Kekeringan Gunungkidul Meluas, 83.757 Jiwa di 71 Kalurahan Terdampak

David Kurniawan
David Kurniawan Jum'at, 14 Agustus 2026 12:37 WIB
Kekeringan Gunungkidul Meluas, 83.757 Jiwa di 71 Kalurahan Terdampak

Tangki milik BPBD Gunungkidul menyalurkan bantuan air bersih ke salah satu bak penampungan air yang dimiliki warga Dusun Sumber, Planjan, Saptosari./Istimewa-BPBD Gunungkidul

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Krisis air bersih akibat kekeringan di Kabupaten Gunungkidul terus meluas. Hingga pertengahan Agustus 2026, sebanyak 83.757 jiwa atau 26.593 Kepala Keluarga (KK) di 71 kalurahan tercatat terdampak.

Sub Koordinator Logistik dan Peralatan, Bidang Kedaruratan dan Logistik, BPBD Gunungkidul, Arief Prasetyo mengatakan jumlah warga yang membutuhkan pasokan air bersih terus bertambah dibandingkan awal Agustus.

Pada awal bulan tersebut, warga terdampak tercatat sebanyak 75.486 jiwa yang tersebar di 58 kalurahan. Kini jumlahnya meningkat menjadi 83.757 jiwa di 71 kalurahan.

“Potensi warga terdampak kekeringan masih mungkin bertambah,” kata Arief, Jumat (14/7/2026).

16 Kapanewon Masih Mengalami Kendala Air

Arief menjelaskan perluasan dampak kekeringan terjadi karena sebagian besar wilayah Gunungkidul masih menghadapi persoalan ketersediaan air bersih.

Menurut dia, diprediksi hanya Kapanewon Karangmojo dan Playen yang terbebas dari masalah air bersih. Sementara itu, 16 kapanewon lainnya masih mengalami kendala sehingga membutuhkan pasokan melalui bantuan air bersih.

“Contohnya di Kapanewon Wonosari, kekeringan terjadi di Padukuhan Kamal, Wunung diberikan bantuan air sebanyak 16 tangki,” katanya.

Penyaluran bantuan dilakukan oleh BPBD Gunungkidul, kapanewon, maupun pihak swasta untuk memenuhi kebutuhan warga yang terdampak.

Bantuan Air Bersih Capai 1.087 Tangki

Hingga Kamis (13/8/2026), total bantuan air bersih yang telah disalurkan kepada masyarakat mencapai 1.087 tangki. Setiap tangki memiliki kapasitas 5.000 liter.

Bantuan tersebut terdiri dari 360 tangki yang disalurkan BPBD dan 727 tangki dari kapanewon.

“Ada juga bantuan dari CSR sebanyak sembilan tangki,” ungkapnya.

Kapanewon Tepus menjadi wilayah dengan penyaluran bantuan air bersih terbanyak, yakni 248 tangki. Setelah itu, Kapanewon Rongkop menerima 236 tangki, sedangkan warga di Kapanewon Purwosari mendapat distribusi sebanyak 216 tangki.

“Bantuan terus diberikan ke masyarakat yang membutuhkan. Untuk BPBD ada 16 tangki yang disalurkan per harinya,” kata Arief.

Gunungkidul Masuk Puncak Kemarau

Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono mengatakan Gunungkidul saat ini telah memasuki puncak musim kemarau.

Selain mengantisipasi bahaya kebakaran, masyarakat diminta menghemat penggunaan air karena stok yang tersedia semakin menipis.

“Sekiranya tidak begitu penting, maka stok yang ada lebih baik disimpan. Air harus dimanfaatkan dengan bijak dengan skala prioritas guna mencukupi kebutuhan dasar seperti mandi, memasak dan mencuci,” katanya.

Status Siaga Darurat Kekeringan

Untuk menghadapi kemarau panjang yang diprediksi baru berakhir pada November mendatang, BPBD Gunungkidul telah menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi kekeringan.

Status tersebut berlaku hingga 31 Agustus, tetapi dapat diperpanjang sesuai kondisi di lapangan. Penetapan status siaga darurat juga memungkinkan BPBD mendapatkan tambahan anggaran untuk penyaluran bantuan air bersih.

“Status ini berakhir 31 Agustus, tapi bisa diperpanjang sesuai dengan kondisi di lapangan. Dengan statuss ini, kami bisa mendapatkan tambahan anggaran untuk penyaluran bantuan air bersih,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online