AIR BERSIH DI JOGJA : Pemerintah Siapkan 20 Lokasi Penyediaan Air Bersih

17 Maret 2015 05:20 WIB Redaksi Solopos Jogja Share :

Air bersih di Jogja akan ditambah 20 lokasi penyediaannya, serta penyehatan lingkungan

Harianjogja.com, JOGJA- Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah Kota Jogja menyiapkan empat paket pekerjaan penyediaan sarana prasarana air bersih dan penyehatan lingkungan yang akan tersebar di setidaknya 20 lokasi.

"Tujuan kegiatan ini adalah untuk mendukung pemenuhan kebutuhan air minum bagi masyarakat, khususnya masyarakat berpenghasilan rendah," kata Kepala Bidang Permukiman dan Saluran Air Limbah Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) Kota Jogja, Hendra Tantular, Minggu (15/3/2015).

Menurut dia, Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah Kota Jogja akan memasang peralatan "treatment" dan "reverse osmosis" (RO) yang ditempatkan di sumur milik warga, khususnya sumur yang berada di tempat mandi cuci kakus (MCK) komunal.

Peralatan tersebut, lanjut Hendra, dapat digunakan untuk menyaring berbagai partikel dan bakteri yang terkandung di air sumur sehingga air sumur yang dikonsumsi menjadi lebih bersih dan memenuhi baku mutu kesehatan.

"Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh beberapa pihak, air sumur warga banyak mengandung bakteri e-coli. Harapannya, dengan adanya peralatan RO itu, air menjadi lebih sehat dan layak dikonsumsi," katanya.

Pada tahun 2015, program penyediaan sarana dan prasarana air minum tersebut terbagi dalam empat paket. Paket pertama ditujukan untuk Kecamatan Tegalrejo, Jetis, Gedongtengen dan Ngampilan.

Paket kedua ditujukan untuk Kecamatan Gondokusuman, Danurejan dan Kelurahan Prawirodirjan yang berada di Kecamatan Gondomanan. Paket ketiga untuk Kecamatan Mantrijeron, Kelurahan Ngupasan di Kecamatan Gondomanan dan Kelurahan Wirogunan di Kecamatan Mergangsan.

Paket keempat ditujukan untuk Kecamatan Umbulharjo, Kotagede, dan Kelurahan Brontokusuman di Kecamatan Mergangsan. "Setiap paket, diberikan kuota pemasangan RO di lima titik," katanya.

Hendra menambahkan kegiatan penyediaan sarana dan prasarana air minum tersebut sudah dilakukan sejak 2007. Sampai saat ini, pemerintah sudah memasang peralatan itu di 276 titik.

"Sayangnya, belum semua kelompok masyarakat yang diberi peralatan bisa memeliharanya dengan baik. Ada beberapa bagian dari peralatan yang harus diganti secara rutin agar partikel dan bakteri bisa tersaring. Jika tidak, maka peralatan bisa rusak. Ini yang terjadi di masyarakat," katanya.

Ia berharap kelompok masyarakat yang mengelola sarana dan prasarana air minum tersebut dapat melakukan penguatan organisasi sehingga pemeliharaan peralatan bisa dilakukan dengan lebih baik.