Hak Eks Karyawan RSGM Belum Cair, Pemkab Bantul Minta Ada Kepastian
Pemkab Bantul mendesak manajemen RSGM segera membayar tunggakan gaji dan pesangon eks pekerja. Bupati juga meminta adanya timeline pembayaran yang jelas.
Subandi Giyanto saat mempraktikkan cara melukis di atas kaca dan beragam koleksi hasil karyanya di Padukuhan Gendeng, Kalurahan Bangunjiwo, Kapanewon Kasihan, Bantul, Selasa (14/7/2026). /Harian Jogja-Yosef Leon.
Harianjogja.com, BANTUL—Di tengah semakin berkurangnya perajin tatah sungging dan seniman bertema wayang di Bantul, Subandi Giyanto masih bertahan menjaga tradisi yang telah menjadi bagian dari hidupnya selama puluhan tahun. Dari rumahnya di Padukuhan Gendeng, Kalurahan Bangunjiwo, Kapanewon Kasihan, seniman berusia 68 tahun itu terus menghasilkan lukisan kaca sekaligus membuka ruang belajar gratis bagi generasi muda agar warisan budaya tersebut tidak berhenti pada zamannya.
Di ruang kerja sederhana yang dipenuhi wayang kulit, lembaran kaca, pigura, dan perlengkapan melukis, Subandi menghabiskan hampir setiap hari dengan kuas di tangan. Baginya, berkarya bukan semata menghasilkan lukisan bernilai ekonomi, melainkan menjaga pengetahuan yang semakin sulit ditemukan.
Karya-karyanya telah menembus berbagai koleksi bergengsi, mulai dari galeri di Prancis hingga Galeri Nasional Indonesia. Namun, pengakuan itu tidak membuatnya berhenti memikirkan regenerasi. Yang menjadi perhatian utamanya justru memastikan masih ada anak-anak muda yang bersedia meneruskan seni tatah sungging dan lukisan kaca.
Teknik Lukisan Kaca yang Berbeda dari Seni Lukis Biasa
Melukis di media kaca memiliki tingkat kesulitan yang berbeda dibandingkan melukis di atas kanvas. Proses pengerjaannya dilakukan dari sisi belakang kaca sehingga seluruh tahapan harus disusun secara terbalik.
Detail yang biasanya menjadi sentuhan akhir justru harus dikerjakan lebih dahulu. Garis hitam, ornamen kecil, hingga titik-titik halus menjadi lapisan pertama sebelum ditutup bertahap menggunakan warna, dimulai dari warna tua kemudian berlanjut ke warna yang lebih muda.
Menurut Subandi, teknik tersebut menuntut ketelitian sekaligus kemampuan membayangkan hasil akhir sejak awal proses. Sedikit kesalahan dalam menyusun warna dapat membuat komposisi lukisan berubah ketika kaca dibalik.
Keahlian itu bukan diperoleh melalui pendidikan formal. Pada 1979, sesaat setelah lulus sekolah menengah, ia diminta seorang teman mengajarkan teknik melukis kaca di Jakarta, padahal saat itu dirinya belum pernah sekalipun berkarya menggunakan media tersebut.
Berbekal kemampuan tatah sungging yang diwariskan sang ayah, ia mulai bereksperimen sendiri. Berulang kali ia mengalami kegagalan karena masih menggunakan teknik menyungging wayang pada media kaca. Ketika karya pertama dibalik, seluruh permukaan justru tampak putih.
Dari proses mencoba dan gagal itulah lahir teknik yang kemudian menjadi ciri khas karya-karyanya hingga sekarang.
"Jadi sebenarnya saya belajar melukis kaca itu otodidak," katanya.
Berawal dari Warisan Ayah di Kampung Tatah Sungging
Perjalanan Subandi di dunia seni dimulai jauh sebelum mengenal lukisan kaca. Sejak 1965, ia telah belajar membuat wayang kulit dari ayahnya yang merupakan perajin di Padukuhan Gendeng.
Pada masa itu, Gendeng dikenal sebagai salah satu sentra tatah sungging terbesar di DIY. Aktivitas membuat wayang menjadi denyut kehidupan masyarakat setempat dan hampir setiap rumah memiliki perajin.
Situasi tersebut berubah drastis. Jika pada dekade 1990-an jumlah perajin mencapai sekitar 340 orang, kini hanya tersisa sekitar 30 orang. Bahkan yang masih aktif berkarya diperkirakan tidak sampai belasan orang.
Lukisan Kaca Menjadi Penopang Ekonomi
Selain memiliki nilai artistik tinggi, lukisan kaca juga memberikan nilai ekonomi yang lebih baik dibandingkan pembuatan wayang.
