Fenomena Cahaya Surga Gua Jomblang Gunungkidul Memikat Turis Mancanegara

David Kurniawan
David Kurniawan Selasa, 03 November 2026 21:47 WIB
Fenomena Cahaya Surga Gua Jomblang Gunungkidul Memikat Turis Mancanegara

Aktivitas wisata di Gua Jomblang di Kalurahan Pacarejo, Semanu, Jumat (30/10). /istimewa Humas Pemkab Gunungkidul.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Fenomena cahaya surga menjadi magnet utama Gua Jomblang di Kalurahan Pacarejo, Semanu, Gunungkidul. Keindahan sinar matahari yang menembus area luweng tersebut membuat destinasi wisata ini lebih banyak dikunjungi wisatawan mancanegara dibandingkan wisatawan domestik.

Salah seorang pengelola wisata Gua Jomblang, Muhammad Yusuf Abdul Latif, mengatakan destinasi tersebut telah dikenal hingga mancanegara. Hal itu terlihat dari komposisi pengunjung yang mayoritas berasal dari luar negeri.

“Yang datang berkunjung mayoritas merupakan orang luar negeri. untuk wisatawan dalam negeri ada, tapi jumlahnya tidak banyak,” kata Yusuf, Selasa (3/11/2026).

Menurut dia, wisatawan mancanegara yang datang berasal dari berbagai negara. Waktu kunjungan mereka cenderung mengikuti musim liburan atau momen tertentu di negara asal.

Wisatawan dari Amerika dan Eropa, misalnya, banyak datang saat musim panas di wilayah masing-masing, yakni sekitar Juli-Agustus. Sementara itu, wisatawan asal Jepang biasanya berkunjung pada Oktober.

“Kalau turis asal Asia, khususnya etnis China dari Malaysia, Singapura dan lainnya datang bersamaan dengan momen perayaan Imlek,” kata Yusuf.

Sekitar 95% Pengunjung Berasal dari Luar Negeri

Dominasi wisatawan asing juga disampaikan inisiator destinasi wisata di luweng atau Gua Jomblang, Cahyo Alkantana. Dia menyebut hampir seluruh pengunjung yang datang merupakan wisatawan mancanegara.

“Tamu kita hampir 95% merupakan pengunjung asal luar negeri. Gua Jomblang sudah beroperasi sejak 25 tahun lalu dan sekarang menjadi salah satu destinasi unggulan di Gunungkidul,” kata Cahyo.

Cahyo menjelaskan jumlah kunjungan dapat mencapai 1.500 orang dalam sebulan ketika memasuki periode ramai. Adapun saat sepi, rata-rata kunjungan berkisar 700 orang per bulan.

Gua Jomblang merupakan destinasi wisata minat khusus sehingga tidak semua pengunjung bisa masuk secara bebas. Untuk menjaga kelestarian kawasan gua, pengelola membatasi jumlah kunjungan maksimal 200 orang per hari.

“Ada pembatasan karena menjadi bagian untuk menjaga kelestarian di area gua,” katanya.

Pengunjung Turun ke Gua Sedalam 90 Meter

Untuk menikmati keindahan Gua Jomblang, wisatawan perlu membayar tiket masuk sebesar Rp500.000 per orang. Pengunjung kemudian turun menggunakan peralatan khusus dengan kedalaman sekitar 90 meter.

Proses turun dan naik dilakukan menggunakan tali yang ditarik puluhan warga dari lingkungan sekitar. Saat berada di bawah, pengunjung dapat melihat hutan purba yang berada di dalam sinkhole.

Perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri bagian dalam gua menuju Luweng Grubug. Di lokasi inilah wisatawan dapat menyaksikan fenomena cahaya surga yang menjadi daya tarik utama Gua Jomblang.

“Cahaya surga menjadi daya tarik utama pengunjung yang datang ke Jomblang,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online