Puluhan Mahasiswa UNJ Kunjungi Harian Jogja
Sebanyak 63 mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bersama tiga dosen pendamping mengunjungi kantor Harian Jogja di Jalan AM Sangaji, Jogja, Kamis (21/5)
Wasdiya, sopir bus jurusan Wonosari-Jogja ikut mencalonkan diri menjadi anggota DPRD dalam Pemilu 2014. Berikut kisahnya yang dihimpun wartawan Harian Jogja, Ujang Hasanudin.
Seperti biasa setiap harinya, Wasdiya berteriak-teriak mencari penumpang di pinggir Jalan Simpang Empat Tegalsari, Kecamatan Wonosari, Kamis (6/2) siang. Bus yang dikendarainya masih dalam keadaan hidup dan terparkir di pinggir jalan.
Sejumlah penumpang jurusan Wonosari-Jogja sudah berada di dalam bus. Beberapa saat kemudian, meski banyak kursi yang masih kosong, Wasdiya siap memberangkatkan penumpang agar mereka tidak kecewa.
Namun sebelum menjalankan busnya, ayah dari dua anak ini tiba-tiba menghampiri penumpang satu persatu. Ia membagikan kartu namanya sambil memberitahu agar penumpang bisa memilih dirinya pada pemilu legislatif April mendatang.
Beragam respons dari penumpang saat Wasdiya berkampanye. Ada yang cuek, dan ada penumpang yang sempat menggodanya “Ada uangnya tidak,” kata salah satu penumpang wanita.
Pernyataan penumpang tersebut disambut dengan senyuman oleh Wasdiya. Ia bahkan dengan jujur tidak memiliki modal banyak untuk menjadi calon legislator.
Pria kelahiran Dusun Warak, Desa Girisekar, Kecamatan Panggang ini mengaku nekat nyaleg dengan modal tak banyak. Uang beberapa juta yang dikumpulkan dari hasil mengemudi bus saat ini bahkan sudah habis untuk memasang poster dan spanduk.
Caleg yang terdaftar di Daerah Pemilihan Wilayah Kecamatan Panggang, Paliyan, Saptosari dan Purwosari, dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini mengaku mencalonkan diri untuk memperbaiki nasib para sopir angkutan dan bus Jogja-Wonosari yang selalu terpinggirkan.
Selain itu, ia juga ingin mengangkat kesejahteraan petani, memperjuangkan infrastruktur yang belum lancar di wilayah Selatan Gunungkidul.
Wasdiya mengaku berkali-kali ia memperjuangkan melalui DPRD maupun Pemkab namun kondisi komunitas sopir masih belum diperhatikan. Dia berharap, jika duduk di kursi Dewan bisa memperjuangkannya. “Setidaknya saya ingin memperjuangkan para sopir angkot dan bus,” ucap dia sebelum membawa penumpang menuju Jogja.
Wasdiya juga mengaku tidak punya daya tawar dalam hal materi bahkan untuk memasang poster dan baliho saja teman-teman komunitas dan orang terdekatnya yang membantu. Pria yang sudah menjadi pengemudi bus sejak 1977 lalu ini untuk kampanye hanya melalui penumpang ke penumpang.
Sambil menjalankan busnya sesekali dia mengajak ngobrol penumpang di jalan maupun di terminal dengan harapan menyatukan visi misinya.
Setelah ngobrol-ngobrol dengan penumpang ia membagi-bagikan kartu nama. “Saya modal semangat saja, dengan dukungan keluarga, dan teman-teman,” kata dia
Dia optimistis bisa terpilih dengan alsan banyak komunitas, teman-teman maupun kenalan dari penumpang yang sudah sering bertemu dalam bus.
Purwanto, sopir bus Jogja-Wonosari lainnya mengapresiasi keinginan Wasdiya menjadi anggota DPRD Gunungkidul. Menurutnya, memang jarang sopir bus mau mencalonkan jadi anggota Dewan. Purwanto berharap Wasdiya bisa memperjuangkan rakyat kecil.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 63 mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bersama tiga dosen pendamping mengunjungi kantor Harian Jogja di Jalan AM Sangaji, Jogja, Kamis (21/5)
Kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2 di perairan utara Sumenep menewaskan lima orang. Sebanyak 232 korban berhasil dievakuasi.
Jadwal KRL Jogja-Solo Senin 3 Agustus 2026 lengkap dari Stasiun Yogyakarta hingga Palur. Tarif Commuter Line tetap Rp8.000.
Oknum anggota Polres Tanjab Timur, Bripka SO, dipatsus usai video dirinya berada di arena judi sabung ayam viral. Kasus masih didalami Propam.
Menpar Widiyanti menilai desainer berperan penting memperkenalkan budaya Indonesia melalui wastra sekaligus mendorong shopping tourism.
Bumkal Sumberharjo Sleman sukses memanen melon premium di tanah kas kalurahan. Pemkab Sleman menilai inovasi ini berpotensi meningkatkan ekonomi desa.