Awas, Udara Jogja Tidak Sehat

DEBU KUTOARJOWarga beraktivitas meskipun debu vulkanik akibat letusan Gunung Kelud masih menutupi Kutoarjo, Purworejo, Jawa Tengah, Sabtu (15/2). Dampak letusan tersebut, tidak hanya terasa di Kediri dan Blitar namun juga di daerah lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Barat. ANTARA FOTO/Rosa Panggabean -
19 Februari 2014 08:02 WIB Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Jogja yang belum bersih dari abu membuat kualitas udara menjadi tidak sehat. Dinas Kesehatan DIY mencatat, penyakit yang diakibatkan abu itu mengalami peningkatan.

“Kalau ada hujan dua hari berturut- turut baru aman,” kata Kepala Bidang Pencegahan Penanganan Masalah Kesehatan (P2MK) Dinas Kesehatan Pemerintah Daerah DIY Daryanto Chadorie, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (18/2/2014).

Per 17 Februari, Dinkes DIY mencatat penyakit akibat debu itu didominasi di wilayah Kota Jogja. Yakni, tercatat 289 orang terkena infeksi saluran pernafasan atas (ISPA), 37 orang iritasi mata, lima orang terkena penyakit paru obstruktif kronik, 42 orang paringitis, enam orang menderita diaera dan sembilan orang terkena penyakit kulit dermatitis.

Sementara laporan dari kabupatan yang ia terima baru dari Bantul, yakni 32 orang terkena ISPA dan 1 orang iritasi mata. Menurut dia, wilayah kota mendominasi karena merupakan pusat perekonomian. Selain itu, hujan yang turun beberapa hari lalu di pusat kota tidak begitu deras.

Dari hasil kerja sama dengan Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKL-PP) Jogja pada 15-16 Februari, ia mengatakan, kualitas udara di kota dinyatakan kurang sehat.

Sebabnya, partikel debu melebihi dari ambang batas 230 Mikron/24 jam. “Dari pemantauan itu partikel debunya mencapai 1.949,15 Mikron/meterkubik.”

Pemantauan kualitas udara itu dilakukan di sembilan titik dengan melibatkan tiga tim. Tim pertama di simpang tiga Prambanan, Adisutjipto, dan Ringroad Maguwoharjo. Tim kedua di Jalan Magelang, Jalan Kaliurang dan Jalan Monjali, sedangkan tim ketiga di antaranya di Jalan Godean, dan titik nol.

Pemantauan, menurut dia, dilakukan saat debu tebal bertebangan ke udara. Adanya gerakan Jogja bersih dengan kebersamaan, abu sudah berkurang. “Hanya waspada masih perlu dilakukan, karena abu belum benar- benar hilang,” ungkapnya.

Ia meminta agar warga mengurangi berpergian. Ketika menggunakan sepeda motor, wajib menggunakan masker, kacamata dan baju lengan panjang, serta sarung tangan agar terhindar dari penyakit tersebut.

Selain kewaspadaan dari kualitas udara, ia juga mengimbau warga agar melakukan penjernihan sumur. Sebab, sama dengan abu vulkanik Merapi, abu Gunung Kelud juga terdapat kadar besinya, sehingga bisa menyebabkan diare. “Penjernihan dapat dilakukan dengan memberi tawas atau PAC [Poly Alumunium Chloride],” ujarnya.