DEMAM BERDARAH SLEMAN : Pasien Mayoritas Anak

JIBI/Desi SuryantoPetugas Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta melakukan pengasapan nyamuk yang bersarang di lingkungan perumahan penduduk di Kampung Gendeng Cantel, Muja-muju, Umbulharjo, Yogyakarta, Senin (23/12 - 2013). Pengasapan itu berupaya mengurangi populasi nyamuk yang membawa dan menularkan beragam penyakit seperti, demam berdarah, malaria, filariasis, encepalitis dan chikungunya. Selama sebulan terakhir ini sedikitnya sudah 21 warga Gendeng Cantel terserang chikungunya.
28 Januari 2015 15:40 WIB Sunartono Sleman Share :

Demam berdarah Sleman, pasien rata-rata anak berusia kurang dari 15 tahun.

Harianjogja.com, SLEMAN - Pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) di RSUD Prambanan Sleman meningkat tajam pada bulan Januari 2015. Secara umum pasien DBD di rumah sakit ini didominasi usia anak atau di bawah 15 tahun.

Kepala Seksi Pelayanan Medis RSUD Prambanan Maryadi menjelaskan memasuki pekan keempat bulan Januari jumlah DBD di RSUD Prambanan mencapai 27 kasus. Hal itu, kata dia, meningkat tajam dibandingkan dengan bulan-bulan biasa. Karena untuk Januari ada tren merupakan puncak dari DBD. Jumlah itu termasuk meningkat
dari Januari 2014 yang berada di angka 25 kasus untuk satu bulan.

Ia menambahkan dari 27 kasus itu rata-rata dapat segera tertangani. Karena pasien yang datang tergolong tidak terlalu parah. Sebagian besar pasien yang datang dalam perawatan normal. Hal itu, kata dia, ada kecenderungan masyarakat mulai memiliki pemahaman yang meningkat terkait kewaspadaan DBD.

"Rata-rata yang datang tidak telat, sehingga kondisinya tetap baik, saat ini tidak ada sampai syok. Masih rawat normal. Pemahaman masyarakat meningkat, biasanya sebelum masuk ke RS punya inisiatif dulu, kalau panasnya tidak turun-turun," ungkapnya Selasa (27/1/2015).

Kasus pada bulan Januari 2015 di RSUD Prambanan didominasi oleh anak-anak di bawah usia 15 tahun. Usia anak sangat dimungkinkan mudah terserang DBD karena tingkat kekebalan tubuhnya tergolong rentan.

"Sebagian besar warga Sleman wilayah timur yang masuk ke kami. Memang ada beberapa dari Klaten karena perbatasan," imbuhnya.

Terpisah Kepala Dinas Kesehatan Sleman Mafilindati Nuraini mengakui bulan Januari dan Februari memang kerap menjadi puncak kasus DBD setiap tahunnya. Sehingga musim-musim saat ini memang sangat rentan serangan DBD. Karena itu melalui berbagai tenaganya di lapangan sudah mensosialisasikan ke masyarakat. Agar selalu melakukan pemantauan dan tanggap ketika ada anggota keluarga yang tiba-tiba terserang demam.

Kendati demikian, lanjutnya, masyarakat perlu memahami bahwa tidak semuanya demam adalah DBD. Setiap virus yang masuk ke tubuh memang selalu menimbulkan demam. Tetapi tak ada salahnya ketika masyarakat selalu mewaspadai.

"Cobalah langsung ke medis ketika demam sehingga bisa langsung dilakukan tindakan perawatan. Kami sudah siagakan tenaga medis di lapangan untuk menangani ini [DBD] di musim-musim ini," tegasnya.

Kasus DBD di Sleman pada 2014 sendiri cenderung menurun menjadi 250 kasus dibanding tahun 2013 yang mencapai 280 kasus. Dari data kedua tahun itu prosentase penyumbang kasus tertinggi yaitu bulan Januari dan Februari atau lebih familiar dengan musim penghujan.