64 Kasus Leptospirosis di Kulon Progo, 7 Orang Meninggal
Dinkes Kulon Progo mencatat 64 kasus leptospirosis dan tujuh kematian sepanjang 2026. Petani menjadi kelompok paling rentan terpapar.
Foto ilustrasi kekeringan. - Magnific
Harianjogja.com, KULONPROGO—Hujan yang beberapa kali mengguyur wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) belum mampu mengakhiri kekeringan di Kulonprogo. Hingga Minggu (8/11/2026), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo masih melakukan distribusi air bersih ke delapan kapanewon yang mengalami krisis air.
Berdasarkan data terakhir BPBD Kulonprogo, kekeringan tersebar di 26 kalurahan dan 105 padukuhan. Sebanyak 235 titik distribusi air telah dilayani dengan total 898 tangki air atau sekitar 4 juta liter.
Belum pulihnya kondisi tersebut sejalan dengan penjelasan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) YIA mengenai dinamika atmosfer yang memengaruhi curah hujan di DIY. Madden-Julian Oscillation (MJO) yang sempat menguat pada akhir Oktober hingga awal November kini mulai melemah pengaruhnya terhadap wilayah Jawa.
Staf Prakirawan BMKG YIA, Rahmad Tauladani, mengatakan MJO saat ini masih berada di fase dua Samudra Hindia Barat Sumatera. Namun, pengaruhnya secara spasial terhadap wilayah Jawa sudah berkurang.
Menurutnya, penguatan MJO beberapa waktu lalu sempat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di Kulonprogo maupun wilayah DIY lainnya. Kini, pengaruh tersebut mulai menurun sehingga intensitas hujan yang sebelumnya dominan berangsur kembali normal.
"Saat ini MJO masih di phase 2 (samudera hindia barat sumatra), secara spasial sedikit mempungaruhi wilayah Jawa. Saat ini ada 2 yang mempengaruhi potensi pertumbuhan awan hujan di DIY, daerah konvergensi (pertemuan dan perlambatan massa udara) dan gel atmosfer yang secara spasial akan mempengaruhi wilayah Jawa. Namun akan terkonsentrasi di sekitar pegunungan seperti Menoreh Kulonprogo untuk awan hujannya, walaupun tidak menutup kemungkinan seluruh DIY akan hujan ringan," beber Rahmad saat dikonfirmasi, Minggu (8/11/2026).
Hujan Belum Cukup untuk Mengatasi Kekeringan
Rahmad menjelaskan hujan yang terjadi akibat gangguan atmosfer tersebut belum cukup untuk memulihkan sumber-sumber air yang mengalami kekeringan. Potensi hujan akibat pengaruh MJO masih berada pada kategori ringan, bukan sedang maupun tinggi.
Sejumlah wilayah seperti Sleman utara, Kulonprogo utara, dan Gunungkidul utara memang berpotensi mengalami hujan kategori sedang. Namun, kondisi tersebut belum cukup untuk memastikan ketersediaan air dapat kembali tertampung dengan baik.
Rahmad menyebut hujan yang terjadi belakangan ini dipengaruhi gangguan atmosfer yang berlangsung dalam waktu relatif singkat. Sementara itu, awal musim hujan di DIY diperkirakan berlangsung secara bertahap, dimulai dari wilayah utara.
"Hujan yang terjadi memang dari gangguan atmosfer yang terjadinya tidak panjang, baru akan memasuki awal musim hujan dasarian ketiga November di utara DIY, dasarian kesatu dan kedua Desember baru ke selatan," ujar Rahmad.
Dengan demikian, wilayah utara DIY diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada dasarian ketiga November. Adapun wilayah selatan baru menyusul pada dasarian pertama dan kedua Desember.
BPBD Masih Salurkan Air Bersih ke Wilayah Terdampak
Kondisi tersebut juga dirasakan BPBD Kulonprogo. Kepala BPBD Kulonprogo, Setiawan Tri Widada, mengatakan hujan yang sempat turun beberapa kali belum memberikan dampak signifikan terhadap kondisi kekeringan di wilayahnya.
Sampai sekarang, BPBD belum mencatat adanya pengurangan titik kekeringan. Distribusi air bersih juga masih dilakukan secara rutin karena hujan belum mampu meningkatkan debit sumber mata air maupun mengisi kembali sumur-sumur milik warga.
"Kekeringan masih tetap sama, hujan beberapa saat yang lalu belum berimbas bertambahnya debit air di sumber mata air maupun sumur sumur warga," ujar Setiawan.
Setiap hari, penyaluran air bersih masih melibatkan sejumlah instansi dan lembaga sosial. Selain BPBD Kulonprogo, kegiatan tersebut dilakukan bersama BPBD DIY, Dinsos, PMI, SAR Sigap, MDMC, dan lembaga sosial lainnya.
"Saat ini setiap harinya BPBD Kulonprogo, BPBD DIY, Dinsos dan lembaga-lembaga sosial seperti PMI, SAR Sigap, MDMC dan lainnya masih melakukan droping air di wilayah-wilayah yang masih mengalami kekeringan," imbuhnya.
Distribusi Air Terkendala Jalan Licin
Selain belum berkurangnya kebutuhan air bersih, kondisi cuaca juga menambah tantangan bagi petugas yang melakukan distribusi. Hujan yang turun justru membuat sejumlah akses menuju lokasi penyaluran air menjadi licin.
Setiawan mengatakan sebagian besar titik distribusi berada di kawasan perbukitan. Karena itu, petugas harus meningkatkan kewaspadaan ketika mengirimkan air bersih saat hujan turun.
"Pada saat terjadi hujan teman-teman yang melaksanakan droping air harus ekstra hati-hati karena sebagian besar lokasi droping air di wilayah perbukitan, kalau terjadi hujan jalan yang dilalui licin," jelasnya.
Hingga Minggu (8/11/2026), kondisi kekeringan di delapan kapanewon Kulonprogo masih membutuhkan penanganan melalui distribusi air bersih. Total 898 tangki dengan volume sekitar 4 juta liter telah disalurkan ke 235 titik yang tersebar di 26 kalurahan dan 105 padukuhan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dinkes Kulon Progo mencatat 64 kasus leptospirosis dan tujuh kematian sepanjang 2026. Petani menjadi kelompok paling rentan terpapar.
Napoli menahan Lazio 1-1 di Liga Italia 2026/2027. Hasil ini memutus lima kemenangan beruntun Lazio, tetapi mereka tetap di puncak klasemen.
Tanaka Hirataro Setiawan terpilih sebagai Ketua Pengcab Orado Bantul periode 2026-2030 dalam Muscab di Sleman.
Mentan Amran menegaskan bantuan alsintan gratis dan meminta masyarakat melaporkan dugaan penyimpangan melalui kanal Lapor Pak Amran.
PSS Sleman ditahan Bhayangkara Lampung FC 1-1. Hasil ini membuat Super Elja masih tertahan di peringkat ke-16 zona degradasi dengan lima poin.
Presiden Prabowo bertemu 10 mantan Kapolri di Hambalang, Bogor, Minggu (8/11/2026), untuk bertukar pandangan mengenai berbagai isu.