Pemkot Jogja Siapkan Pilot Project KKMP di Tiap Kecamatan

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Rabu, 07 Oktober 2026 20:17 WIB
Pemkot Jogja Siapkan Pilot Project KKMP di Tiap Kecamatan

Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo. ANTARA/Luqman Hakim

Harianjogja.com, JOGJA—Pemkot Jogja membidik sekitar 15 Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) menjadi koperasi unggulan yang memiliki aktivitas usaha, menghasilkan omzet, dan mampu berkembang secara mandiri.

Untuk mewujudkan target tersebut, Pemkot Jogja menyiapkan satu KKMP di setiap kecamatan sebagai pilot project pengembangan koperasi. Koperasi terpilih akan mendapatkan pembinaan lebih intensif agar mampu menjalankan usaha sesuai potensi wilayah masing-masing.

Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengatakan KKMP tidak cukup hanya dibentuk secara kelembagaan. Setiap koperasi harus memiliki usaha yang berjalan dan mampu mengembangkan bisnis.

“Kalau sekarang kemudian mau dicoba untuk satu kecamatan itu satu pilot project, saya sangat setuju. Nanti dipimpin oleh Pak Wakil untuk satu kecamatan satu pilot project,” katanya, Selasa (6/10/2026).

15 KKMP Akan Dibina OPD

Dalam skema pilot project tersebut, satu KKMP di setiap kecamatan akan menjadi koperasi percontohan. Hasto menargetkan sekitar 15 KKMP unggulan dapat dibagi untuk mendapatkan pendampingan dari sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD).

“Nanti 15 koperasi itu kita bagi dan dibina oleh OPD-OPD. Satu OPD membina satu,” ujarnya.

Hasto mengatakan hasil evaluasi menunjukkan masih terdapat KKMP yang sudah memiliki kepengurusan dan kelembagaan, tetapi belum menjalankan aktivitas usaha. Karena itu, keberhasilan koperasi ke depan tidak hanya diukur berdasarkan kelengkapan administrasi.

Aktivitas bisnis dan kemampuan menghasilkan omzet juga akan menjadi indikator penting dalam pengembangan KKMP di Kota Jogja.

Pemkot Jogja akan mendorong setiap KKMP mengembangkan usaha berdasarkan potensi lokal sekaligus membangun jejaring pasar. Salah satu potensi yang didorong adalah produksi batik Segoro Amarto.

Hasto meminta koperasi yang mengembangkan batik tersebut memastikan kegiatan produksi berjalan dan memiliki pasar yang jelas. Pemkot juga akan mendorong pemanfaatan produk lokal di lingkungan sekolah maupun OPD.

Selain batik, KKMP dapat berperan sebagai reseller sejumlah produk lokal seperti Air Jogja atau AYO dan brown sugar. Menurut Hasto, model tersebut dapat memperbesar perputaran ekonomi di tingkat lokal.

“Ini sekaligus supaya memperbanyak produk lokal, uangnya, putarannya di lokal. Ini sudah batik, sudah minum, sudah makanan. Itu yang kita berdayakan di sini,” katanya.

KKMP Didorong Gandeng Hotel

Pemkot Jogja juga mendorong KKMP membangun kerja sama secara langsung dengan sektor perhotelan. Hotel dinilai dapat menjadi pasar bagi berbagai produk yang dihasilkan koperasi maupun produk lokal.

Produk yang dapat dipasarkan antara lain sandal, sabun, brown sugar hingga produk lokal lainnya.

“Temukan hotelnya sama kelompoknya, terus deal. Konkret. Beli brown sugar hotel belinya ke salah satu koperasi,” ujarnya.

Di sisi lain, Wakil Wali Kota Jogja Wawan Harmawan mengatakan pengembangan KKMP masih menghadapi tantangan dari sisi kesiapan sumber daya manusia (SDM).

Pembentukan koperasi yang berlangsung relatif cepat belum seluruhnya diikuti kemampuan pengurus dalam menjalankan kegiatan usaha. Menurut Wawan, KKMP harus dikelola oleh orang yang memiliki kemauan sekaligus kemampuan berbisnis.

Dia juga mengingatkan koperasi tidak serta-merta diarahkan untuk menjalankan usaha simpan pinjam apabila belum memiliki sumber daya dan kompetensi yang memadai.

Keterbatasan Lahan Jadi Kendala

Selain SDM, keterbatasan lahan menjadi tantangan lain bagi KKMP di Kota Jogja. Wawan mengatakan koperasi tidak harus selalu memiliki tempat usaha sendiri untuk dapat menjalankan aktivitas bisnis.

“Kita tidak perlu harus punya tempat dulu baru bisa bekerja. Konsepnya disesuaikan dengan kondisi Kota Yogyakarta karena memang tempatnya terbatas,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi, dan Usaha Kecil dan Menengah (Perinkop UKM) Kota Jogja Tri Karyadi Riyanto Raharjo mengatakan evaluasi telah dilakukan terhadap 12 KKMP yang hadir.

Hasil evaluasi menunjukkan baru empat KKMP yang telah memiliki omzet dan aktivitas usaha. Sementara sejumlah KKMP lainnya baru mulai menjalankan aktivitas usaha pada 2026 sehingga hasilnya belum seluruhnya tercatat dalam laporan pertanggungjawaban sebelumnya.

“Potensi-potensi lokal di masing-masing KKMP belum bisa tereksplor dengan optimal. Harapannya dengan adanya potensi lokal seperti pertanian, kampung wisata dan sebagainya, bisa didukung pemerintah melalui satgas-satgas OPD,” katanya.

KKMP Gowongan Harap Ada Fasilitas Sementara

Ketua KKMP Gowongan Suroto mengatakan keterbatasan tempat masih menjadi salah satu kendala dalam pengembangan koperasi. Dia berharap Pemkot Jogja dapat memberikan akses pemanfaatan fasilitas publik seperti Balai RW sebagai tempat sementara untuk menjalankan kegiatan KKMP.

“Kami berharap untuk tempat kami sangat kesulitan. Kami berharap, seperti Balai RW bisa diizinkan untuk tempat kami membangun KKMP sementara,” katanya.

Menurut Suroto, kebijakan menjadikan satu KKMP di setiap kecamatan sebagai pilot project juga dapat mendorong koperasi lain meningkatkan aktivitas usaha. Skema tersebut sekaligus dapat mendorong KKMP mengembangkan potensi yang dimiliki di masing-masing wilayah.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online