Warga Kelurahan Patangpuluhan, Kota Jogja, Sulap Galon Bekas Jadi Produk Bernilai Jual

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Jum'at, 16 Oktober 2026 08:07 WIB
Warga Kelurahan Patangpuluhan, Kota Jogja, Sulap Galon Bekas Jadi Produk Bernilai Jual

Sejumlah warga sedang mengikuti pelatihan kerajinan limbah di Kelurahan Patangpuluhan, Kemantren Wirobrajan, Kota Jogja pada Selasa (15/9/2026)./Istimewa-Heri Istiyanto

Harianjogja.com, JOGJA—Kelurahan Patangpuluhan, Kemantren Wirobrajan, Kota Jogja, mendorong warga mengubah sampah menjadi produk kerajinan yang memiliki nilai ekonomi. Melalui pelatihan daur ulang pada Selasa (15/9/2026), galon bekas disulap menjadi tempat sampah berbentuk binatang dan bunga, sedangkan kain perca diolah menjadi tas serta dompet.

Program ini menjadi salah satu upaya pemerintah kelurahan untuk mengurangi persoalan sampah sekaligus membuka peluang peningkatan nilai ekonomi barang bekas di tengah masyarakat. Bahan yang sebelumnya dianggap tidak bernilai diharapkan dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk fungsional dan menarik untuk dipasarkan.

Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Patangpuluhan, Heri Istiyanto, mengatakan pelatihan tersebut dirancang agar masyarakat memiliki keterampilan mengolah limbah menjadi barang yang berpotensi menghasilkan pendapatan.

“Galon bekas kami berdayakan agar bisa menjadi barang yang menarik dan memiliki nilai jual. Dalam pelatihan ini, galon diubah menjadi tempat sampah dengan bentuk kreatif, seperti binatang dan bunga,” kata Heri ditemui di Kantor Kelurahan Patangpuluhan, Kamis.

Libatkan PKK dan Anggota Bank Sampah

Pelatihan kerajinan daur ulang tersebut diikuti 30 peserta dari Tim Penggerak PKK Kelurahan Patangpuluhan dan anggota bank sampah. Peserta dari TP PKK terdiri atas tiga perwakilan dari setiap RW.

Pelibatan kelompok pemberdayaan keluarga dan bank sampah diharapkan memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Sampah yang terkumpul tidak hanya dipilah, tetapi juga dapat diolah menjadi produk baru yang mempunyai nilai tambah.

Selain memanfaatkan galon plastik bekas, peserta mendapat kesempatan mengembangkan keterampilan mengolah kain perca menjadi tas dan dompet. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pemberdayaan masyarakat Kelurahan Patangpuluhan yang rutin dilaksanakan setiap tahun.

Kelurahan juga melibatkan instruktur yang memiliki keterampilan khusus di bidang kerajinan. Salah satu instruktur merupakan anggota perlindungan masyarakat (Linmas) Kelurahan Patangpuluhan yang juga berprofesi sebagai pengrajin kulit.

Warga Bawa Bahan Bekas, Kelurahan Siapkan Peralatan

Dalam pelaksanaannya, peserta membawa sendiri bahan bekas yang akan diolah menjadi kerajinan. Sementara itu, pemerintah kelurahan memfasilitasi narasumber, peralatan, dan perlengkapan yang dibutuhkan selama pelatihan.

Keterampilan yang diperoleh peserta selanjutnya dikembangkan untuk menghasilkan berbagai produk kreatif berbahan galon bekas. Hasil kerajinan warga juga mulai diperkenalkan dalam sejumlah kegiatan di tingkat kemantren untuk menjajaki peluang pemasaran.

Meski demikian, pemasaran produk hasil daur ulang tersebut belum mendapatkan fasilitasi secara khusus dari kelurahan. Pengenalan produk dalam berbagai acara menjadi salah satu cara yang telah dilakukan untuk memperluas kesempatan penjualan.

“Untuk pemasaran, produk hasil olahan ini memang belum kami fasilitasi secara khusus. Namun, beberapa kali produk sudah kami tampilkan dalam kegiatan, termasuk acara di kemantren, sekaligus mencoba memasarkannya,” ucapnya.

Bank Sampah Didorong Jadi Pusat Kreativitas Warga

Lurah Patangpuluhan, Dinda Kardina, menilai persoalan sampah di Kota Jogja membutuhkan penanganan inovatif yang dimulai dari hulu. Menurut dia, pengelolaan sampah perlu diperkuat sejak tingkat masyarakat agar bahan yang masih bisa dimanfaatkan tidak langsung berakhir sebagai limbah.

Karena itu, Dinda mendorong bank sampah di tingkat RW agar tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengumpulan sampah kering. Bank sampah juga diharapkan berkembang menjadi pusat kreativitas warga yang mampu menghasilkan produk kerajinan.

“Melalui pelatihan ini, kita ingin mengubah sudut pandang masyarakat terhadap sampah. Bahan-bahan residu maupun plastik kering yang awalnya dianggap tidak bernilai, di tangan para ibu kreatif dapat diubah menjadi barang kerajinan estetik yang memiliki nilai jual tinggi," kata Dinda Kardina.

Melalui pelatihan tersebut, Kelurahan Patangpuluhan menggabungkan upaya pengurangan sampah dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pengolahan galon bekas dan kain perca menjadi produk kerajinan diharapkan membuka peluang pemanfaatan limbah secara lebih produktif, sekaligus mendorong peran aktif warga dalam menjaga lingkungan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online