Kematian Ibu di DIY Tinggi karena Ini

23 Januari 2015 07:20 WIB Mediani Dyah Natalia Jogja Share :

Kematian ibu di DIY tinggi karena disebabkan sejumlah faktor.

Harianjogja.com, SLEMAN- Angka kematian ibu di DIY belum terlihat turun secara signifikan.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY, sepanjang tahun 2014 angka kematian ibu mencapai 40 kasus dari sebelumnya 46 kasus di tahun 2013. Namun angka tersebut sama dengan angka kematian ibu pada tahun 2012.

Di lima kabupaten/kota, angka kematian ibu yang mengalami penurunan ada di Kota Jogja, Kulonprogo dan Gunungkidul. Masing-masing menunjukkan tren menurun. Di Jogja hanya terdapat 2 kasus kematian ibu dari tahun sebelumnya ada 9 kasus. Kulonprogo terdapat 5 kasus, sedangkan Gunungkidul 7 kasus. Adapun penyebab kematian ibu beragam.

Rujukan Terlambat
Peneliti Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK), Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM), Laksono Trsinantoro mengatakan 60% kasus kematian ibu umumnya disebabkan keterlambatan rujukan. Menurut dia, upaya menurunkan angka kematian ibu perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak.

“Yang pastinya membutuhkan peran pemimpin di pemerintahan dan sektor kesehatan untuk mencegah kematian ibu,” kata Laksono dalam Dikusi Trend Kematian Ibu di DIY yang berlangsuing di Fakultas Kedokteran, Rabu (21/1/2015).

Komplikasi Penyakit
Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes DIY, Inni Hikmatin, sependapat penyebab kematian ibu akibat keterlambatan rujukan dari puskesmas atau bidan ke rumah sakit yang sudah dirujuk pemerintah yang dianggap handal dalam menangani kasus ibu melahirkan berisiko. Inni menyebutkan kematian ibu melahirkan dikarenakan komplikasi, pendarahan, penyakit jantung, syok, emboli, TB paru, asma, hyperthyroid.

“Kematian terjadi pada saat nifas dan masa kehamilan,” katanya.

Kontrasepsi dan Angka Kawin Usia Muda
Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo mengatakan tidak mudah menurunkan angka kematian ibu meski jumlah dokter spesialis kandungan di DIY bertambah dua kali lipat dibanding 10 tahun lalu. Sebab, kata dia, dukungan kepala daerah menurunkan angka kematian ibu melibatkan dokter spesialis kandungan sangat membantu.

Pengalamannya saat awal menjabat Bupati, Hasto menuturkan ia berhasil menurunkan kasus kematian ibu di Kulonprogo menjadi 3 kasus di tahun 2012. Salah satunya menyiapkan dokter spesialis kandungan siaga 24 jam. Namun keberhasilan penurunan angka kematian ibu harus didukung dengan keberhasilan mengurangi angka
kawin usia muda dan mensukseskan program keluarga berencana.

"Variabel yang paling dekat faktor kematian ibu ini bergantung keberhasilan pemakaian alat kontrasepsi dan angka usia kawin muda,” tegasnya.