10 Bayi Pakem Sudah Kembali ke Orang Tua, Satu Masih Diasuh BRSPA
Sebanyak 10 bayi yang dievakuasi dari rumah di Pakem, Sleman, telah kembali ke orang tua. Satu bayi masih dalam pengasuhan sementara BRSPA.
Ilustrasi talut di bantaran Sungai Buntung di Dusun Karangjati, Desa Sinduadi, Mlati ambrol ./dok.Harian Jogja
Harianjogja.com, SLEMAN— Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman memperkuat kesiapsiagaan bencana dengan menggelar pelatihan bagi puluhan relawan. Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk membangun lingkungan pendidikan yang tangguh terhadap berbagai risiko bencana.
Pelatihan digelar selama dua hari, Rabu–Kamis (17–18/6/2026), di Ruang Grha Amarta, Kalurahan Pandowoharjo, Sleman. Sebanyak 72 kelompok relawan yang tergabung dalam Forum Komunikasi Komunitas Relawan Kabupaten Sleman ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Sleman, Ari Triyono, mengatakan pelatihan ini bertujuan meningkatkan kapasitas relawan sekaligus mengurangi kerentanan sosial di lingkungan satuan pendidikan.
“Keterlibatan relawan menjadi faktor penting dalam memperkuat kesiapsiagaan sekolah menghadapi berbagai ancaman bencana,” ujarnya, Jumat (19/6/2026).
Dalam pelatihan tersebut, peserta dibekali pemahaman terkait konsep Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Materi yang diberikan mencakup penanggulangan bencana, identifikasi potensi ancaman di lingkungan sekolah, hingga analisis kerentanan sosial yang dapat memengaruhi peserta didik.
Sejumlah instansi turut dilibatkan sebagai narasumber, di antaranya BPBD Sleman, Dinas Pendidikan Sleman, Dinas Sosial Sleman, serta Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Sleman. Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan mampu memperkaya perspektif relawan dalam menghadapi situasi darurat.
Ari menambahkan, Sleman merupakan wilayah dengan potensi bencana yang cukup beragam. Mulai dari erupsi Gunung Merapi, gempa bumi, banjir, hingga cuaca ekstrem yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
“Karena itu, kesiapan sekolah dan masyarakat menjadi kunci untuk meminimalkan risiko dan dampak bencana,” katanya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Bambang Kuntoro, menekankan pentingnya sinergi antara relawan, sekolah, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya dalam menjalankan program SPAB.
Menurutnya, koordinasi yang solid akan membuat upaya pendampingan terhadap sekolah dan masyarakat berjalan lebih efektif dan tepat sasaran.
“Relawan diharapkan menjadi ujung tombak edukasi kebencanaan di masyarakat, sekaligus mendampingi sekolah dalam membangun sistem yang tangguh,” ujarnya.
Ia berharap, bekal pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan dapat meningkatkan kapasitas relawan dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, tangguh, dan siap menghadapi berbagai ancaman, baik bencana alam maupun kerawanan sosial.
Dengan pelatihan ini, BPBD Sleman optimistis upaya pengurangan risiko bencana di sektor pendidikan dapat semakin kuat dan berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 10 bayi yang dievakuasi dari rumah di Pakem, Sleman, telah kembali ke orang tua. Satu bayi masih dalam pengasuhan sementara BRSPA.
Survei LPI ungkap pengaruh besar Jokowi terhadap citra PSI, hingga 70% responden akui dampaknya signifikan.
Tabrakan dua kereta di Bedford Inggris sebabkan lebih dari 80 korban luka dan satu tewas. Sebanyak 11 orang dalam kondisi serius.
Petani Banyunganti Kulonprogo ubah hutan mangkrak jadi lahan produktif. Panen jagung capai 8,33 ton per hektare.
PDIP tegaskan posisi sebagai penyeimbang pemerintah Prabowo. Dukung kebijakan pro rakyat, kritik jika melenceng.
Brasil menang 3-0 atas Haiti di Piala Dunia 2026. Cunha cetak dua gol, Vinicius Jr tambah satu. Selecao kini puncaki Grup C.