Sarjana Harus Turun ke Desa dan Wilayah Terpencil

06 September 2013 12:24 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

[caption id="attachment_444905" align="alignleft" width="450"]http://www.harianjogja.com/baca/2013/09/06/sarjana-harus-turun-ke-desa-dan-wilayah-terpencil-444904/wisuda-ilustrasi-reuters-3" rel="attachment wp-att-444905">http://images.harianjogja.com/2013/09/wisuda-ilustrasi-reuters3.jpg" alt="" width="450" height="330" /> Ilustrasi wisuda sarjana (JIBI/Harian Jogja/Reuters)[/caption]

Harianjogja.com, SLEMAN– Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk mencetak lulusan yang menjadi agen perubahan di masyarakat bukan justru lulusan pencari kerja. Oleh karena itu, para sarjana harus mau untuk turun ke wilayah terpencil dan pedesaan.

Kritik tersebut disampaikan Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan saat menyampaikan orasi ilmiah pada pelaksanaan Dies Natalis Sekolah Pascasarjana (SPs) Universitas Gadjah Mada (UGM), Kamis (5/9/2013).

Anies mengatakan, untuk memenangkan masa depan bukan sekadar lulus dengan nilai atau indeks prestasi (IP) yang baik, tetapi juga bagaimana leadership skill, karakter dan etos kerja dapat diterima di masyarakat.

“Saya sering mengatakan kepada mahasiswa, lulus dengan indeks prestasi yang baik itu bagus tetapi harus diimbangi dengan skill yang memadai. Oleh karenanya, perguruan tinggi itu harus menghasilkan agen perubahan bukan justru penyedia tenaga kerja,” kata Anies di hadapan ratusan SPs UGM, Kamis (5/9/2013).

Selain itu, lulusan perguruan tinggi (PT) harus memiliki karakter dan integritas yang baik. Sebab, integritas jauh lebih baik dari sekadar kejujuran. Dalam konteks saat ini di mana di Indonesia praktik korupsi merajalela, integritas sangat dibutuhkan.

“Sudah saatnya kita bersama-sama menegakkan integritas dan kompetensi kelas dunia untuk membangun Indonesia yang lebih bersih di masa depan,” tukasnya.

Di tengah tantangan dunia modern sekarang ini, kata Anies, PT juga harus mengemban perannya sebagai “eskalator”, yakni menjembatani kesuksesan mahasiswa terutama dari keluarga kurang mampu.

Pasalnya, banyak mahasiswa dari keluarga kurang mampu ketika lulus dan bekerja menjadi tokoh dan pemimpin.

“Salah satunya Prof. Pratikno [Rektor UGM]. Dulunya beliau orang miskin dari Bojonegoro, namun kini bisa menjadi Rektor di kampus terbesar di Indonesia ini,” katanya.

Pratikno, kata Anies hanyalah satu contoh lulusan UGM yang berasal dari keluarga kurang mampu. Masih banyak lulusan UGM dari keluarga kurang mampu yang menjadi pemimpin.

“Banyak anak pintar dari keluarga yang kurang mampu, setelah lulus ia menjadi ‘orang’,”ujar alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UGM ini.