Pidana Kerja Sosial Mulai Diterapkan di DIY, Begini Implementasinya
Bapas Kelas I Yogyakarta melibatkan 20 klien menjalani pidana kerja sosial di Pasar Cublak, Kulonprogo, sebagai bagian pembinaan berbasis KUHP baru.
.Pembangunan panel surya. - Foto dibuat oleh AI/StockCake
Harianjogja.com, KULONPROGO—Kabupaten Kulonprogo berpeluang menjadi lokasi strategis pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) skala besar. PLN melalui program Mentari Nusantara 1 telah menetapkan Gardu Induk (GI) Wates sebagai salah satu titik pengembangan energi surya dengan kapasitas mencapai 50 megawatt (MW).
Saat ini proses pengembangan masih berada pada tahap lelang investor. Pemerintah Kabupaten Kulonprogo menyatakan kesiapan untuk mendukung realisasi investasi tersebut karena dinilai dapat memperkuat ketahanan energi daerah sekaligus membuka peluang pertumbuhan ekonomi berbasis energi hijau.
Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Setda Kulonprogo, Ari Fitriani, mengatakan proyek tersebut menjadi peluang penting bagi daerah untuk ikut mengambil peran dalam agenda transisi energi nasional yang tengah didorong pemerintah.
Menurutnya, investasi di sektor energi bersih tidak hanya berorientasi pada penyediaan listrik, tetapi juga membawa manfaat jangka panjang bagi pembangunan wilayah.
“Investasi energi bersih ini tidak hanya akan memperkuat ketahanan energi lokal, tetapi juga membawa dampak berkelanjutan bagi pembangunan daerah,” kata Ari, Minggu (5/7/2026).
Ari menjelaskan sejumlah faktor menjadi alasan Kulonprogo dipandang potensial untuk pengembangan PLTS. Selain memiliki posisi geografis yang mendukung, daerah ini juga ditopang infrastruktur yang terus berkembang.
Keberadaan Bandara Internasional Yogyakarta atau Yogyakarta International Airport (YIA), jaringan transmisi PLN 150 kilovolt, serta akses transportasi yang semakin baik dinilai menjadi modal utama untuk menarik investasi energi terbarukan.
Di sisi lain, komitmen pemerintah daerah dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif juga menjadi salah satu pertimbangan bagi pengembang maupun investor.
“Posisi geografis dan kesiapan infrastruktur Kulonprogo menjadi daya tarik yang kuat sehingga wilayah ini diproyeksikan mendukung pengembangan energi surya skala besar,” ujarnya.
Menurut Ari, terdapat sedikitnya tiga manfaat strategis yang dapat diperoleh Kulonprogo apabila proyek PLTS tersebut terealisasi.
Pertama, proyek itu akan membantu menjamin ketersediaan pasokan energi untuk mendukung pertumbuhan kawasan strategis baru, khususnya pengembangan kawasan aerotropolis di sekitar Bandara YIA.
Kedua, keberadaan sumber energi bersih dinilai dapat meningkatkan daya saing daerah dalam menarik investasi, terutama dari perusahaan global yang kini semakin memperhatikan aspek keberlanjutan dan penggunaan energi ramah lingkungan.
Ketiga, pembangunan PLTS menjadi salah satu fondasi penting dalam mewujudkan ekosistem ekonomi hijau atau green economy di Kulonprogo.
“Ini adalah peluang besar bagi Kulonprogo untuk menjadi bagian integral dari transisi energi nasional,” katanya.
Berdasarkan perencanaan awal, pembangunan PLTS tersebut diperkirakan membutuhkan lahan sekitar 50 hektare. Namun hingga kini proyek masih menunggu hasil proses lelang yang sedang dilakukan PLN untuk menentukan investor pelaksana.
Ari mengungkapkan salah satu perusahaan yang menunjukkan minat untuk berinvestasi adalah PT Shine Green Energy Investment Indonesia (SGEII).
Perusahaan tersebut mengusulkan dua alternatif lokasi pembangunan, yakni di Kalurahan Plumbon, Kapanewon Temon, atau Kalurahan Karangwuni, Kapanewon Wates.
Meski mendukung penuh rencana investasi tersebut, Pemkab Kulonprogo menegaskan seluruh proses harus mengikuti ketentuan perizinan dan regulasi yang berlaku.
Pemerintah daerah juga meminta agar pembangunan PLTS tetap memperhatikan keberlanjutan sektor pertanian serta tidak mengganggu operasional penerbangan di Bandara YIA.
“Kami mendukung investasi ini, tetapi seluruh proses perizinan dan persyaratan harus dipenuhi sesuai peraturan yang berlaku. Selain itu, pemanfaatan lahannya diharapkan tetap memungkinkan untuk kegiatan pertanian dan tidak mengganggu aktivitas penerbangan,” ujar Ari.
Jika terealisasi, proyek PLTS di Kulonprogo berpotensi menjadi salah satu investasi energi terbarukan terbesar di DIY dan memperkuat posisi daerah sebagai kawasan yang mendukung pengembangan industri hijau serta energi berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Bapas Kelas I Yogyakarta melibatkan 20 klien menjalani pidana kerja sosial di Pasar Cublak, Kulonprogo, sebagai bagian pembinaan berbasis KUHP baru.
Polresta Jogja memastikan dugaan pelecehan terhadap wisatawan di Titik Nol Kilometer tidak terbukti setelah pemeriksaan CCTV bersama korban.
Jorge Martin memimpin klasemen MotoGP 2026, tapi juga pembalap paling sering jatuh dengan 16 kali crash.
Kiper Cape Verde Vozinha menjadi sorotan setelah tampil gemilang melawan Argentina. Berstatus bebas transfer, ia kini dikaitkan dengan Inter Miami dan klub Bras
Sebanyak 12 objek bersejarah di Gunungkidul direkomendasikan menjadi cagar budaya baru, mulai dari Gua Jepang, GKJ Wonosari hingga koleksi Wayang Menak.
Ford, Klarna, Salesforce, dan IBM mulai merekrut kembali karyawan setelah menyadari AI belum mampu sepenuhnya menggantikan peran manusia.