YIA Bantu Perahu Evakuasi, Perkuat Mitigasi Bencana di Kulonprogo
YIA menyerahkan perahu karet dan motor tempel kepada relawan SAR untuk memperkuat kesiapsiagaan bencana di pesisir Kulonprogo.
Pameran karya berbasis AI dengan tajuk Indonesian Cultural Exhibition oleh siswa kelas 5 SD Negeri Kranggan di ruang kelasnya, Kamis (16/4/2026). Harian Jogja/Khairul Ma'arif.
Harianjogja.com, KULONPROGO— Kreativitas siswa SD Negeri Kranggan, Kabupaten Kulonprogo, mencuri perhatian lewat pameran budaya berbasis teknologi Artificial Intelligence (AI). Melalui karya digital, para siswa mampu mengubah foto diri menjadi figur berbusana adat dari berbagai daerah di Indonesia.
Pameran bertajuk Indonesian Cultural Exhibition (ICE) ini menjadi puncak pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) yang dijalani siswa kelas 5 selama dua pekan terakhir.
Guru kelas 5 SD N Kranggan, Revika Niza Artiyana, menjelaskan penggunaan AI diarahkan untuk tujuan edukatif, bukan sekadar mengikuti tren hiburan di media sosial.
"Saat ini banyak tren AI di TikTok atau Instagram yang hanya untuk hiburan semata. Saya menginisiasi pembelajaran ini agar anak-anak bisa menggunakan teknologi AI untuk melestarikan budaya Indonesia tanpa melupakan identitas aslinya," ujarnya saat ditemui di sela pameran, Kamis (16/4/2026).
Dalam prosesnya, delapan siswa mengeksplorasi beragam budaya Nusantara, mulai dari rumah adat, pakaian tradisional, hingga makanan khas. Mereka mengerjakan proyek secara mandiri menggunakan perangkat Chromebook.
Siswa juga dilatih menyusun prompt atau perintah pada platform AI seperti Gemini dan Dall-E untuk menghasilkan visual yang sesuai dengan konsep budaya yang dipilih.
"Anak-anak membuat prompt sendiri. Hasilnya ada yang sangat mirip, ada yang unik, tergantung bagaimana mereka mengembangkan kalimat perintahnya. Melalui proses ini, karakter berpikir kritis, kreativitas, dan rasa cinta tanah air mereka tumbuh secara alami," tambah Revika.
Kepala SD N Kranggan, Winarsih, menilai kegiatan ini menjadi contoh pembelajaran yang tidak hanya informatif, tetapi juga bermakna bagi siswa.
"Harapan kami, anak-anak tidak hanya sekadar tahu tentang budaya, tetapi juga paham dan bisa mempraktikkannya. Pembelajaran harus bersifat mindful [berkesadaran)] dan joyful [menyenangkan] agar benar-benar berkesan bagi siswa," kata Winarsih.
Ia menambahkan, proyek serupa akan terus dikembangkan untuk seluruh jenjang kelas dengan tema yang disesuaikan.
"Kelas 5 menjadi pembuka yang luar biasa dengan pameran ICE ini. Kedepan, kelas 1 hingga kelas 6 akan memiliki proyeknya masing-masing untuk menampilkan bakat dan pemahaman mereka," pungkasnya.
Pameran ini menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi digital dapat berjalan seiring dengan pelestarian budaya, sekaligus memperkuat karakter generasi muda di tengah perkembangan zaman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
YIA menyerahkan perahu karet dan motor tempel kepada relawan SAR untuk memperkuat kesiapsiagaan bencana di pesisir Kulonprogo.
DPKP DIY menyiapkan strategi menghadapi musim kemarau, mulai dari varietas padi tahan kekeringan hingga optimalisasi irigasi dan pompa air.
Bank Sampah Berlian 08 di Jogja memanfaatkan minyak jelantah sebagai bahan bakar pirolisis sampah plastik residu sehingga proses lebih cepat dan hemat.
Jadwal imsak, Subuh, dan Maghrib di DIY pada Kamis 30 Juli 2026 untuk puasa sunnah Kamis. Cek waktu sahur dan berbuka di sini.
Jadwal KRL Solo-Jogja Kamis 30 Juli 2026 lengkap dari Palur hingga Jogja. Simak 12 perjalanan dan tarif Commuter Line Rp8.000.
KPK mendalami penukaran 46.500 dolar Singapura yang diduga disiapkan Suhardiman Amby untuk Raja Juli Antoni dalam penyidikan kasus Kuansing.