolahan sampah anorganik tersebut diikuti fasilitator kelurahan (faskel) bank sampah dan pengurus bank sampah dari setiap rukun warga (RW) di Kelurahan Rejowinangun. Peserta diajak memanfaatkan limbah plastik dan kertas menjadi karya seni fungsional yang dapat digunakan kembali dalam kehidupan sehari-hari.
Lurah Rejowinangun, Handani Bagus Setyarso, menjelaskan kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran warga mengenai pentingnya mendaur ulang sampah anorganik sekaligus menumbuhkan kreativitas dalam pengelolaan limbah rumah tangga.
“Melalui kegiatan ini, para peserta diajak untuk menuangkan kreativitas mereka dalam mengolah limbah,” katanya.
Dalam pelatihan tersebut, peserta dibagi menjadi tiga kelompok kerja yang masing-masing mendapatkan tantangan mengolah bahan limbah menjadi produk bernilai guna. Berbagai hasil karya berhasil dibuat, mulai dari lampion berbahan sedotan plastik, tempat pensil dari koran bekas, hingga tas kecil unik berbahan tutup botol plastik.
Handani berharap keterampilan yang diperoleh peserta tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat menjadi awal kemandirian warga dalam mengelola sampah anorganik secara berkelanjutan dari lingkungan rumah tangga.
“Besar harapan kami agar kreativitas yang telah diasah tidak berhenti di sini, namun dapat menjadi langkah awal bagi kemandirian warga dalam mengelola limbah anorganik. Dengan mulai memilah dan mengolah sampah dari lingkup rumah tangga, setiap warga Rejowinangun dapat berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan asri,” kata dia.
Selain membantu menekan penumpukan sampah, produk kerajinan dari hasil pengolahan sampah anorganik tersebut juga dinilai memiliki potensi ekonomi apabila dikembangkan lebih lanjut menjadi usaha kreatif masyarakat.
“Mari kita jadikan pengelolaan sampah bukan sekadar kewajiban, melainkan gaya hidup demi masa depan lingkungan yang lebih baik bagi generasi mendatang,” ungkapnya.
Program pengolahan sampah anorganik di Rejowinangun ini juga selaras dengan kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja melalui program Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas JOS), yang mendorong masyarakat mengelola sampah dari sumbernya masing-masing agar volume sampah yang dibuang ke depo dapat ditekan secara signifikan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jembatan Kewek Jogja steril kendaraan, bongkar total Rp19 miliar APBN mulai April 2026. Struktur girder baru 30m, warga alih jalur Abu Bakar Ali untung pedagang
Polri menegaskan kesiapan operasional 166 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang akan diresmikan secara serentak oleh Presiden Prabowo Subianto.
Forum Anak Daerah (FAD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sukses menggelar hari pertama dari rangkaian kegiatan "Temu Hati #17" di Ruang Nyi Ageng Serang
Dinkes Sleman ungkap keracunan Toragan akibat Salmonella dari makanan hajatan, seluruh pasien kini telah pulih.
Prabowo resmikan Museum Marsinah di Nganjuk, soroti keadilan sosial dan nilai Pancasila dalam kasus buruh Indonesia.
Gunungkidul perketat pengawasan hewan kurban 2026 dengan 120 petugas dan pemeriksaan SKKH di pasar hewan.