Kemarau Panjang Belum Ganggu Produksi Padi Kulonprogo, Petani Diminta Tak Tunda Tanam

Khairul Ma\'arif
Khairul Ma\'arif Selasa, 13 Oktober 2026 17:07 WIB
Kemarau Panjang Belum Ganggu Produksi Padi Kulonprogo, Petani Diminta Tak Tunda Tanam

Sejumlah petani sedang menanam benih padi di salah satu sawah di Kalurahan Ambarketawang, Gamping. Foto diambil 15 November 2024./Harian Jogja-David Kurniawan

Harianjogja.com, KULONPROGO—Produksi padi di Kulonprogo belum mengalami gangguan signifikan akibat kemarau panjang. Meski begitu, petani diminta memanfaatkan ketersediaan air irigasi secara efisien dan tidak menunda penanaman ketika lahan sudah siap.

Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapang) Kulonprogo menilai langkah antisipasi tetap diperlukan untuk menjaga keberlangsungan pertanaman padi di tengah risiko berkurangnya pasokan air selama musim kemarau.

Kepala Bidang Produksi dan Perlindungan Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Dispertapang Kulonprogo, Wazan Mudzakir, mengatakan kondisi pertanaman padi dan pasokan air secara umum masih relatif aman berdasarkan pemantauan dinas.

“Secara umum, kemarau panjang hingga saat ini belum menjadi faktor yang mengganggu produksi padi di Kabupaten Kulonprogo secara signifikan. Namun, ketersediaan air yang masih mencukupi saat ini tidak boleh membuat kita lengah,” kata Wazan saat dikonfirmasi, Selasa (13/10/2026).

Menurut Wazan, petani perlu menyesuaikan kegiatan tanam dengan kesiapan lahan dan jadwal pembagian air irigasi. Ketika jatah air telah tersedia, penanaman sebaiknya segera dilakukan agar tidak mengganggu jadwal pertanaman berikutnya.

Penundaan tanam berisiko membuat kebutuhan air pada fase pertumbuhan tanaman berikutnya tidak terpenuhi secara optimal. Karena itu, kedisiplinan mengikuti pola tanam dan penghematan air menjadi bagian dari upaya menjaga produksi padi.

“Intinya, ketersediaan air yang masih mencukupi saat ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Jangan menunda tanam ketika lahan telah siap dan giliran air telah tersedia,” ujarnya.

Antisipasi Kemarau di DI Kalibawang dan Sapon

Untuk mengantisipasi risiko kekeringan, Dispertapang Kulonprogo telah menerbitkan dua instruksi terkait pengelolaan pertanaman selama musim kemarau 2026. Instruksi pertama diterbitkan pada Juni, kemudian disusul instruksi pada 20 Agustus yang menekankan percepatan tanam dan efisiensi penggunaan air irigasi.

Perhatian khusus diberikan kepada wilayah layanan Daerah Irigasi (DI) Kalibawang dan DI Sapon. Kedua wilayah tersebut menjadi bagian penting dalam pengaturan pasokan air untuk kegiatan pertanian.

Wazan menjelaskan, berdasarkan informasi Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO), ketersediaan air di kedua daerah irigasi tersebut saat itu masih mencukupi kebutuhan tanam sesuai jadwal. Namun, kondisi tersebut tidak menjamin pasokan air akan selalu berada pada tingkat yang sama sepanjang musim kemarau.

Instruksi tersebut ditujukan kepada pemerintah kapanewon dan kalurahan, penyuluh pertanian, kelompok tani, serta kelembagaan petani pengelola air atau Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A).

Dispertapang juga berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menjaga distribusi air agar berlangsung tertib, adil, dan efisien.

Hingga saat ini, menurut Wazan, pola tanam dan musim tanam padi di Kulonprogo masih berjalan normal tanpa kemunduran jadwal. Meski demikian, perkembangan kondisi air tetap perlu dipantau agar petani dapat menyesuaikan kegiatan di sawah apabila terjadi perubahan pasokan.

Bagi petani, langkah yang dapat dilakukan adalah mengikuti jadwal pembagian air, segera menanam ketika lahan dan pasokan air siap, serta menggunakan air sesuai kebutuhan tanaman. Upaya tersebut diharapkan membantu mengurangi risiko gangguan produksi apabila kondisi kemarau berlanjut.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online