Kekeringan Ancam 30.000 Hektare Lahan, Kementan Siapkan Benih Tahan Kering

Catur Dwi Janati
Catur Dwi Janati Jum'at, 16 Oktober 2026 13:37 WIB
Kekeringan Ancam 30.000 Hektare Lahan, Kementan Siapkan Benih Tahan Kering

Ilustrasi, Sejumlah petani sedang menanam benih padi di salah satu sawah di Kalurahan Ambarketawang, Gamping, Sleman./Harian Jogja-David Kurniawan

Harianjogja.com, SLEMAN—Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi dampak kekeringan yang melanda sekitar 30.000 hektare lahan pertanian. Upaya mitigasi dilakukan melalui perbaikan irigasi, pengembangan benih tahan kekeringan, optimalisasi lahan, hingga pemanfaatan teknologi Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS).

Meski terdapat lahan pertanian yang terdampak kekeringan, pemerintah memastikan ketersediaan pangan nasional tetap aman. Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyebut stok beras yang tersimpan di gudang saat ini mencapai 4,5 juta ton.

"Laporan terakhir itu 30 ribuan, tapi itu insyaallah swasembada berkelanjutan aman, karena stok kita banyak," kata Amran pada Kamis (15/10/2026).

Menurut Amran, jumlah stok beras tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia untuk periode Oktober. Ketersediaan cadangan itu dinilai menjadi salah satu penopang ketahanan pangan di tengah ancaman kekeringan.

"Sekarang ini stok kita ada di gudang 4,5 juta ton. Ini tertinggi sepanjang sejarah di bulan Oktober itu 4,5 juta ton. Tidak pernah terjadi selama Republik ini berdiri," tuturnya.

Kementan Perbaiki Irigasi dan Kembangkan Benih Tahan Kering

Untuk mengurangi risiko kekeringan terhadap sektor pertanian, Kementan menjalankan sejumlah langkah mitigasi. Upaya tersebut mencakup pembibitan, perbaikan jaringan irigasi, optimalisasi lahan pertanian, serta pengembangan benih yang mampu bertahan dalam kondisi minim air.

Langkah-langkah itu ditujukan untuk membantu petani menghadapi keterbatasan air sekaligus menjaga produktivitas lahan. Penggunaan benih tahan kekeringan menjadi salah satu strategi untuk mendukung keberlanjutan produksi ketika kondisi cuaca tidak mendukung.

"Jadi, insyaallah dengan kekeringan ini, kita sudah melakukan pembibitan, perbaikan irigasi, ada optimalisasi lahan, kemudian benih tahan kekeringan," terang Amran.

Perbaikan irigasi menjadi bagian penting dalam upaya pengelolaan air untuk pertanian. Sementara itu, optimalisasi lahan dan pemilihan benih yang sesuai dengan kondisi lingkungan diharapkan membantu menekan dampak kekeringan terhadap hasil panen.

Teknologi PM-AAS Ditargetkan Tingkatkan Produktivitas

Selain memperbaiki infrastruktur dan mengembangkan benih, Kementan mengandalkan teknologi Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS) untuk meningkatkan produktivitas pertanian.

Amran menyebut penerapan metode Advanced Agriculture System (AAS) berpotensi meningkatkan produktivitas hingga dua kali lipat. Teknologi tersebut menjadi salah satu pendekatan yang digunakan pemerintah untuk memperkuat produksi pertanian di tengah risiko kekeringan.

"Produktivitas kita tingkatkan dengan metode AAS (Advanced Agriculture System) itu bisa naik dua kali lipat. Nah, langkah-langkah ini untuk memitigasi risiko kekeringan," imbuhnya.

Berbagai langkah tersebut menjadi bagian dari strategi Kementan untuk menjaga produksi pangan nasional tetap terjaga. Pemerintah menggabungkan penguatan stok beras dengan upaya di sektor produksi, mulai dari perbaikan irigasi hingga pemanfaatan teknologi pertanian modern.

Amran menyampaikan keterangan tersebut saat mengunjungi lahan Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) Universitas Gadjah Mada (UGM) di Sleman pada Kamis (15/10/2026).

Dengan sekitar 30.000 hektare lahan pertanian dilaporkan terdampak kekeringan, mitigasi menjadi penting untuk menjaga keberlanjutan produksi. Kementan berharap langkah-langkah yang disiapkan dapat membantu menekan risiko penurunan hasil panen sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online