Bedah Laparoskopi, Operasi Cepat dan Luka Sayatan Lebih Kecil

12 September 2013 12:44 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

[caption id="attachment_446676" align="alignleft" width="450"]http://www.harianjogja.com/baca/2013/09/12/bedah-laparoskopi-operasi-cepat-dan-luka-sayatan-lebih-kecil-446675/operasi-dengan-laparoskopi-5" rel="attachment wp-att-446676">http://images.harianjogja.com/2013/09/OPERASI-DENGAN-LAPAROSKOPI-5.jpg" alt="" width="450" height="338" /> Kegiatan operasi dengan Laparoskopi di Rumah Sakit Jogja (JIBI/Harian Jogja/Abdul Hamied Razak)[/caption]

Berkat laparoskopi, luka bekas sayatan operasi tidak lagi besar. Bagaimana kerja alat tersebut? Berikut laporan wartawan Harian Jogja Abdul Hamied Razak.

Kedua tangan Yunada Hadiyono Riwukaho sangat piawai menggunakan peralatan operasi. Dokter konsultan bedah digestif di Rumah Sakit (RS) Jogja tersebut sedang menangani pasien usus buntu.

Yunada dibantu dua perawat. Sang dokter dengan teliti memeriksa setiap inci organ dalam tubuh sang pasien melalui monitor LCD di depannya.

Kamera video yang dilengkapi dengan sumber cahaya dengan peralatan bedah kecil-kecil itulah yang disebut laparoskopi. Alat-alat prosedur operasi masuk ke dalam bagian tubuh melalui selang kecil (trokar). Selang-selang kecil tersebut dimasukkan lewat sayatan.

Hebatnya, luas sayatan yang dibutuhkan hanya satu inci saja. Dengan peralatan tersebut, Yunada dapat melihat bagian yang perlu dioperasi melalui layar monitor.

Setelah menemukan organ yang dicari, peralatan bedah pun beraksi. Usus buntu pasien kemudian dipotong menggunakan laser. Sejurus kemudian, operasi appendiktomi atau memotong usus buntu pun selesai dilakukan.

“Dengan laparoskopi ini, waktu yang dibutuhkan untuk operasi menjadi lebih pendek. [Dalam kondisi tertentu], 30 menit operasi selesai. Efeknya kepada pasien juga baik,” ungkap alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) itu, Selasa (10/9/2013).

Berkat teknologi, saat ini bedah invasif minimal, luka bekas sayatan operasi tidak lagi besar. Sekadar diketahui, pada operasi bedah manual umumnya dokter menyayat bagian tubuh pasien sepanjang 10 centimeter.

Namun, dengan luka kecil melalui operasi laparoskopi, pasien tidak akan mengalami kerugian dari segi estetik pada tubuhnya. Jadi, kekawatiran mengalami kecacatan karena luka sayatan bekas operasi dapat dihilangkan.

Selain itu, waktu yang dibutuhkan untuk proses penyembuhan atau pemulihan peristaltik usus (pergerakan usus) pascaoperasi jauh lebih cepat. Bila umumnya pascaoperasi pasien dirawat hingga lima hari di rumah sakit, kata Yunada, dengan laparoskopi tersebut pasien sudah bisa pulang dalam waktu dua hingga tiga hari.

Menurut Yunada, selain untuk operasi usus buntu dan pengangkatan batu empedu, masih ada banyak tindakan medis yang bisa dilakukan melalui bedah laparoskopi tersebut.

Misalnya, operasi hernia baik yang kambuh setelah operasi maupun hernia pada anak, varises di belakang testis, dan tumor di usus besar ataupun operasi gondok. Kelebihan lain dengan operasi laparoskopi, dokter dapat melihat indikasi medis lainnya milik pasien.

“Biaya yang dibebankan kepada pasien bedah laparoskopi ditetapkan oleh Pemerintah Kota Jogja. Untuk saat ini, biaya tindakan bedah sekitar Rp3 juta. Jika di rumah sakit lain apalagi swasta, mungkin biayanya lebih besar. Tetapi, untuk pasien Jamkesmas tidak ditarik biaya,” kata Yunada.

Kepala Bidang Humas RS Jogja Dyah Widiastuti mengatakan, sejak memiliki laparoskopi banyak pasien yang dioperasi dengan cepat. Sementara ini, RS Jogja baru memiliki dua peralatan laparoskopi. Sudah puluhan pasien yang dioperasi dengan cara tersebut.

“Peralatan ini sangat membantu pasien dan RS Jogja satu-satunya RSUD yang memiliki alat ini,” ujarnya.