Resmi, Sekolah Tatap Muka DIY Dicoba April 2021
Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY menargetkan uji coba pembelajaran tatap muka untuk 10 sekolah tingkat SMA dan SMK di DIY dilaksanakan pada pertengahan April 2021.
Ilustrasi BPJS Kesehatan./Bisnis Indonesia-Nurul Hidayat
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL- Komisi D DPRD Gunungkidul akan memanggil jajaran BPJS Kesehatan cabang Gunungkidul terkait kejelasan kebijakan rujukan berjenjang. Pasalnya kebijakan ini disinyalir menyulitkan masyarakat.
"Kami akan memanggil BPJS Gunungkidul terkait hal tersebut, untuk meminta kejelasan bagaimana sebenarnya kebijakan itu berlaku, jangan sampai menyusahkan masyarakat," ucap Ketua Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Gunungkidul Herry Kriswanto, Rabu (10/10/2018).
Untuk diketahui, perubahan sistem dari manual ke online dalam rujukan berjenjang bagi pasien BPJS membuat kesulitan Rumah Sakit Daerah (RSUD) Wonosari.
Kepala Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID), RSUD Wonosari, Martono mengatakan awal pemberlakuan kebijakan ini menyulitkan masyarakat. Pasalnya server yang digunakan bsgitu lambat. Selain itu juga belum ada pendampingan dari pihak BPJS. "Tidak ada pendampingan dari pihak BPJS membuat kami sedikit mengalamai kesulitan," katanya.
Dikatakan Martono, setiap hari pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait mekanisme baru yang diterapkan oleh pihak BPJS tersebut. Setiap pasien lanjunya diarahkan mulai dari faskes lalu baru bisa dirujuk ke RS tipe D. Kemudian ke tipe C dan seterusnya. "Untuk Kami saat ini merupakan RSUD tipe C," katanya.
Adanya mekanisme baru ini kata Martono berdampak pada pengurangan jatah obat untuk penyakit tertentu sepeti darah tinggi. Pasalnya dengan mekanisme baru RSUD hanya diberikan jatah selama tujuh hari. "Lalu 23 hari lainnya harus mengambil obat ke apotek yang telah bekerja sama dengan BPJS," ucap Martono.
Meski demikian, hal tersebut diakui Martono tidak terlalu berdampak pada jumlah pasien di RSUD Wonosari. Hanya saja saat pasien menebus obat ke apotek, kebanyakan apotek belum siap.
"Awalnya ada penurunan karena kebijakan bersifat dadakan, jadi banyak pasien yang tidak tahu harus kembali ke faskes masing-masing, tetapi setelah itu normal kembali," ucapnya.
Hingga berita ini ditulis, Kepala BPJS Kesehatan cabang Gunungkidul, Syarifatun Karuniaekawati saat dihubungi belum bisa memberi keterangan lebih lanjut. "Nanti atau besok saja ya mas, ini masih rapat di Jogja," ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY menargetkan uji coba pembelajaran tatap muka untuk 10 sekolah tingkat SMA dan SMK di DIY dilaksanakan pada pertengahan April 2021.
Polresta Sleman bentuk tim khusus untuk selidiki kasus 11 bayi di Pakem, termasuk dugaan adopsi ilegal dan TPPO.
Grand Rohan Jogja kembali menghadirkan ruang apresiasi seni melalui pameran seni lukis bertajuk “The Beauty of Color”. Pameran ini resmi dibuka Senin (18/5)
Dua wakil Indonesia lolos ke babak utama Malaysia Masters 2026, drama kualifikasi warnai hasil di Axiata Arena Kuala Lumpur.
Samsung Messages resmi dihentikan Juli 2026. Pengguna Galaxy wajib pindah ke Google Messages. Simak cara backup data dan jadwalnya.
Gerbang Tol Trihanggo Sleman usung siluet Ratu Boko dan aksara Jawa, jadi ikon budaya baru di Tol Jogja–Solo.