Investasi di Gunungkidul Tembus Rp488 Miliar dalam Enam Bulan
Investasi di Gunungkidul pada semester pertama 2026 mencapai Rp487,66 miliar atau 56,8% dari target investasi tahun ini.
Foto ilustrasi Siswa Sekolah Dasar - Foto dibuat dengan Artificial Intelligence ChatGPT
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL — Ratusan sekolah dasar (SD) di Kabupaten Gunungkidul masih kekurangan murid untuk tahun ajaran 2026/2027. Menyikapi kondisi tersebut, Dinas Pendidikan setempat memberikan kelonggaran dengan membuka dispensasi pendaftaran hingga menjelang dimulainya tahun ajaran baru.
Kepala Dinas Pendidikan Gunungkidul, Nunuk Setyowati, mengatakan proses Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tingkat SD sebenarnya telah selesai dilakukan secara daring. Namun hasilnya menunjukkan masih banyak sekolah yang belum memenuhi kuota rombongan belajar.
“Pendaftaran sudah dilakukan secara online dan hasilnya diumumkan. Namun masih ada ratusan sekolah yang kekurangan siswa,” ujarnya, Selasa (16/6/2026).
Berdasarkan data Dinas Pendidikan, dari total 463 SD di Gunungkidul yang terdiri dari 401 sekolah negeri dan 62 swasta, hanya 36 sekolah yang mampu memenuhi kuota ideal sebanyak 28 siswa per kelas.
Sementara itu, sebanyak 172 SD tercatat hanya mendapatkan murid kurang dari 10 siswa. Adapun 255 sekolah lainnya memang menerima lebih dari 10 siswa, namun belum mencapai batas minimal rombongan belajar yang ditetapkan.
Untuk mengatasi kekurangan tersebut, sekolah yang belum memenuhi kuota masih diperbolehkan membuka pendaftaran. Namun mekanismenya tidak lagi melalui sistem online, melainkan secara langsung di sekolah.
“Calon siswa harus datang langsung ke sekolah karena pendaftaran dilakukan secara offline,” jelas Nunuk.
Dispensasi ini diberikan hingga sebelum tahun ajaran baru dimulai, yang dijadwalkan pada 13 Juli 2026. Dengan kebijakan tersebut, diharapkan sekolah-sekolah yang kekurangan murid masih memiliki kesempatan untuk menambah jumlah peserta didik.
Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan Gunungkidul, Asbani, menambahkan fenomena kekurangan murid ini sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Kondisi tersebut dipengaruhi ketidakseimbangan antara jumlah sekolah dengan jumlah calon siswa.
Menurutnya, salah satu faktor utama adalah keberhasilan program Keluarga Berencana (KB) yang menekan angka kelahiran. Berbeda dengan generasi sebelumnya, jumlah anak dalam satu keluarga saat ini relatif lebih sedikit.
“Dulu satu keluarga bisa memiliki banyak anak, bahkan lebih dari tujuh. Sekarang tiga anak saja sudah dianggap banyak karena program dua anak cukup,” ujarnya.
Akibatnya, jumlah sekolah yang dibangun pada masa lalu kini tidak sebanding dengan jumlah siswa yang tersedia. Kondisi ini memunculkan tantangan baru bagi dunia pendidikan, khususnya di daerah seperti Gunungkidul.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Investasi di Gunungkidul pada semester pertama 2026 mencapai Rp487,66 miliar atau 56,8% dari target investasi tahun ini.
Polda Jatim mengungkap 178 kasus kejahatan jalanan selama Juli 2026 dan mengamankan 206 tersangka di seluruh wilayah Jawa Timur.
Pemkot Jogja memastikan pembayaran gaji ASN dan PPPK hingga akhir 2026 aman dengan dukungan DAU dan PAD yang melampaui target.
KPK melimpahkan berkas dakwaan Yaqut Cholil Qoumas ke PN Jakarta Pusat. Sidang kasus dugaan korupsi kuota haji kini menunggu jadwal.
Pemerintah menggelar HUT ke-81 RI di Jakarta dan IKN serta mengundang seluruh tokoh bangsa menghadiri upacara 17 Agustus 2026.
Turkiye menargetkan jalur alternatif Selat Hormuz melalui Irak selesai dalam tiga tahun untuk memperkuat perdagangan menuju Eropa.