Subandi menyebut sebuah lukisan kaca berukuran sekitar 40 x 40 sentimeter dapat dihargai hingga Rp8 juta. Beberapa karya berukuran lebih kecil bahkan dipasarkan dengan kisaran Rp7,5 juta hingga Rp10,5 juta.
Sebaliknya, satu tokoh wayang Arjuna yang memerlukan waktu pengerjaan sekitar satu pekan hanya bernilai sekitar Rp1,5 juta.
Perbedaan nilai tersebut membuatnya menjadikan lukisan kaca sebagai sumber penghasilan utama. Sementara tatah sungging tetap dikerjakan sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan keluarga sekaligus upaya menjaga kelangsungan budaya.
Produktivitasnya juga tidak pernah bergantung pada pesanan. Ia memilih terus berkarya setiap hari agar selalu memiliki stok karya ketika kolektor datang.
"Kalau orang datang, karya harus sudah ada. Saya setiap hari tetap melukis," ujarnya.
Membuka Kelas Gratis untuk Regenerasi Seniman
Dedikasi Subandi tidak berhenti pada proses berkarya. Setiap akhir pekan, rumahnya berubah menjadi ruang belajar bagi anak-anak muda yang ingin mempelajari tatah sungging maupun lukisan kaca.
Seluruh pelatihan diberikan tanpa dipungut biaya. Bahkan sebagian hasil penjualan karya masih disisihkan untuk memberikan uang saku sekitar Rp20.000 kepada setiap peserta. Mereka juga diajak makan siang bersama setelah mengikuti pelatihan.
Baginya, keberhasilan menjaga budaya bukan diukur dari banyaknya penghargaan yang diterima, melainkan lahirnya generasi baru yang bersedia melanjutkan tradisi tersebut.
Penghargaan hingga Koleksi Internasional
Perjalanan panjang berkesenian membawa Subandi menerima sejumlah penghargaan. Pada 2013 ia memperoleh Anugerah Kebudayaan dari Bupati Bantul.
Dua tahun kemudian, karya-karyanya menjadi koleksi Galeri Nasional Indonesia setelah lebih dahulu masuk dalam koleksi galeri di Prancis.
Saat masih berstatus aparatur sipil negara, Subandi juga menerima Anugerah Prestasi dari Gubernur DIY pada 2017. Setahun berselang, ia kembali memperoleh Anugerah Kebudayaan DIY bidang seni rupa.
Menjaga Identitas Kampung Gendeng
Lurah Bangunjiwo Parja menilai Subandi menjadi salah satu sosok yang masih menjaga identitas Gendeng sebagai kampung tatah sungging.
Menurutnya, pelatihan yang diselenggarakan Subandi terbuka tidak hanya bagi warga Bangunjiwo, tetapi juga masyarakat dari berbagai wilayah di DIY yang ingin belajar membuat wayang maupun melukis kaca.
Parja berharap kegiatan tersebut mampu melahirkan regenerasi seniman sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif di tengah semakin terbatasnya lapangan pekerjaan.
Ia mengakui jumlah perajin tatah sungging di Gendeng kini hanya sekitar 10 orang, jauh berkurang dibandingkan masa ketika hampir seluruh rumah memproduksi wayang.
Keberadaan Subandi, menurut Parja, menjadi bukti bahwa tradisi masih memiliki masa depan selama ada orang-orang yang bersedia menjaga, mengajarkan, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya.
Di usia 68 tahun, Subandi masih memulai setiap lukisan dengan goresan pertama di sisi belakang kaca. Goresan yang dikerjakan paling awal itu justru menjadi bagian yang terakhir terlihat ketika karya selesai dibalik, sebagaimana nilai sebuah pengabdian yang sering kali baru benar-benar terasa manfaatnya pada masa mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Bantul mendesak manajemen RSGM segera membayar tunggakan gaji dan pesangon eks pekerja. Bupati juga meminta adanya timeline pembayaran yang jelas.
Sengketa kerja sama pengelolaan Hotel Elsotel Purwokerto berakhir damai melalui mediasi di Pengadilan Negeri Purwokerto.
Imigrasi Jakarta Utara mendeportasi 10 WNA China yang bekerja sebagai buruh bangunan menggunakan visa kunjungan di Penjaringan.
Pelajari cara menggunakan ChatGPT mulai dari membuat akun, menyusun prompt, hingga memanfaatkan berbagai fiturnya secara optimal.
Transaksi emas digital di ICDX mencapai Rp172,7 triliun pada semester I 2026, melonjak 601% seiring meningkatnya minat investasi masyarakat.
Harga pangan nasional hari ini mencatat cabai rawit merah Rp54.400 per kg dan telur ayam ras Rp29.600 per kg. Simak daftar harga terbaru.